prolog

19 3 0
                                        

Rachel dan Luna adalah dua nama yang hampir selalu disebut ketika membicarakan murid berprestasi di sekolah mereka.

Rachel dikenal sebagai salah satu atlet terbaik di sekolah, terutama dalam olahraga basket. Tingginya yang semampai, pembawaannya yang percaya diri, dan wajahnya yang cukup tampan untuk ukuran seorang perempuan membuat Rachel menjadi pusat perhatian.

Bukan hanya laki-laki yang mengaguminya. Banyak perempuan di sekolah yang diam-diam menyukai Rachel.

Berbeda dengan Rachel, Luna lebih dikenal karena prestasinya di bidang matematika. Ia sering mewakili sekolah dalam berbagai olimpiade dan hampir selalu pulang membawa penghargaan.

Wajahnya yang cantik, tutur katanya yang lembut, serta sikapnya yang anggun membuat Luna juga tidak pernah benar-benar sepi dari perhatian.

Mereka berdua sama-sama populer.

Sama-sama berprestasi.

Dan sama-sama tidak pernah menyangka bahwa suatu pagi yang terburu-buru akan membuat mereka saling mengenal.

"Duh, telat!"

Rachel berlari menyusuri lorong sekolah dengan napas yang mulai tersengal.

"Kenapa sih gue bisa bangun kesiangan hari ini?"

Ia terus berlari tanpa memperhatikan keadaan di depannya.

Dari arah berlawanan, seseorang juga sedang berjalan cepat sambil membawa beberapa buku.

Bruk!

Tubuh Rachel dan Luna bertabrakan.

Beberapa buku yang dibawa Luna langsung jatuh berserakan di lantai.

Rachel refleks memegang bahunya.

"Aduh..."

Luna menatap buku-bukunya yang berserakan, kemudian menatap Rachel.

"Lo nggak bisa jalan pakai mata?"

Rachel yang awalnya ingin meminta maaf langsung mengernyit.

"Hah?"

"Gue bilang, jalan itu pakai mata."

Rachel menatap perempuan di depannya dari atas sampai bawah.

"Lo juga lagi lari, kan?"

"Gue nggak lari."

"Terus kenapa bisa nabrak gue?"

"Karena lo yang datang dari arah berlawanan sambil lari kayak orang kesurupan."

Rachel terkekeh sinis.

"Galak juga."

"Dan lo berisik." timpal Luna

Rachel langsung jongkok untuk membantu mengambil buku-buku Luna. Luna menerima bukunya tanpa mengucapkan apa-apa.

"Udah, kan? Beres."

"Belum."

Rachel mengangkat alis.

"Apalagi?"

"Buku gue yang satu lagi."

Rachel melihat ke bawah.

Satu buku tergeletak beberapa meter dari mereka. Rachel mengambilnya lalu menyerahkannya.

"Nih."

Luna mengambil buku itu.

"Makasih."

Rachel mengangguk kecil.

"Sama-sama."

Mereka sempat diam. Sampai akhirnya bel sekolah berbunyi, Luna melihat jam tangannya.

"gue harus pergi."

Rachel ikut melihat jam.

"Anjir!"

mereka berdua langsung berlari ke arah yang sama setelah berpapasan di lorong tadi.

bagi Luna, Rachel adalah manusia berisik yang selalu menggangunya sedangkan bagi Rachel, Luna adalah hal seru yang bisa ia jahili setiap saat.

I Love my Enemy Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora