Di Antara Laut, Kabut, dan Jejak Bintang di Langit Malam (Bagian Pertama)

21 3 6
                                        




Milord menghilang.



Seperti halimun yang buyar terempas angin latiskan harum embun ke udara, pun juga dengan dirinya: tetiba pergi, sisakan wanginya di kamar tempat kami pernah berbagi segalanya.

Ia tahu-tahu menghilang begitu saja bersama dengan nyaring sirine ambulans yang lari tunggang-langgang tepat setelah insiden yang terjadi di Gelanggang Pacuan Tegalwaton, trek wingit tempat dihelatnya Jateng Derby—ajang yang sedianya menjadi titik mula bagi kami, para gadis kuda yang memimpikan gelar tertinggi: Tiga Mahkota.



["Milord, King Argentin, dan Wonder Land!"]



Ironis memang. Langkah pertama kami untuk menggapai puncak mimpi tertinggi justru digelar di gelanggang pacuan yang terkenal paling berbahaya, sebab tempat itu telah patahkan begitu banyak impian dari para gadis kuda yang tak berdosa.Sudah tak terhitung lagi berapa banyak teman—bahkan senior serta junior—yang terpaksa mengubur pupus mimpi mereka lalu pergi dan tak kembali lagi ke akademi setelah berlari di sana.



["Milord! King Argentin! Wonder Land!"]



Masih terngiang jelas di telingaku, lantangnya suara si penyiar dari menara pengawas bercampur dengan riuh rendah sorakan penonton yang bergemuruh meneriakkan namaku, Milord, dan Wonder Land tepat sebelum tajamnya tikungan di dua ratus meter terakhir yang menentukan siapa pemenang-siapa pecundang di antara kami bertiga.



["Kita nantikan, saudara-saudara, siapakah yang akan jadi juara Jateng Der—"]



Tepat pada saat itulah, segalanya berubah jadi mimpi buruk yang paling nyata. Semua terjadi begitu cepat di antara detak waktu yang seolah melambat di duniaku yang mendadak senyap serta kehilangan warnanya. Ingar bingar aneka rupa suara yang tadinya membahana getarkan udara mendadak lenyap seketika; cerah cemerlang ragam rona yang warnai dunia pun tempias, meluntur begitu saja.

Tak lagi terdengar derap langkah para gadis kuda yang saling sikut sampai deru mengah napas penghabisan demi raih kemenangan. Tak terdengar lagi bahana gema teriakan si penyiar yang membakar suasana di puncak momen penentuan. Bahkan, riuh sorak-sorai euforia para penonton yang mestinya mengelu-elukan nama sang pemenang seketika lenyap entah ke mana.



["King... Argentin!"]



Di antara kerasnya degup jantung dan deru mengah napasku yang tidak beraturan, sorak si penyiar terdengar berdeguk bagai terperangkap oleh selubung air yang memenjarakan.


"Hah—aku... aku menang?"


Ayah, aku menang!

Naabot mo na ang dulo ng mga na-publish na parte.

⏰ Huling na-update: Sep 22 ⏰

Idagdag ang kuwentong ito sa iyong Library para ma-notify tungkol sa mga bagong parte!

Towards Untouched SkyMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon