Prolog

359 30 0
                                        

Selamat Datang dicerita Pertama aku yah, Ini cerita Khusus Hearts2hearts Dan ini akun kedua aku ya.

Ini akun Pertama nzaazy

Selamat membaca
Thank you.

Selamat membaca Thank you

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


•

•

•

Ada beberapa hal di dunia ini yang tidak pernah bisa kita ulang, Ucapan yang terlanjur keluar, Waktu yang terlanjur habis Dan orang yang terlanjur kita lepaskan.

Malam itu, mereka bertiga belajar tentang kata "terakhir" dengan cara paling menyakitkan.

|Penerbangan Terakhir

Bandara Internasional Toronto, Kanada.

Jam 11 malam.

Salju tipis turun di luar kaca, Bukan salju yang indah seperti di film-film. Ini salju yang dingin, bisu, dan menempel di jendela seperti air mata yang tidak jadi jatuh. Di dalam, lampu bandara terlalu terang dan terlalu dingin. Terang sampai membuat bayangan kami terlihat pucat. Dingin sampai membuat napas menggantung di udara setiap kali mereka menghembuskannya.

Pengumuman menggema, memantul di dinding marmer dan menembus ke tulang.

"Flight GA-88 to Jakarta with transit in Singapore. Final call. Flight GA-88 to Jakarta, final call."

Final call.

Dua kata itu terdengar seperti vonis.

Di kursi VIP, ada tiga gadis dengan koper branded dan hoodie abu-abu yang sama. Identik. Seolah kami kembar Tapi kami bukan.

Wajah kami mirip, Hidung yang sama dari Ibu. Mata yang sama dari Ayah. Bibir yang suka menggigit kalau gugup Tapi auranya beda semua.

Yang disebelah kiri ada, Carmen Adelia Dirgantara, 18 tahun. Si sulung. Duduk paling tegak. Laptop kebuka, tapi matanya kosong 10 tahun di Kanada. Hari ini hari terakhir. Carmen menatap lurus kedepan, dagunya terangkat tangannya mencengkram pegangan koper sampai buku-buku jarinya putih, Diwajahnya tidak ada air mata, tidak ada karena Carmen sudah berjanji pada dirinya sendiri, dia anak pertama yang paling kuat yang paling sering dipaksa kuat.

Yang disebelah kanan ada, Eina Adelia Dirgantara, 17 tahun, si Tengah. Earphone sebelah lepas, sebelah lagi masih nyala. Dia menunduk menatap layar ponsel yang sudah mati sejak 2 jam yang lalu, jarinya mengusap casing itu pelan seolah disana masih ada pesan yang belum sempat dia balas, Eina anak tengah, yang paling lembut dan berisik, yang paling disakiti karena terlalu lembut.

Dan ditengah ada, Ian Adelia Dirgantara, 16 tahun. Si bungsu. Nggak bisa diem. Foto-foto bandara, upload story, terus hapus lagi. tangannya sedikit gemetar bukan karena dingin tapi dia yang dari tadi menghitung mundur dikepala menghitung berapa lama lagi sebelum kami bertiga benar-benar meninggalkan tempat ini, dan menghitung berapa lagi sebelum "Rumah" jadi kata asing.

"Capek banget sih jadi orang kaya yang harus pindah-pindah," gumam Ian lirih.

"Jam 11.30 boarding," kata Carmen pelan. Suaranya datar. "Siap?"

Eina langsung duduk manis. "Siap, Kak."

Ian cuma angguk, terus narik hoodienya nutupin muka Efek ngantuknya mulai kerasa.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun mereka hidup dengan nama palsu, sekolah palsu, dan cerita palsu.

Daddy mereka konglomerat. Musuh bisnisnya banyak. Makanya mereka disembunyiin di Kanada.
Sekarang bahayanya udah lewat. Sekarang mereka harus "pulang".

Hanya mereka bertiga yang Pulang, Kedua Orang tuanya? Sudah lama Tiada, Meninggalkan tiga anak yang harus nerusin bisnis orang tuanya.

Pulang ke Indonesia. Ke rumah besar yang bahkan belum pernah mereka tinggali. ke sekolah baru, ke teman baru, ke topeng baru.

"Tangan," bisik Carmen, ngulurin tangannya di tengah mereka bertiga.

Eina langsung genggam. Ian ragu sedetik, lalu ikut.

Tiga bersaudara. Satu tim.

"Kita janji ya," kata Carmen. "Di Indonesia, kita jaga rahasia ini. Siapapun kita di sana... kita bukan kita yang di sini."

"Terus kita siapa?" tanya Eina kecil.

Carmen senyum tipis. "Putri konglomerat yang sempurna. Nggak boleh ada celah."

Di belakang mereka, Kanada.
Di depan mereka, Indonesia. Dan semua rahasia yang harus mereka kubur.

Eina ngeliat keluar jendela sekali lagi.
"Semoga di sana nggak serumit di sini," gumamnya.

Ian nyengir. "Yang penting ada WiFi, Kak."

Carmen nggak jawab. Karena di kepalanya, ada satu kalimat yang nggak berhenti:

"Bagaimana kalau kita jatuh cinta di tempat yang nggak boleh kita jujur?."

Pintu boarding terbuka, Pintu kehidupan baru terbuka, Pramugari tersenyum profesional. "Welcome aboard, ladies."

Kami berdiri bersamaan Langkah pertama terasa berat, Seperti ada rantai yang menarik kaki kami ke belakang. Langkah kedua lebih ringan, Karena di depan sana ada Jakarta, Ada matahari. Ada bahasa yang tidak perlu kami terjemahkan.

Tapi langkah ketiga... Langkah ketiga membuat Carmen menoleh sekali lagi.

Ke belakang, kegerbang keberangkatan yang kosong, kekursi tempat orang tua mereka dulu duduk menunggu kami, dengan tiga gelas kopi dan satu alasan untuk bertahan.

Yang ada hanya... kami bertiga.
Dan luka yang akan kami bawa pulang ke Jakarta. Dan lampu lampunya seperti kunang-kunang yang perlahan mati.

Carmen memejamkan mata, menahan sesak dadanya dan mata yang berkaca-kaca, Eina menghela nafas berat dia sedikit menundukkan kepalanya kebawah, Ian tersenyum tipis tersirat luka yang mendalam, kedua tangannya terkepal erat disamping.

"Selamat tinggal, Untuk terakhir kalinya.. kami akan merindukanmu mommy daddy." lirih mereka bertiga.

Karena beberapa perpisahan... memang harus dilakukan di udara.
Agar saat kita mendarat, kita sudah menjadi orang yang berbeda

•

•

•

•

•

Three Loves (h2h)Stories to obsess over. Discover now