3 Tahun kemudian.
Hembusan angin di pagi hari terasa menyejukkan menerpa lapisan kulit paling luar, demikian pula dengan sinar matahari yang menyorot hangat membuat embun pagi mulai mencair membasahi hamparan bunga tulip di taman kota Turki. Keadaan masih lenggang, tidak banyak warga kota yang mendatangi taman pada pukul 6 pagi.
Sehelai daun terlepas dari ranting karena usianya yang telah menua, daun tersebut terbang melayang mengikuti arah angin membawanya pergi. Hingga langit sedikit memberi atensi pada daun yang akhirnya jatuh karena menolak untuk terus pergi dan memilih jatuh sebagai pemberhentian terakhir.
Aku ... Menengadah menatap luasnya langit yang masih memoleskan cahaya jingga dengan biru yang indah, aku mengangkat kamera berniat untuk memotret betapa indahnya lukisan Tuhan saat ini di depan mataku.
Ckrek!
Tangkapan lukisan Tuhan ku dapat sebanyak 3 buah, aku tersenyum tipis ketika melihat lekat warna oranye-jingga yang mengingatkan ku pada sesuatu hal.
Hal yang sudah seharusnya bisa aku lupakan dengan tenang, aku buang begitu aku tahu bahwa aku telah mengembalikan apa yang pernah dia berikan padaku. Tidak bisa ku pungkiri bahwa setidaknya sekarang aku bisa bernafas dengan sedikit lega, karena berada di kota Turki membawaku pada suasana yang tenang dan nyaman. Aku lagi-lagi tersenyum kala ku lihat kamera milikku berhasil menangkap potret indahnya lukisan Tuhan pada langit kota Turki.
Burung merpati nampak terbang kesana-kemari beberapa di antaranya ada yang turun untuk mencari makan pada sela batu paving blok, aku menggerakkan kamera ku lagi menyoroti sekumpulan merpati itu.
"Berdiri di sana Dunk!"
"Ya bagus, tahan bentar! Coba senyum??"
Ckrek!
Jantungku berdetak kencang.
Debaran yang familiar ku rasa ketika memori itu datang memaksa masuk dan memutarnya kembali sebagai kenangan manis yang menyakitkan, aku menghela nafas. Ini sudah 4 tahun, benar.
4 tahun sejak aku memutuskan untuk meninggalkan Dunk sendirian bersama kenangan terakhir ku di sana, di Thailand. Beberapa Minggu yang manis ku berikan, aku sengaja menumpahkan banyak perlakuan kasih sayang dan juga untaian kata-kata cinta. Karena aku ingin membuatnya jatuh cinta padaku, aku ingin Dunk merasakan cinta yang sama besarnya seperti yang aku rasakan persis saat aku berharap bahwa dia mau mengakui kalau dia pun mencintaiku, dia memiliki perasaan yang sama denganku.
Namun dia justru memilih untuk menikahi orang lain, yang bahkan aku kenal. Dan bodohnya, ku pikir mereka dekat hanya sebatas pada kata teman. Justru sebaliknya, aku lah yang terlalu bodoh karena menganggap hubungan ku dengan Dunk lebih dari sekedar teman.
Aku menertawai diriku sendiri saat ini, bagaimana bisa aku berharap kalau waktu itu dia mau memperjuangkan siapa kita sebenarnya-ah bukan, maksudku perasaan ku sendiri ya hanya aku sendiri bukan yang mencintainya?
Tak ingin terlalu berlarut-larut dalam memori itu, aku memilih untuk berjalan sejenak menyusuri trotoar sembari berpikir menu apa yang cocok untuk ku makan di pagi hari yang lumayan cerah ini.
Aku menatap salah satu toko roti yang sudah buka dan baru saja memutar balikkan tanda 'closed-open' tepat saat aku melewati depan pintu masuk. Aku memutuskan untuk berhenti dan masuk ke dalam, melihat-lihat banyak roti manis yang tersaji hangat pada etalase toko.
Salah satunya sepotong kue berbentuk bulat dengan taburan coklat dan remahan kacang berikut namanya yang lagi-lagi membuatku hampir tersandung batu kenangan yang bisa menghancurkan mood makanku pagi ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pemberhentian Terakhir
Fiksi PenggemarSequel dari Fall In Love Again. ini bukan lagi tentang kisah cinta, melainkan bagaimana seseorang memilih keputusan antara tetap menaiki kereta untuk terus pergi menjauh atau ... berhenti pada pemberhentian terakhir.
