PROLOG

8 0 0
                                        

"Ka, lo didalem?"

"Hem, masuk aja," jawab Arkha, laki-laki yang sekarang duduk di bangku meja belajarnya.

Dari ekor matanya dapat Arkha lihat, Bintang—saudara tirinya yang berusia sama dengannya—berjalan masuk kedalam kamarnya, mendekat, berdiri tepat dibelakang kursi yang ia duduki.

"Ngapain?" Tanya Bintang sambil mencondongkan tubuh kearah meja belajar Arkha.

Arkha melirik malas, "belajar lah! Pake nanya."

"Oh," Bintang memundurkan tubuhnya.

"Kalau gaada kerjaan mending lo keluar, gue mau belajar." Arkha kembali fokus ke buku didepannya. Ngomong ngomong sebenernya Arkha bukan tipe anak ambis, sekarang ini ia cuma ngerjain PR ga lebih. Tapi tetep aja, kalau ada Bintang Arkha jadi ga konsentrasi.

"Keluar sana," Ucapnya lagi, sambil melirik Bintang yang sedari tadi mondar-mandir didalam kamarnya.

Bintang yang sebelumnya hendak mengambil koleksi action figur milik Arkha yang ada didalam lemari kaca langsung terhenti. Laki-laki itu berdecak.

"Apasih, gue gabakal ganggu," ucapnya sambil melirik sinis, kemudian membanting tubuh keatas kasur Arkha.

Melihat itu Arkha hanya berdecak, kemudian kembali mengerjakan tugas sekolahnya dengan tenang. Tapi siapa sangka, kerandoman Bintang ternyata tidak hanya sampai disitu.

Diatas kasur king size milik Arkha laki-laki itu seperti kerasukan. Guling-guling dilempar kesana-kemari, mukulin bantal guling Arkha kasar, kemudian tiba-tiba teriak sambil membenamkan wajahnya diatas bantal.

"Woi tolol! Lo sebenernya kenapa sih?!" Arkha membanting penanya kesal. "Kalau ada masalah ngomong! Gausah bertingkah kaya orang gila!"

"Kalau marah Gausa toxic bisa ga?!"

Arkha langsung mengelus dadanya sabar. Sebagai seorang kakak, yah walaupun kakak tiri, Arkha ini seperti sudah mengerti dengan sifat Bintang yang memang kadang kekanakan dan suka semaunya.

"Okey, sorry," Arkha mengulas senyum malas, laki-laki itu memutar bangku belajarnya kearah sang adik tiri. "Sekarang ngomong, lo mau apa? Kalo ga pending keluar! Gue masih punya PR!"

Bintang terdiam. Sepertinya sedang berfikir.

"G-gue mau curhat—"

"Oh jadi Tyas beneran pacaran sama Nhakusa?" Arkha manggut-manggut, tapi Bintang langsung berdecak.

"Bukan itu!"

"Jadi apa?"

"Kayanya gue homo."

"Oh, gapapa gue jug—eh apa?!" Mata Arkha langsung melotot. Dengan cepat Arkha bangkit mendekat, kemudian ia memegang kedua pipi Bintang dengan tatapan tak percaya. "Tadi lo bilang apa?! Homo?!"

Bintang mengangguk kurang yakin.

Melihat itu Arkha langsung mundur, ia menatap saudaranya itu was-was.

"Bintang, lo yakin?"

"G-gatau... Gue juga ragu," jawab laki-laki itu sambil menatap lantai putih dibawah.

Ditempatnya Arkha sudah speaccles. Sumpah, dia udah kenal Bintang sejak kelas 8 SMP, dan sejauh ini saudara tirinya itu terlihat normal-normal saja. Bahkan masih beberapa Minggu lalu saudaranya tirinya itu curhat tentang cewek bernama Tyas yakni cewek incarannya.

Dari posisinya, Arkha menatap Bintang dari atas hingga bawah. Hem... Dari perawakannya, Bintang juga bukan tipe cowok feminim. Jelas engga. Tinggi saudara tirinya itu normal, hanya berbeda beberapa cm dibawahnya, tapi tetap saja Bintang masih tergolong tinggi.

Sifatnya apalagi, mana ada feminim-feminimnya, bahkan masih teringat beberapa bulan lalu mereka sempat bertengkar hebat hingga berujung tonjok-tonjokkan. Yah walaupun akhirnya setelah aksi tonjok-tonjokkan Bintang jatuh demam.

"Lo beneran belum yakin?" Tanya Arkha pelan. "Papa tau?"

Lagi-lagi Bintang berdecak, "yakali gue spek up ke papa kalau gue aja belum yakin!"

Arkha mengangguk mengerti.

Sekarang keduanya terdiam, berisik dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, entah bagaimana Arkha mendapatkan sebuah ide dari kepalanya.

Laki-laki yang lebih tua dua bulan dari Bintang itu melangkah mendekat.

"Gue punya saran, aga aneh." Ucapnya dengan nada ragu. Bintang yang mendapat secerah harapan langsung menatap berbinar. "Sekarang kita ciuman, kalau lo bereaksi, fiks lo homo."

"Lo gila?!"

"Lo yang gila!" Maki Arkha sambil menjitak kepala Bintang yang sekarang sedang duduk dikasur. "Gue cuma mau bantuin lo, gausah mikir aneh-aneh!"

"Yah maksud gue kenapa harus lo?!"

"Yah karena kan yang tau kondisi lo itu gue! Dongo!"

Bintang terlihat berfikir. "Bener juga," katanya, kemudian mendongak menatap Arkha yang sekarang posisinya lebih tinggi dari pada dirinya. "Emang lo ga masalah? Ini firs kiss lo kan?"

"Iya, tapi perduli apa gue?"

Bintang terperangah, merasa tak percaya dengan Arkha yang seolah menganggap sebuah ciuman dengan sesama gender adalah hal biasa.

"Beneran? Tapi jangan cepuin gue ke papa yah."

"Aman aja."

Arkha menunduk, memegang tengkuk Bintang, kemudian mendekatkan wajahnya.

"Wait!" Bintang memotong panik. "Rasanya aneh anjir kalo sama lo! Lo abang gue! Yakali kita ciuman."

"Cuma tiri." Balas Arkha malas. Kemudian tanpa aba-aba menempelkan bibirnya kearah bibir milik Bintang.

To be continued.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Aug 25 ⏰

¡Añade esta historia a tu Biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

CUMA TIRIHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora