🥇#bjyx_17/09/2025
🥇#wangxiao_27/06/2026
"Ambil ini..Tuliskan angka berapa pun yang kau mau. Aku tidak peduli. Tapi setelah itu... kau harus menjauh dari Yibo. Selamanya!"
"Saya tidak berminat, Tuan.. Uang bukan alasan saya berada di sisi Yibo. Jad...
Sinar lembut matahari pagi kota Chongqing, menyusup masuk lewat celah gorden jendela kamar bernuansa biru putih. Di baliknya, kehangatan perlahan mengusir sisa dingin malam, memantulkan cahaya keemasan pada ubin keramik kamar.
𝘿𝙧𝙧𝙧𝙩... 𝘿𝙧𝙧𝙧𝙧𝙧𝙩
Suasana kamar yang sunyi seketika terusik oleh suara nyaring alarm dari ponsel di atas meja nakas samping ranjang, membuat Zhan menggeliat pelan di atas ranjang. Dengan mata yang masih terpejam, ia mengulurkan tangannya, jemari lentiknya meraba permukaan kasur hingga ke meja nakas untuk menghentikan dering nyaring itu.
Zhan mengerenyit, saat pantulan terang cahaya layar ponsel masuk kedalam retinanya, pukul 7 pagi. Ia terduduk, tubuhnya dibawa bergeser untuk bersandar pada kepala ranjang, mencoba mengumpulkan seluruh kesadarannya beberapa detik dan akhirnya beranjak menuju kamar mandi.
15 menit berlalu. Setelah bersiap dengan memakai kaus putih lengan panjang dan celana jeans longgar, Zhan melangkah keluar kamar, menuju kamar Jianguo dan lanjut ke lantai bawah bersama kucingnya.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
^𝘐𝘭𝘶𝘴𝘵𝘳𝘢𝘴𝘪^
Sesampainya di bawah, penciumannya disambut oleh aroma harum teh jasmine yang baru diseduh, menguar bersama wangi dari mentega yang di panaskan.
"Pagi Ayah, Ibu," sapa Zhan membawa langkahnya lebih dekat ke arah meja makan.
Di sana, Bai Su sedang sibuk di depan kompor, sementara Xiao Lan duduk di kursi meja makan sambil memangku Jianguo yang menghampirinya lebih dulu.
"Pagi, Nak."
Bai Su menoleh sekilas, "Pagi sayang," sapanya dari dapur. "Tunggu sebentar, Ibu hampir selasai," sambungnya, lalu kembali fokus pada masakannya.
Zhan tersenyum tipis, kakinya terus melangkah melewati meja makan dan mendekati sang Ibu yang ada di dapur. Hingga berdiri di sebelahnya.
"Wah! Pancake," Celetuknya, lalu mencium pipi ibunya cepat. Membuat Bai Su tersenyum tipis. "Biar ku bantu," sambungnya seraya mengambil piring berisi beberapa lembar pancake dari sisi kompor.
Bai Su menatap Zhan sekilas dengan senyum lembutnya, tangannya bergerak memindahkan pancake terakhir dari teflon ke piring yang Zhan pegang. "Baiklah ... Ini yang terakhir," ujar Bai Su sembari mematikan kompor, lalu mengusap lengan putranya sayang.
Langkah ibu dan anak itu dibawa menuju meja makan untuk bergabung bersama Xiao Lan. Zhan menaruh piring pancake di tengah meja, lalu mengambil teko dan menuangkan cairan kuning keemasan jernih dari seduhan teh jasmine ke dalam tiga cangkir keramik.
"Apa tidur kalian nyenyak? Apa kamarnya cukup nyaman?" tanya Zhan, saat sudah duduk di sisi lain meja makan.
Xiao Lan menatap Zhan dengan senyum. "Ha ha... Sangat nyenyak dan kamarnya sangat nyaman," ucapnya diiringin tawa kecil yang menimbulkan kerutan halus di sudut matanya.