Mobil Jeep Wrangler hitam milik Baskara akhirnya berhenti tepat di depan gerbang kosan Bumi. Suasana malam semakin sepi, menyisakan deru halus mesin mobil dan kehangatan yang seolah enggan menguap dari dalam kabin.
Bumi menoleh ke arah Baskara, memegang sabuk pengamannya dengan ragu. "Udah sampai... Makasih ya buat makan malamnya, Baskara."
Baskara mematikan mesin mobil. Seketika, kabin mobil menjadi sangat hening, hanya diterangi remang-remang lampu jalan di luar dan pendar lampu dasbor. Baskara melepas sabuk pengamannya, lalu memutar tubuhnya menghadap Bumi sepenuhnya.
"Sama-sama, Sayang," bisik Baskara. Matanya tidak lagi memancarkan tatapan jahil seperti biasanya, melainkan tatapan dalam, tajam, dan penuh dengan intensitas yang mendadak membuat udara di dalam mobil terasa semakin hangat dan memabukkan.
Bumi menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, firasatnya mengatakan bahwa momen pelepasan malam ini tidak akan berakhir begitu saja. "K-kenapa ngeliatinnya gitu?" cicit Bumi, mencoba mengaktifkan pertahanan tsundere-nya, walau suaranya kalah telak oleh rasa gugup.
Baskara tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya bergerak pelan, menelusuri rahang tegas Bumi hingga mendarat di tengkuknya. Ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi Bumi yang memerah, memiringkan wajah Bumi agar menatapnya tepat di mata.
Jarak di antara mereka terkikis habis. Wangi khas wood-vanilla dari jaket kulit Baskara yang masih melekat di tubuh Bumi seolah menyatu dengan wangi tubuh Baskara sendiri yang kini berjarak hanya beberapa sentimeter di depannya.
"Bumi..." panggil Baskara dengan suara berat yang serak dan penuh gairah yang tertahan.
"A-apa...?"
Baskara menatap bibir Bumi yang sedikit terbuka, lalu kembali mengunci pandangannya ke mata Bumi. "Aku... boleh cium kamu?"
Pertanyaan itu diucapkan dengan nada rendah, meminta izin secara terhormat namun dengan binar mata yang begitu menuntut. Bumi seakan terhipnotis. Keberaniannya menguap, menggantikan gengsinya menjadi kepasrahan total pada pesona lelaki di hadapannya.
Bumi tidak menjawab secara lisan. Dengan jemari yang gemetar, dia meraih kerah kaos putih Baskara, lalu mengangguk pelan sambil memejamkan matanya.
Izin diterima.
Baskara tidak membuang waktu lagi. Dia memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya di atas bibir Bumi. Ciuman pertama itu dimulai dengan lembut, sebuah pagutan manis yang penuh rasa syukur. Namun, perpaduan antara kerinduan yang tertahan dan perasaan mendalam yang meluap membuat rasa manis itu dengan cepat berubah menjadi intens dan hot.
Baskara menarik pinggang Bumi, membawa tubuh mungil itu makin merapat ke arahnya tanpa jarak. Ciumannya memperdalam, menuntut, dan menyesap bibir Bumi dengan ritme yang begitu mabuk. Suara decakan halus dan napas mereka yang memburu memenuhi kabin mobil yang makin panas.
Bumi melenguh pelan di sela-sela ciuman mereka, meremas kaos Baskara saat Baskara menyapu bibirnya lebih dalam, mendominasi pergerakan sepenuhnya. Rasa hangat dan sensasi tersengat listrik menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki Bumi. Bumi yang biasanya galak dan penuh pertahanan, kini sepenuhnya meleleh di bawah kendali Baskara.
Tangan Baskara berpindah dari tengkuk ke belakang kepala Bumi, menyelipkan jari-jarinya di antara helai rambut halus Bumi untuk menahan posisinya agar tidak terlepas. Ciuman panas itu berlanjut selama beberapa saat yang terasa seperti keabadian yang indah, sampai akhirnya keduanya kehabisan napas.
Baskara perlahan menyudahi ciuman itu, menyisakan kecupan-kecupan kecil di sudut bibir Bumi sebelum akhirnya menempelkan dahi mereka berdua.
Napas keduanya memburu, saling berpacu dalam jarak yang sangat dekat. Wajah Bumi merah padam sempurna, bibirnya sedikit bengkak dan basah, matanya berbinar sayu menatap Baskara.
