Chapter 1

15 3 6
                                        

Tinta hitam tumpah di atas meja, menyebar ke segala arah, menghiasi meja membosankan yang hanya berisi gambar lingkaran sihir yang membuat semua orang muak.

Pemilik meja tersebut terkejut, tak menyangka hasil kerja kerasnya yang percuma menjadi karya seni tinta hitam yang telah bosan melihatnya.

Dia mengambil beberapa dokumen yang masih selamat, mengambil kain lap untuk menghentikan tragedi tinta yang mencintainya.

Lelaki itu berhenti, teringat bahwa dia dapat mengendalikan sihir dengan tangannya, melupakan bakat yang dia banggakan saat dia masih balita.

"Feirus," perintahnya lirih, membuat para tinta hitam tersebut kembali masuk ke dalam wadahnya, menyisakan dokumen yang untungnya selamat.

Lelaki itu menghela nafas pelan, terhuyung duduk di kursi miliknya. Kepalanya berdenyut, merasakan kantuk yang sangat melelahkan.

Setetes darah jatuh, berpercik di meja dengan cepat. Dua kali menghela nafas, dia mengambil tisu, mengelapnya dengan pelan.

Dua kali mengambil tisu di tempat yang sama, menggulungnya menjadi kecil, menyumpal hidungnya dengan benda putih tipis itu.

"Sialan," umpatnya.

Lipatan matanya terasa sangat gatal, hal yang menjadi tanda bahwa sesuatu akan muncul. Memejamkan salah satu matanya, dia melihat bahwa tanda di lipatan mata itu masih terpasang apik, menghiasi lipatan kosong yang membosankan.

"Dari sekian banyak bagian tubuh, kenapa engkau menggambarnya di lipatan mataku, setan sialan?" geramnya pada seseorang.

Suara tawa orang dewasa menggema, membawa aura dingin yang membuat buku kuduk merinding. Asap hitam berkumpul di balik badan sang lelaki, berubah menjadi seekor iblis yang tampan.

Helai rambut hitam panjang itu jatuh di bahunya, membuat leher miliknya terasa gatal.

"Singkirkan rambutmu dari leherku," marah sang lelaki.

Iblis itu tertawa cekikikan, menyanggul surai hitamnya dengan aksesoris berkilau miliknya. Bulu matanya lentik, wajahnya cerdik, namun sifatnya membuat hati sakit. Kaum iblis Bendrik memang menang dalam hal visual.

Iblis itu merapihkan surai sang lelaki yang berantakan, menjepitnya dengan jepitan anak-anak berbentuk kelinci.

Melihat ke arah kertas yang di baca sang lelaki, iblis itu tersenyum meremehkan, memegang pundaknya dengan tenang.

"Masih meneliti hal yang mustahil, kelinci yang gigih."

"Ganti kata kelinci itu dengan burung Pipit, aku tidak suka dengan kelinci."

Iblis itu terkekeh pelan, mengganti jepit rambut sang lelaki dengan jepit burung Pipit yang kecil. Padahal kelinci lebih cocok untuk dirinya.

Iblis itu meletakkan dokumen yang ada di tangan sang lelaki, menaruhnya di meja sembari mengangkat ujung baju lelaki itu.

"Sudah larut malam, tidak baik bagi seorang anak kecil untuk tidur terlalu larut," perintah sang iblis, membaringkan tubuh lelaki itu di sofa.

"Aku sudah berumur 27 tahun, Hunt."

"Dan saya berumur lebih dari seribu tahun, maka umur anda jika berada di alam iblis masih tergolong bayi yang berusia lahir," balas Hunt dengan senyuman menjengkelkan.

"KITA SEKARANG DI DUNIA MANUSIA."

"Saya tidak memikirkannya."

Hunt menutup mulut lelaki itu dengan jarinya, membisikkan sebuah kalimat yang membuat lelaki itu menurut kepadanya.

Lelaki itu menutup matanya, memeluk bantal yang ada di pelukannya. Dan perlahan tertidur dengan dengkuran halus yang menyusul di tenggorokannya.

Hunt melihat lelaki itu dengan datar, dari sekian banyak manusia yang sangat susah untuk di atur. Lelaki ini satu-satunya manusia yang bisa ia atur sesuka hati.

"Manusia yang penurut, biasanya lebih mudah untuk dihancurkan," bisik sebuah suara yang mengalun di telinga Hunt.

Iblis itu menoleh, mendapati bahwa teman sang lelaki berjalan masuk dari jendela yang terbuka. "Sebaiknya kau tidak melakukan hal aneh, Marvel."

"Itulah yang seharusnya ku katakan kepadamu, dasar iblis."

Hunt merotasikan matanya searah dengan jarum jam, dia sangat malas berurusan dengan manusia seperti Marvel, terlalu liar untuk kehidupannya yang tenang.

"Apa yang kau lakukan di sini? Kelinciku akan bangun dari tidurnya jika kau mengganggu."

Marvel tersenyum dengan tatapan licik, matanya menatap Hunt dengan berbagai kelicikan yang terlihat dengan jelas.

"Membunuh kelinci mu."

Deg

Aura milik Hunt menyebar di seluruh ruangan, membawa atmosfer yang membuat dadanya terasa sesak.

Marvel panik, wajahnya seperti seekor tikus yang panik karna kejahilannya dianggap serius oleh sang kucing.

"Oy oy bercanda, gw cuman mau ngecek mananya," jelas Marvel gelagapan, sepertinya dia akan menyesal karena menjahili seekor iblis seperti Hunt.









You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 6 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Rumah // Viva Fantasy //Stories to obsess over. Discover now