୨ৎ───Jihan Naradipta

86 21 8
                                        

⡞⠳⣄⣀⣠⠞⢷ ֹ۪
©twency presents; BITTEN APPLES,
a Nikwon fanfiction.

ˆ𐃷ˆ

╰┈➤ NAMANYA Jihan Naradipta. Orang-orang bisa memanggilnya dengan sebutan Jihan, Nara, ataupun Dipta-whatever they want. Tapi, teman-teman terdekatnya di sekolah, mostly memanggilnya dengan sebutan Dipta.

Secara fisik, Jihan memiliki bahu yang lebar namun pinggang yang ramping. Kulitnya seputih pualam, sepasang mata bulatnya-yang ujungnya sedikit menukik ke atas-menyerupai mata kucing. Hidung yang bangir, serta sepasang lesung pipi dalam yang selalu tercetak jelas setiap kali ia tersenyum. Surai hitamnya yang jatuh menutupi dahi membuat kesan manis itu semakin menguar darinya.

Too much information, Jihan sebenarnya tidak lahir dengan nama sefeminin itu.

Dulu, di Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga, namanya tertulis gagah: Johan. Namun, karena ada kesalahan penulisan di ijazah SD di mana seharusnya tertulis Johan, tapi malah diketik Jihan, mau tak mau seluruh dokumen negara seperti KK dan Akta harus diganti demi menghindari birokrasi yang rumit di kemudian hari.

Huft, namanya memang terdengar sangat mirip perempuan, but gapapa, Jihan tetap suka! Toh, kalau ia berkaca, nama itu entah bagaimana menempel sempurna dengan paras indahnya. Dan ia sama sekali tidak keberatan.

Lamunan singkat Jihan tentang asal-usul namanya pagi itu terhenti ketika sebuah suara erangan pelan terdengar dari sebelah kirinya.

"Ngantuk banget, Ta," keluh teman sebangkunya sembari menelungkupkan kepalanya di balik lipatan tangan di atas meja. Kipas angin kelas yang berputar malas mengacak pelan rambut sebahunya yang sudah berantakan.

Namanya Wilona Ayudhia.

Jihan menoleh, meletakkan pulpen yang sejak tadi ia putar-putar di jari. Ia menatap wajah samping Wilona yang memelas dengan kantung mata hitam yang tercetak tipis. "Begadang lagi? Habis ngapain sih?" tanyanya heran.

Mendengar pertanyaan itu, Wilona menggeser wajahnya agar bisa menatap Jihan. Sepasang mata sayu gadis itu mengerjap pelan, namun sedetik kemudian, seulas senyum lebar dan konyol mengembang di bibirnya. Rona kemerahan samar menjalar di pipinya, mengalahkan rasa kantuknya.

"Hehe, keasyikan video call sama pacar aku, jadinya tidur cuma empat jam," jawab Wilona, suaranya serak tapi sarat akan letupan kebahagiaan. Ia bahkan menegakkan punggungnya sejenak, nyawanya seakan terkumpul kembali. "Sumpah ya, Ta, Kak Yulia tuh suaranya bikin candu banget. Niatnya cuma mau nemenin dia nugas bentar, eh malah keterusan ngobrol. Terus pas aku ketiduran, dia chat di WhatsApp, bilang, 'Pules banget tidurnya, Cantik. Sengaja nggak aku matiin teleponnya biar bisa denger suara napas kamu.' Gila, Ta! Aku rasanya mau meledak!"

Wilona memekik tertahan sambil memukul-mukul pelan lengannya sendiri, benar-benar salah tingkah dengan tingkah laku pacar perempuannya itu.

Tawa renyah Wilona mengudara di kelas, namun sayangnya, tawa itu tak berhasil menular pada Jihan.

Pemuda manis itu hanya menarik sudut bibirnya, mengukir senyuman tipis yang sama sekali tidak mencapai sepasang mata kucingnya.

Mendengar bagaimana Wilona menceritakan interaksi hangatnya dengan sang kekasih membuat sesuatu di dalam dada Jihan terasa mencelus. Udara kelas yang pengap mendadak terasa dingin di tengkuknya.

Perlahan, Jihan merogoh saku seragamnya, mengeluarkan sebuah ponsel pipih dan menatap layarnya yang gelap gulita. Tidak ada notifikasi apa-apa di sana.

Secara teknis, Jihan tidak punya alasan untuk iri. Ia juga memiliki kekasih. Namanya Regi Abidzar. Mereka seumuran, hanya saja Regi bersekolah di tempat yang berbeda-SMK Garuda Nusantara.

Regi dan Jihan sudah resmi menyandang status sepasang kekasih selama satu bulan penuh.

Satu bulan.

Seharusnya, itu adalah fase di mana sepasang kekasih sedang dimabuk asmara, persis seperti Wilona.

Namun, realita yang dihadapi Jihan sangatlah kering. Interaksi mereka kaku, dipenuhi oleh kecanggungan dan balasan-balasan singkat dari Regi. Tidak ada obrolan larut malam. Tidak ada panggilan telepon manis. Hubungan mereka terasa sangat hambar, tak ubahnya seperti pertemanan biasa.

Bahkan, memikirkan sikap Regi yang sedingin es sering kali membuat Jihan merasa sesak. Terkadang, jauh di lubuk hatinya, Jihan merasa bahwa mungkin... mungkin memang lebih baik mereka berstatus teman saja.

Jika mereka hanya berteman, Jihan tidak perlu merasa memiliki hak untuk menuntut perhatian, dan rasa sepi di tengah label "pacaran" ini tidak akan mencekiknya sekuat ini.

"Ta? Kok malah bengong?"

Suara Wilona menyentak Jihan kembali ke realita. Wilona menatapnya dengan dahi berkerut heran. Jihan mengerjap buru-buru, menekan tombol daya ponselnya untuk mematikan layar, lalu menyunggingkan senyum termanisnya hingga sepasang lesung pipinya muncul.

"Gak apa-apa, Na," dusta Jihan pelan, menelan rasa pahit yang tiba-tiba menggenang di tenggorokannya.

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

⡞⠳⣄⣀⣠⠞⢷ ֹ۪TO BE CONTINUED ˆ𐃷ˆ

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

⡞⠳⣄⣀⣠⠞⢷ ֹ۪
TO BE CONTINUED
ˆ𐃷ˆ

Bitten Apples | NikWonStories to obsess over. Discover now