Pagi buta kala itu, saat matahari bahkan belum sempat memunculkan sinarnya, terdengar kericuhan yang sudah tidak asing lagi bagi telinga orang-orang di sekitar rumah. Suara perdebatan sengit itu menembus dinding kamar, memecah keheningan fajar, dan seketika menyadarkan para tetangga
"ARGH SIAL, DASI DIMANA SIH INI?." - Teriak dia
Pekikan keras itu seketika membuat sang kakak berlari menghampirinya. Sepasang matanya menyiratkan rasa risau dan gelisah yang amat jelas. Sekaligus ia melontarkan pertanyaan
"Kenapa dek?," —Tanya nya kepada adik depan itu
"Dasiku ilang. Gak ada loh kak Erine. Udah kucari dimana-mana. Tetep ga ketemu!?,"
"Coba kamu cari di selipan tas kamu ada enggak?," —Tanya Erine dengan sedikit penekanan di vokalnya
Sejenak. Adiknya membeku, ia kembali mengingat. Apakah dirinya sudah mengechek di tasnya atau belum. Bagaimana jika dasinya ditemukan di dalam tas? Sungguh ceroboh sekali bukan
"Oline, kok diem?," -Tanya Erine
Oline tanpa berlama lagi langsung memutar tubuhnya cepat dan tidak bertatap 4 mata lagi dengan kakaknya. Dirinya sekarang mencoba fokus untuk menemukan dasinya
Selang 10 menit. Oline masih belum bertemu dengan dasinya. Hingga kini Erine turun tangan membantunya
"Oline belum ketemu?," —Erine
"Belum sama sekali." -Oline
"Kamu udah chek tas mu belum?," -Erine
Sekali lagi darah Oline membeku dengan lontaran kalimat dari mulut Erine. Erine yg mengetahui situasi ini segera mengambil dan mengechek tas milik Oline
"Ketemu kan?,"
"sorry.."
"Did u ever learn how to apologize?."
"Iya maaf kak Erine.."
"Nope, menurut ku. Maaf ya dan ya maaf itu beda Oline. Kamu selalu loh nyepelein hal-hal kecil kayak gini?."
"Maaf ya kak Erine?."
"Ok Oline."
