"Haruskah aku melakukannya?"
Tonliew menghela nafas, tak menerima jawaban dari orang-orang di depannya.
"Ayolah, beri aku cela untuk istirahat."
"Liew, kau rasa siapa lagi yang cocok? P'Ngern?"
Ngern tersenyum, membuat Tonliew menggeleng.
"Karena itu.." Oat menghela nafas, "Kau satu-satunya harapan."
"Aku benci kalian." Ujar Tonliew, "Oat, kau saja yang melakukannya!"
"Tidak. Oat akan bertugas bersamaku." Ujar Ngern
"Tak bisakah kalian berpisah walau beberapa menit saja?"
"Liew, tidak ada penolakan. Ini tugas utama untukmu setelah sekian lama. Bukankah kau sudah lama menunggu?"
"Bukan tugas seperti ini, P'New!"
"Selain kau, akan ada orang lain yang membantumu di lapangan, okay? Waktu kalian tiga bulan untuk beradaptasi."
"Aku akan pensiun setelah ini." Gerutu Tonliew lagi
...
...
...
"Selamat datang."
Seorang pemuda berkacamata tersenyum saat pintu terbuka, ia kembali melihat pada catatan di bawah mejanya saat orang yang masuk itu berjalan masuk menuju beberapa rak tertentu. Matanya terus melihat pada deretan rumus yang merupakan tulisan tangannya. ia menghela nafas, berbalik untuk melepas kacamatanya sejenak dan mencubit cuping hidungnya.
"Maaf, dimana letak alat tulis ya?"
Pertanyaan itu membuatnya berbalik cepat. Ia segera keluar dari meja di depannya dan menunjukkan arah. Senyumnya kembali terlihat saat membalas ucapan terima kasih pelanggan tersebut.
Mini market tempatnya bekerja jarang terlihat sepi sebab berada di dekat universitas tempat para mahasiswa, termasuk dirinya menuntut ilmu. Ia menghela nafas, merasa cukup kelelahan karena temannya bekerja sudah mengundurkan diri dan ia harus menyelesaikan semua pekerjaan sendirian selama hampir dua minggu, sedangkan masa ujian sudah semakin dekat. Ini tahun terakhirnya dan ia benar-benar ingin fokus agar mendapat izin untuk megang sebagai residen di salah satu rumah sakit ternama yang ia incar.
"Bever, shift mu sudah selesai hari ini? Bos memintamu ke ruangannya."
"Krub P'Win."
Pemuda itu melihat pada lokernya, menyimpan apron kerja dan mengambil beberapa teguk air sebelum menghela nafas. Ia baru saja berniat pulang dan ingin segera mengulangi pelajaran di rumah, namun kini ia harus menghadap lagi? Ada apa? Ia tidak ingat melakukan kesalahan, sebab ia sudah mengetahui seluk beluk mini market tempatnya bekerja paruh waktu ini selama tiga tahun. Sang manajer jarang memanggilnya. Ah tidak untuk manager yang baru menjabat tiga bulan belakangan ini. Tapi manajer baru itu terlihat ramah? Entahlah.
Langkahnya ia bawa ke lantai dua, lalu berdiri di depan pintu ruangan manajernya. Ia menarik nafas sebelum mengetuk pintu. Ia menekan gagang pintu saat suara manajer terdengar, memintanya masuk.
"Bever." Panggil manajer muda di depannya, "Ia akan membantumu mulai besok. Kau sudah lama kewalahan sejak Cherry berhenti bukan?"
Bever melihat pada pria di depannya yang tersenyum. Ia membalas senyuman itu dan menyambut uluran tangannya.
"Ia merupakan mahasiswa teknik komputer tahun kedua. Golf, jika ada yang ingin kau tanyakan, kau bisa bertanya pada Bever. Ia sudah cukup lama bekerja di sini. KAu harus cepat menguasai beberapa poin penting karena Bever akan mulai magang pada bulan Juli nanti, mungkin ia akan banyak mengambil cuti."
KAMU SEDANG MEMBACA
Decoded
FanfictionSeorang agen yang tengah mencri kebenaran dengan mahasiswa kutu buku. apakah mereka akan saling tertarik, atau malah saling membenci?
