01

4 0 0
                                        

ACT 01: A NEW CENTURY

***

[Tokyo - Musim Semi, 2053]

Sinar mentari pagi menyelinap perlahan melalui celah jendela apartemen yang telah terbuka, membawa kehangatan tipis yang membelah keheningan ruangan.

Dari arah dapur, sayup-sayup terdengar lantunan nada rendah, beriringan dengan suara desis halus dari bahan makanan yang sedang dimasak di atas kompor listrik.

Gadis itu sudah terbangun bahkan sebelum sang surya sempat memunculkan dirinya di ufuk timur. Iona Higuchi-seorang siswi kelas satu SMA, berambut pendek kecoklatan dengan sepasang mata keunguan yang jernih-tampak begitu bahagia pagi ini. Tangannya bergerak lincah, menata dengan apik kotak bekal yang hendak ia bawa ke sekolah.

Tak lupa, Iona juga menyiapkan sepiring sarapan ekstra. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seseorang yang saat ini masih terlelap pulas di atas sofa. Di depan sofa itu, sebuah televisi layar datar masih menyala statis, memancarkan cahaya redup yang tampaknya telah dibiarkan menyala sepanjang malam.

Setelah memastikan seragam sekolah yang dikenakannya rapi tanpa kusut, Iona mengambil tas kainnya dan beranjak menuju pintu keluar apartemen. Namun, sebelum jemarinya menyentuh sepatu, gerakannya terhenti sejenak. Pandangannya beralih, menatap sayu ke arah sebuah foto keluarga yang berada di atas meja kecil dekat pintu.

"Aku berangkat dulu... Ayah," bisiknya lirih pada keheningan pada sebuah bingkai foto disebuah kabinet kecil bersebelahan dengan rak sepatu.

Pintu apartemen pun tertutup dengan bunyi klik pelan, disusul suara kunci yang berputar otomatis. Iona melangkah membelah pagi.

***

Di dalam sesaknya gerbong kereta komuter, Iona menyempatkan diri untuk memeriksa berita yang sedang hangat pagi ini. Ponsel di genggamannya memiliki desain futuristik-berbentuk seperti panel kaca transparan dengan kotak pemrosesan kecil di bagian atasnya.

Jemarinya menggulirkan layar, membuka beberapa status dan utas yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Sesaat, gurat kejenuhan tampak jelas di wajahnya. Iona menghela napas panjang, merasa muak dengan pusaran informasi yang itu-itu saja di dalam perangkat pintarnya.

"Selanjutnya stasiun...."

Cring...

Kereta akhirnya berhenti di sebuah stasiun sub-perkotaan. Gadis bermata keunguan itu segera melangkah keluar, melebur di antara kerumunan penumpang yang turun dari gerbong.

Dikala berjalan tak begitu jauh ia sampai ke sebuah

Di antara barisan murid lain yang berjalan ke arah yang sama, tak ada satu pun yang menggubris keberadaannya. Iona berjalan dalam sunyi, seolah memiliki dunianya sendiri. Ia melangkah meniti anak tangga menuju lantai dua, tempat ruang kelas tahun pertama berada.

Kelas 1-3. Iona melangkah masuk, lalu mengambil posisi duduk di bangku pojok belakang yang dekat dengan pintu masuk. Hiruk-pikuk dan ramainya keseharian kelas yang cukup bising sudah menjadi pemandangan biasa baginya. Tanpa membuang waktu, ia menaruh tasnya dan mengeluarkan sebuah notebook tipis dari sana.

Setelah menyambungkan perangkat tersebut ke sebuah kabel konektor, Iona segera membuka tab peramban dan beberapa aplikasi kerja. Ia sengaja menyibukkan diri di sisa waktu yang ada sebelum bel masuk sekolah berdering. Tanpa terganggu oleh atmosfer kelas yang riuh, fokusnya sepenuhnya tersedot oleh untaian kalimat yang ia ketik di sebuah situs web berita yang menjadi tempat nya bekerja.

"Tampaknya kau serius sekali pagi ini, Iona."

Sebuah suara familier tiba-tiba menyapa dari sisi kirinya. Seorang siswi lain datang mendekat. Gadis itu memiliki penampilan yang cukup mencolok-rambut pirang terang dengan kulit kecokelatan yang eksotis.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 19 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Digimon Digitalize - 'Digital Invasion' Stories to obsess over. Discover now