Aralynn : Chaos An Alternative Story #32

1.8K 35 1
                                        

Dua hari kemudian, suasana rumah terasa sunyi banget dari pagi. Jemima tadi pagi-pagi banget udah pamit pergi keluar sama temen-temen SMA-nya buat nongkrong terakhir sebelum besok lusa beneran terbang balik ke Surabaya.

Delynn sendirian di dalam kamar utama, melangkah pelan dari arah kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya pake handuk kecil.

Dia menatap sekeliling ruangan yang lengang. Jam di dinding baru menunjukkan pukul sepuluh pagi.

"Suntuk banget gilak," gumam Delynn sendirian sambil melempar handuknya ke atas kasur.

Gara-gara bingung mau ngapain dan malas cuma tiduran doang yang malah bikin badannya tambah pegal, Delynn akhirnya memutuskan buat beres-beres.

Pandangannya tertuju ke lemari pakaian besar berpintu kaca di sudut kamar.

Delynn berjalan melangkah mendekati lemari itu, lalu menarik kedua pintunya lebar-lebar.

Aroma wangi khas kayu manis dan vanilla yang sangat familier langsung menyergap indra penciuman Delynn secara instan.

Itu aroma tubuh Rachel.

Delynn memejamkan matanya sebentar, menarik napas dalam-dalam menikmati wangi yang mendadak membawa kenangan nostalgia itu.

"Oke, mari kita pilah-pilah barang si bawel satu ini," ucap Delynn pada dirinya sendiri.

Delynn mulai melihat-lihat deretan gantungan baju di bagian kiri lemari tanpa menggeser satu pun posisi gantungannya.

Di sana berjejer rapi kemeja-kemeja silk, blazer berpotongan tegas, sampai dress satin dengan warna-warna netral yang sangat tenang.

Delynn menyentuh ujung lengan salah satu blazer warna beige milik Rachel, mengelus bahannya yang halus banget.

"Bisa-bisanya kamu punya blazer sebanyak ini buat kerja doang," gumam Delynn sambil menggelengkan kepala terkekeh pelan.

Dia membiarkan blazer itu tetap tergantung rapi, lalu beralih menunduk melihat laci bagian bawah tempat penyimpanan tas dan aksesori.

Delynn melotot kecil begitu melihat deretan tas kulit bermerek yang tersusun sangat rapi di dalam kotak akrilik transparan.

Ada Chanel, Dior, sampai Saint Laurent yang kondisinya masih sangat terawat tanpa ada debu sedikit pun.

"Ih, taste kamu emang gak pernah gagal sih dari dulu," puji Delynn jujur sambil mengagumi salah satu sling bag hitam milik Rachel.

Delynn baru bener-bener sadar, kalau Rachel emang se-elegan itu dalam memilih barang.

Meskipun kalau lagi di rumah kelakuannya suka bawel parah, suka ngomel-ngomel hal sepele, and kadang gengsiannya setengah mati, tapi pilihan fashionnya tetep amat sangat classy.

"Bawel-bawel gini ternyata selera kamu mahal juga ya," kekeh Delynn bicara sendiri ke arah foto Rachel yang terpajang di meja rias.

Delynn melipat kedua tangannya di dada, mulai memikirkan rencana buat barang-barang ini.

Dia gak bakal pernah mau membuang satu barang pun milik Rachel, bahkan gak mau ada satu pun yang dipindahkan dari kamar ini.

Gak boleh ada ART atau siapa pun yang menyentuh atau menggeser posisi barang-barang ini.

Semuanya harus tetap berdiri rapi di tempatnya semula, seperti saat Rachel masih hidup.

"Baju-baju yang casual and sweater ini ntar biar dipakai Jemima aja pas dia pulang," gumam Delynn mengabsen isi lemari pake matanya.

"Terus tas-tas branded sama blazer kantor ini biar tetep terpajang di sini aja, gak boleh ada yang mindahin," lanjut Delynn mantap.

Delynn lanjut bergeser ke area meja rias yang cukup luas.

Just One Night | OS #5Stories to obsess over. Discover now