SELAMAT MEMBACA
Pagi itu, matahari baru saja muncul dari balik awan. Cahaya keemasannya perlahan masuk melalui celah tirai kamar seorang gadis bernama Freyana Jay Wardana.
Kamar itu masih begitu tenang.
Di atas tempat tidur, Freyana masih tertidur pulas dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan, sementara wajahnya terlihat begitu tenang.
Hari itu seharusnya menjadi hari yang sangat penting.
Hari pertama Freyana masuk ke SMA 48 Secool.
Namun, ada satu masalah besar.
Freyana sangat susah dibangunkan.
"Freyana!"
Tidak ada jawaban.
"Freyana, bangun!"
Masih tidak bergerak.
Pintu kamar kemudian terbuka. Seorang wanita berdiri di ambang pintu sambil membawa pakaian seragam.
Dia adalah Yesika Jaya Wardana, ibu Freyana.
Yesika menarik napas panjang.
"Anak ini..." gumamnya.
Ia berjalan mendekati tempat tidur lalu menarik sedikit selimut Freyana.
"Freyana, sayang. Bangun. Ini hari pertama sekolah."
Freyana hanya bergumam.
"Sebentar lagi..."
"Sebentar lagi apanya? Kamu bisa terlambat!"
Freyana membalikkan tubuhnya dan kembali menarik selimut.
"Maa... lima menit lagi."
Yesika menggelengkan kepala.
"Lima menit versi kamu itu bisa jadi satu jam."
Dari luar kamar terdengar suara seorang laki-laki tertawa.
"Hahaha! Mama masih mencoba membangunkan Putri Tidur?"
Yesika menoleh.
Di depan pintu berdiri seorang pemuda yang merupakan kakak laki-laki Freyana, Chiko Jaya Wardana.
Chiko sudah mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi. Tas sudah berada di bahunya.
"Chiko, jangan cuma ketawa. Bantu Mama bangunkan adikmu!"
Chiko tersenyum jahil.
"Siap, Ma."
Ia mendekati tempat tidur Freyana.
"Frey."
Tidak ada jawaban.
"Freyana."
Tetap diam.
Chiko kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Freyana.
"Kalau kamu nggak bangun sekarang, aku habisin sarapan kamu."
Mata Freyana langsung terbuka.
"APA?!"
Chiko langsung tertawa.
"Nah, akhirnya bangun juga."
Freyana duduk dengan rambut berantakan.
"Kak Chiko! Jangan ganggu sarapanku!"
"Itu baru adikku."
Yesika tertawa kecil melihat tingkah kedua anaknya.
"Sudah, Freyana. Cepat mandi dan pakai seragam. Papa sudah menunggu di bawah."
Freyana melihat jam.
Matanya langsung membesar.
"HAH?! Udah jam segini?!"
"Makanya dari tadi Mama bangunin."
Freyana langsung turun dari tempat tidur.
"Aduh! Hari pertama sekolah malah hampir telat!"
Chiko tertawa.
"Makanya jangan tidur seperti beruang."
"Kak Chiko!"
Freyana mengambil bantal dan melemparkannya.
Chiko berhasil menghindar.
"Hahaha! Cepat sana mandi!"
Beberapa Menit Kemudian
Freyana akhirnya keluar dari kamar.
Ia sudah mengenakan seragam SMA 48 Secool dengan rapi. Rambutnya ditata sederhana. Wajahnya terlihat cerah dan senyum manisnya membuat suasana rumah terasa lebih hangat.
Yesika yang sedang menyiapkan sarapan menoleh.
"Wah, akhirnya anak Mama berubah jadi siswi SMA."
Freyana tersenyum.
"Bagaimana, Ma?"
"Cantik."
Freyana langsung tersipu.
"Terima kasih, Ma."
Dari meja makan, Chiko langsung ikut berkomentar.
"Jangan terlalu dipuji, Ma. Nanti dia makin lama siap-siapnya."
Freyana menatap tajam.
"Kak Chiko!"
Aranuel, ayah Freyana, yang sejak tadi membaca berita di ponselnya hanya tersenyum.
"Sudah, sudah. Hari pertama sekolah jangan dimulai dengan pertengkaran."
Freyana duduk di samping ayahnya.
"Papa..."
"Iya?"
"Freyana sedikit gugup."
Aranuel menurunkan ponselnya.
"Gugup itu wajar. Sekolah baru, teman baru, lingkungan baru."
Freyana mengangguk.
"Aku takut nggak punya teman."
Chiko langsung menyahut.
"Mustahil."
"Kenapa?"
"Karena kamu cerewet."
"KAk!"
Semua tertawa.
Aranuel kemudian berkata dengan lembut,
"Jangan terlalu memikirkan apakah orang lain akan menyukaimu atau tidak. Jadilah dirimu sendiri. Kalau kamu baik kepada orang lain, pasti akan ada orang yang menghargaimu."
Freyana tersenyum.
"Iya, Pa."
Yesika meletakkan makanan di depan Freyana.
"Sudah, makan dulu. Jangan sampai hari pertama sekolah malah sakit karena belum sarapan."
Freyana mulai makan.
"Enak banget, Ma."
"Tentu saja. Mama yang masak."
Chiko mengambil satu potong makanan dari piring Freyana.
"Heh!"
Freyana langsung mengambil kembali.
"Itu punya aku!"
"Berbagi itu indah."
"Kalau punya Kak Chiko, baru namanya berbagi!"
Chiko tertawa.
Jangan hujatya Masi coba coba
