I. SACRIFICE

125 9 5
                                        

[ FATE : THE RED STRING ]

1208 Masehi. . .

di tanah Swarnadwipa Mandala― seluruh kekuatan dari berbagai kerajaan yang berdiri di sana, konon katanya tak mampu mengalahkan satu nama yang dengan gagahnya mengakar sebagai kerajaan besar. Ia, Wisesanagara, tempat bernaungnya para kesatria hebat dan pejuang paling disegani seantero daerah.

Siapapun yang berlindung di bawah pohon rindangnya, dapat dipastikan selamat sepanjang hidupnya. Sementara, para oposisi yang membenci, akan dipenuhi ketakutan tiap kali jantungnya berdetak.

Dipimpin oleh seorang raja bijaksana, ibu suri berwibawa, dan permaisuri penuh ketenangan. Wisesanagara terus mengepakkan sayap kesuksesannya, sehingga melambung tinggi di udara.

Kala itu, ketika matahari tegak lurus posisinya di atas kepala setiap orang. Keributan terasa menggema di balairung istana, tempatnya petinggi-petinggi kerajaan bermusyawarah. Satu hal diperdebatkan―apa yang diberikan oleh Wisesanagara, sebagai tanda bahwa mereka tak berniat meninggalkan sekutunya?

Siapakah gerangan, sosok yang berani memberikan pengajuan seperti itu?

Jawabannya,

Arthadipura.

Kerajaan dari timur yang diperebutkan kekuasaan, musuh-musuh Wisesanagara ingin sekali menjadikannya kawan dan bersekutu. Namun, langkah cepat dilakukan Wisesanagara agar tak kehilangan mereka.

Disanalah diskusi terbuka dimulai.

"Jika Sri Maharaja berkenan mendengarkan usulan saya ini, maka dengan senang hati akan saya utarakan."

Seorang perdana menteri, memajukan satu langkahnya ke depan.

Surawisesa Jayadarma, sebagai raja yang bijaksana, segera menganggukkan kepala untuk mempersilakannya berbicara.

"Mohon izin, Sri Maharaja dan Ibu suri yang agung." Perdana menteri melanggengkan langkahnya ke tengah-tengah balairung, agar semuanya dapat mendengar usulannya. "Jika tak ingin melepaskan kendi di sumur, maka ikatkan-lah tali kepadanya. Jika tak ingin melepas Arthadipura begitu saja, maka lakukan hal yang sama kepada mereka."

"Bicaralah dengan jelas, Perdana Menteri." Ucap Indreswari, Ibu Suri.

"Ikatan pernikahan― akan menyatukan dua kerajaan. Menahannya dari berbuat khianat."

"Lalu?"

"Salah satu putri Wisesanagara harus setuju dan bersedia dinikahkan dengan pangeran mahkota Arthadipura."

Keheningan menyelimuti balairung hingga terdengar suara-suara asing, yang sebelumnya tak terdengarkan.

"Segera saja laksanakan," Ibu Suri berucap ketika mereka bergelut dengan pemikirannya sendiri.

Keterkejutan pun tidak luput dari masing-masing wajah itu.

"Ibu, bukankah Ayu Sekarwulan telah dijodohkan dengan Yudhakara?" Permaisuri Pitaloka Ratnawangi bertanya, agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka.

"Siapa yang berkata, aku akan memilihnya? Tentu saja tidak."

"Lantas, siapa yang akan Ibu nikahkan?"

"Anak dari Ni Mas Mayangsari Padmarini, si selir ketiga."

Bagaikan disambar petir siang bolong, perempuan yang telah disebutkan namanya itu memasang raut wajah terkejut. Ibu mana pula yang rela anak gadisnya menikahi seseorang dari daerah berbahaya?

"Ibu Suri, mohon untuk dipikirkan kembali. Anakku masih belum mengerti tentang pernikahan."

"Menurutku, dia sudah berada pada umur yang sesuai untuk menikah. Lagipula, jika tidak sekarang, kapan waktu yang tepat? Jika tidak ada satupun kerajaan yang ingin meminangnya nanti, apa kau mampu menanggung malu atas kesendirian anakmu itu?"

Padmarini, kita sebut saja begitu, menundukkan kepala.

"Kenapa tidak Niskala Purnami, Ibu? Dia putri yang sering dipuji Mahaguru di keputren." Sekali lagi, Pitaloka mempertanyakan agar tak terjadi kesalahpahaman.

"Aku sudah memutuskan anak Ni Mas Mayangsari Padmarini yang dinikahkan, tidak boleh ada bantahan. Jika berani, maka pergilah berdebat dengan Dewa Siwa."

"..."

Satu balairung kembali masuk kedalam keheningan.

Padmarini terduduk lesu di kursinya, memikirkan nasib anaknya kelak.

~•.•~

Hai, teman-teman semua!
Cerita ini dibuat tidak berdasarkan sejarah apapun ya!
Alias, 100% fiksi.

Udah siap belum? 🚀🚀🚀

FATE : THE RED STRINGHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora