PROLOG

2 0 0
                                        

Bagi sebagian orang, makanan di rumah sakit hanyalah tentang rasa hambar, bubur yang terlalu lembek, dan sayuran bening tanpa jiwa. Namun bagi Rania, setiap nampan yang keluar dari instalasi gizi adalah sebuah misi penyelamatan yang senyap.

Pukul lima pagi, saat kabut tipis masih memeluk kota dan koridor rumah sakit masih sunyi, dunia Rania sudah dimulai. Di dalam dapur besar berlantai keramik putih bersih yang steril, suara dentang spatula besi dan uap panas yang membubung dari panci-panci raksasa menjadi simfoni pembuka hari. Harum kaldu ayam kampung yang direbus perlahan bersama jahe dan daun bawang menyeruak, mengalahkan bau antiseptik yang tajam.

Sebagai bagian dari tim pramusaji dan distribusi gizi, tugas Rania melampaui sekadar mengantar makanan. Di tangannya, selembar kertas manifes diet pasien adalah sebuah peta.

Kamar 302: Rendah garam.
Kamar 305: Pasca-bedah, bubur saring.
Kamar 310: Diet diabetes, batasi karbohidrat sederhana.

Setiap piring harus bersih dari kontaminasi, setiap wadah harus ditutup rapat demi menjaga higienitas, dan setiap porsi harus ditata seestetik mungkin. Karena Rania tahu, bagi mereka yang sedang berjuang melawan rasa sakit di atas ranjang putih, makanan adalah satu- satunya hal akrab dari dunia luar yang bisa memberi mereka kekuatan untuk sembuh.

Namun, Rania tidak pernah menyangka bahwa dedikasinya pada sekat-sekat kalori dan kebersihan nampan stainless steel akan membawanya berurusan dengan pasien paling keras kepala di Bangsal VIP Anggrek. Seorang pria yang memandang makanan rumah sakit seolah-olah itu adalah racun yang siap menghabisi selera makannya dalam sekali lihat.

To Be Continued....

Kalo suka boleh vote dong best ❤️
See You...

Aroma Penyembuh di Bangsal Anggrek  Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora