1. Abstrak

15 1 0
                                        

ab.strak (1)

(a) tidak berwujud; tidak berbentuk; mujarad; niskala.

ab.strak (2)

(a) ikhtisar (karangan, laporan, dan sebagainya); ringkasan; inti


×

'Ck! Bikin bad mood aja!'

Dena meletakkan garpu kecilnya ke piring keramik. Agak dibanting. Matanya menatap saudari kembarnya lekat-lekat. Di seberang meja mereka, suara desis mesin espresso seolah sedang berlomba dengan tawa lepas rombongan eksekutif muda ber-lanyard tebal, ciri khas kedai kopi kultural di kawasan SCBD.

Desy mematung.

'Eh? Kenapa sih, Den? Tiba-tiba marah-marah,' kata Desy. Matanya berkedip, lalu menatap kosong cangkir espresso tanpa gulanya yang sudah mulai dingin. 'Lagi PMS?'

'Kamu yang kenapa?' tanya Dena.

Desy menggeleng. 'Aman aja.'

'Nggak usah bohong deh. Aman kepalamu pey— YAH! Baju baru aing!' Dena mencondongkan badannya ke depan. Gerakan ceroboh itu sukses membuat ujung kemeja putihnya menyapu sisa krim mille-crepes vanila yang ada di depannya.

'Tuh, kan,' tegur Desy pelan.

Didorong insting yang lebih tua dua menit, Desy meraih tisu, mencelupkannya ke gelas air es, dan mulai mengusap noda putih kekuningan di kemeja adiknya.

'Nggak usah ngalihin topik deh. Muka kamu dari tadi jelek banget. Kenapa?' sahut Dena. Dia sama sekali tidak peduli perutnya sedang digosok-gosok tisu basah oleh Desy. Dena menurunkan suaranya. 'Lagi ngerasa ngalamin quarter-life crisis?'

Tangan Desy berhenti menggosok. Sebagai anak kembar, mereka seperti berbagi satu sel otak yang sama. Telepati mereka jarang meleset. Desy memandang Dena, menarik napas, lalu mengangguk.

'Iya.'

'Apa lagi yang dibikin overthinking? Kerjaan ada. Gaji dua digit. Apa yang kurang?' tanya Dena.

Kata-kata Dena seperti senter yang mendadak dinyalakan di sudut paling gelap di kepala Desy. Desy mengusap leher belakangnya. 'Gimana ya, Den. Aku ngerasa... aku nggak passion sama kerjaan ini.'

'Oh, jadi ceritanya sekarang mau curhat nih? Tadi bilangnya aman.' Dena melipat tangan di dada. Senyum genitnya yang provokatif mulai mengembang.

Desy mendengkus, menatap adiknya dengan sengak. 'Mau dengerin nggak?!'

'Naha sia teh?!' balas Dena, nyolot. 'Canda. Lanjut.'

Desy menghela napas. Menghadapi manusia setengil Dena Natalia memang butuh kesabaran ekstra. Desy melempar tisu kotor ke atas meja, menutupi mille-crepes yang sejak tadi belum sama sekali Desy sentuh itu.

'Ya, aku ngerasa bosen. Ngerasa hidup aku itu gini-gini aja.'

'Gini-gini aja?'

'Nine to five. Duduk depan komputer. Weekend di rumah, tidur. Atau olahraga kalau lagi niat pas Minggu pagi,' kata Desy. Suaranya terdengar lelah. 'Template. Bosen. Nggak ada challenge-nya sama sekali.'

'Kamu... butuh tantangan?' tanya Dena. Dia menyandarkan punggungnya, menatap kakaknya serius. Satu detik berlalu. Dena tiba-tiba menggebrak meja. 'Ah! Aku ada ide!'

'Apa?'

'Resign.'

Desy berdecak. 'Nggak segampang itu!'

'Tantangan mana ada yang gampang, Ci Desy?'

'Don't call me Cici, weirdo.' Desy paling tidak suka Dena memanggilnya dengan embel*-embel Cici*.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 20 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

[Miniseri] DAISY'sCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang