Bab 1: Ruang Putih dan Vonis yang Membelah Dunia

12 1 0
                                        

Bau karbol dan antiseptik adalah hal pertama yang menyapa indra penciuman Karin. Baunya begitu tajam, menusuk rongga hidung hingga membuat perutnya bergejolak mual. Kelopak matanya terasa seberat beton. Ketika ia mencoba membukanya, cahaya lampu neon di langit-langit ruangan langsung menusuk retinanya, memaksanya untuk kembali memejamkan mata dengan erangan tertahan.

Kepalanya tidak hanya terasa sakit; kepalanya terasa seperti baru saja dibelah, diisi dengan timah panas, lalu dijahit kembali. Ada bebat tebal yang melingkari tengkoraknya, menekan dengan konstan.

"Karin... Sayang, kamu sudah sadar?"

Suara ibunya terdengar serak dan bergetar, disusul dengan usapan hangat di punggung tangan Karin yang tertancap jarum infus. Butuh waktu bermenit-menit bagi gadis berusia tiga belas tahun itu untuk memfokuskan pandangannya. Di usianya yang baru saja menginjak kelas 7 SMP, mengenakan seragam putih-biru adalah kebanggaan terbesarnya sebulan yang lalu. Kini, dunia putih-birunya tergantikan oleh putihnya seprai rumah sakit dan birunya baju pasien.

"Ma..." Suara Karin keluar seperti desisan angin, tenggorokannya kering kerontang bagai kertas ampelas.

Ia mencoba bergeser, ingin duduk untuk mengurangi tekanan di kepalanya. Otaknya mengirimkan perintah ke otot-otot tubuhnya, tetapi ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Perintah itu seolah terputus di tengah jalan. Karin mencoba menggerakkan kaki kanannya. Nihil. Ia mencoba kaki kirinya. Tetap diam.

Kepanikan mulai merayap naik dari dada ke tenggorokannya. Napasnya berubah memburu. Monitor pendeteksi detak jantung di sebelahnya mulai berbunyi lebih cepat. *Tit... tit... tit... tit!*

"Ma, kaki Karin... kaki Karin kenapa nggak bisa gerak, Ma?" Matanya membelalak, menatap ibunya dengan teror yang melumpuhkan. Tangannya meremas seprai dengan panik. Ia memukul-mukul pahanya sendiri, tetapi sensasi yang dirasakannya seperti ia memukul benda mati. Tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa sentuhan. Kosong.

Ibunya langsung terisak, menekan tombol panggil perawat dengan brutal. Air mata wanita paruh baya itu tumpah, menenggelamkan wajahnya di tepi ranjang Karin. "Sabar, Nak. Sabar... Dokter sedang ke sini. Kamu baru saja selesai operasi."

Pintu ruangan terbuka lebar. Seorang dokter bedah saraf setengah baya dengan kacamata berbingkai kawat masuk diikuti dua orang perawat. Dokter itu menyorotkan senter kecil ke mata Karin, memeriksa respons pupilnya, lalu mencatat sesuatu di papan klip. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk situasi yang terasa seperti kiamat bagi Karin.

"Karin, syukurlah kamu sudah melewati masa kritis," ucap dokter itu dengan nada datar namun menenangkan. "Operasi pengangkatan tumor di lobus temporalis-mu berjalan lancar. Tapi, seperti yang sudah saya jelaskan kepada orang tuamu, ada efek samping sementara dari prosedur ini."

"Sementara? Kenapa saya tidak bisa merasakan kaki saya, Dok? Apakah saya lumpuh?!" Suara Karin melengking, campuran antara tangisan dan amarah.

"Tekanan pada jaringan otak pasca-operasi menyebabkan kelumpuhan sementara. Kami memprediksi ini akan berlangsung sekitar satu bulan dengan fisioterapi intensif. Kamu akan bisa berjalan lagi, Karin. Tapi..." Dokter itu menghela napas panjang, menatap bergantian antara Karin dan ibunya. "Ada hal lain yang harus kita diskusikan. Sesuatu yang akan menjadi bagian dari hidupmu mulai sekarang."

Kamar itu tiba-tiba terasa jauh lebih dingin. Detak jantung Karin seakan berhenti di udara.

"Berdasarkan observasi gelombang otak sebelum dan sesudah operasi, serta beberapa riwayat kejang kecil yang sering kamu alami berupa *blank out* atau tatapan kosong, kami mendiagnosis kamu mengidap Epilepsi Parsial Kompleks," jelas dokter itu perlahan, memilih kata-katanya agar tidak terdengar terlalu klinis.

"Epilepsi?" Karin terkejut. Kata itu terasa asing sekaligus menakutkan. Yang ia tahu tentang epilepsi hanyalah stigma mengerikan: mulut berbusa, kejang-kejang di lantai, kutukan.

"Epilepsi parsial kompleks berbeda dari yang mungkin kamu bayangkan," lanjut sang dokter, seolah membaca isi pikiran gadis itu. "Kamu mungkin tidak selalu kejang seluruh tubuh. Kadang kamu hanya akan kehilangan kesadaran selama beberapa detik hingga menit, melakukan gerakan berulang seperti mengecap bibir, atau berjalan tanpa arah tanpa kamu sadari. Saat itu terjadi, kamu tidak akan ingat apa-apa."

Dunia Karin runtuh detik itu juga. Operasi tumor yang ia kira adalah akhir dari penderitaannya, ternyata hanyalah gerbang masuk menuju neraka yang baru.

Ia membayangkan teman-teman SMP-nya yang kejam. Gadis-gadis populer yang suka mengomentari hal sekecil apa pun. Bagaimana reaksi mereka jika melihat Karin tiba-tiba kehilangan kesadaran di tengah kantin? Bagaimana jika ia *blank* saat ujian matematika?

Air mata Karin jatuh tanpa suara. Ia menatap kaki-kakinya yang tak bernyawa di bawah selimut, lalu menyadari bahwa kelumpuhan fisik ini hanyalah awal. Penyakit yang bersarang di otaknya kini bukan sekadar daging tumbuh yang bisa dipotong dan dibuang, melainkan korsleting listrik yang akan terus menghantuinya. Ia belum tahu bahwa di luar rumah sakit ini, intimidasi, tatapan jijik, dan bisikan tajam dari teman-temannya sudah menanti untuk mengoyak kewarasannya yang tersisa.

Bayangan kelam baru saja merentangkan sayapnya di atas kehidupan Karin, dan ia bahkan belum bisa melangkah untuk lari darinya.

***
Hai..hai... Ruffie here 🫶
Kali ini novelnya based on penyakit yang aku derita selama ini ya. Epilepsi partial compleks. Tapi, hanya 50%-nya aja nih sisanya sepertinya biasa karangan indah xoxo....

Happy reading ❤️
Jangan lupa vomentnya yaaa. Muach muach ❤️❤️

Out Of ShadowStories to obsess over. Discover now