Woojin baru saja menyelesaikan hisapan sebatang rokok nya saat tiba-tiba suara grasak grusuk terdengar menuju ke arahnya.
Woojin berada di belakang sekolah. Ini adalah tempat yang biasanya hanya dia yang mendatangi. Siapa sangka dia akan kedatangan tamu.
"Apa maksudmu mengatakan hal semacam itu pada Sangwon eoh!?" Nada suara yang amat tajam. Nada suara itu yang langsung menjadi kata sambutan dari para tamu yang mendatangi tempat ternyawan Woojin di sekolah.
"Wae? Kamu takut tidak di pandang sebagai pacar yang baik lagi? Kamu takut hubungan yang membuat seluruh isi sekolah iri hancur?"
Terdengar helaan nafas frustasi. Sebelum akhirnya hening panjang.
Woojin menghela nafas pelan. tidak ingin perduli, tapi rasanya drama ini cukup menarik. Jadi dia tetap betah bersembunyi di balik tembok berwarna putih tua itu. Menantikan apakah akan ada kejutan menarik lagi yang bisa dia dengar.
"Sudah ku bilang, tunggu satu tahun lagi. Saat aku lulus, aku akan mengakuimu sebagai kekasihku. Tapi kali ini, bisakah kamu tetap bersembunyi?"
Kalimat itu yang Woojin dengar selanjutnya. Dia menyeringai kecil. Menjijikan. Jadi drama ini adalah tentang seseorang dengan dua kekasih?
"Bukankah aku sudah melakukan nya selama 2 tahun?"
Woojin, menyunggingkan senyum. Dia merogok kantong celana nya, mengeluarkan sebatang rokok lagi. Sepertinya drama nya masih panjang.
"Cukup bersabar lebih lama, eum. Liyu-a, aku selalu menjadi milikmu, oke."
Liyu? Chuei Liyu?
Woojin melirik sesaat, melihat dua sejoli yang akhirnya saling berpelukan. Matanya agak memicing, memastikan sesuatu. Dan saat dia sudah mendapatkan apa yang dia mau. Tatapan nya menjadi penuh penghinaan.
Menjijikan.
Setelah pelukan itu usai, seseorang akhirnya di tinggalkan begitu saja. Dia hanya menunduk, menatap sepatunya yang berwarna hitam pekat.
Karna di rasa drama nya sudah selesai, akhirnya Woojin keluar dari persembunyian.
Dia melangkah ke arah seseorang yang baru di tinggalkan. Mengepulkan asap rokok ke arah wajah murung itu, hingga dia terbatuk.
"Uhukk, Woojin, kenapa kamu disini?" pekik Liyu kaget.
"Murahan. Sangat persis dengan ibumu." sarkas nya lalu beranjak pergi. Dia sama sekali tak menghiraukan pertanyaan Liyu.
"Kang Woojin!! Jaga ucapan mu! Uhukk."
"Wae? Kau tidak terima? Bukankah kalian sama persis, sama-sama suka berada di tengah-tengah hubungan harmonis orang lain." Woojin, langsung melempar puntung rokok nya ke arah Liyu.
Mata Liyu sudah sangat berkaca-kaca. Namun dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
***
Kelas mulai ramai, saat bel masuk berbunyi.
Seperti biasa, siswa jangkung dengan nametag Kang Woojin itu, langsung mengambil bangku paling belakang. Menyendiri seperti biasanya.
Tidak lama Chuei Liyu ikut masuk. Wajahnya nampak lebih murung dibanding saat dia di tinggalkan kekasih rahasia nya tadi. Mungkin bebannya semakin berat sejak mendengar cemoohon dari Kang Woojin.
Woojin, langsung membuang muka. Muak sekali karna harus berada di kelas yang sama bersama orang yang sangat dia benci.
"Woojin-ah, mau nonton bersamaku sepulang sekolah?" seorang gadis berambut panjang tiba-tiba menghampiri Woojin, seraya menyodorkan kotak makan berisi roti isi. Perhatiannya pada Chuei Liyu langsung teralihkan seketika.
"Apa kau tidak dengar bel masuk sudah berbunyi? Kembali ke tempat dudukmu!"
Bukan Woojin yang menjawab. Ada suara lain yang mewakili nya untuk menolak.
Woojin sangat hapal asal suara itu.
Lee Sangwon. Ketua kelas yang juga adalah kekasih dari Lee Leo, kekasih rahasia Chuei Liyu.
"ck. Lee Sangwon. Kenapa kau selalu menghalangi orang lain punya kekasih. Kau hanya ingin menjadi satu-satunya yang beruntung di sekolah ini. Karna di cintai begitu hebat oleh senior Leo, kan." siswi itu merengut, namun tetap patuh pada Sangwon dan kembali ke bangkunya.
"Berisik." Sangwon, mendelik.
"Tentu saja hanya Sangwon seorang yang akan membuat kita iri seumur hidup. Bagaimana bisa dia dapat Kak Leo, yang sangat mencintai dia dalam segala hal." Keluh siswi lain, yang menonton pertunjukan itu.
Sangwon, duduk di bangkunya dengan santai sebelum dia melontarkan sindiran dengan suara keras, "Apa itu alasan seseorang datang untuk mengadu domba, dan membuat kami hampir bertengkar." Dia menatap sinis ke arah Liyu yang sudah terdusuk lesu di bangkunya.
Seluruh isi kelas reflek mengikuti arah mata Sangwon. Dan mereka langsung paham yang Sangwon maksud.
Mereka saling menatap seolah berkata, "Berani-beraninya dia mengusik pasangan ideal sekolah ini."
Sepertinya masa sekolah Liyu tidak akan mudah dari sekarang.
