Atualizamos nossas Diretrizes de Conteúdo.
Consulte as diretrizes mais recentes para continuar compartilhando histórias com segurança.

(1)

8 3 1
                                        

||√

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.

|
|

Sejak kecil, aku memang tidak pernah nyaman berada di tengah keramaian. Aku lebih sering menghabiskan waktu sendirian daripada bergabung dengan teman-teman sebayaku.

Di sekolah, namaku cukup dikenal. Beberapa kali aku mewakili sekolah dalam lomba cerdas cermat, baik tingkat kota maupun provinsi. Karena itu, banyak orang mengenalku. Setiap kali berpapasan di koridor, mereka akan menyapa, tersenyum, bahkan mengajakku mengobrol.

Namun, semuanya berubah begitu aku melangkah pergi.

"Apa istimewanya dia? Diam terus, kayak patung."

"Heran, kenapa orang kayak gitu bisa terkenal di sekolah."

Kalimat-kalimat itu beberapa kali kudengar tanpa sengaja. Saat itulah aku sadar, tidak semua sapaan berarti ketulusan. Ada yang tersenyum di depan, tetapi berbicara sebaliknya saat kita sudah membelakangi mereka.

Mungkin karena itu, aku tidak pernah benar-benar menganggap mereka sebagai teman.

Aku diam bukan karena tidak mendengar. Bukan juga karena takut. Memang begitulah sifatku-lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Aku tidak pernah membalas ucapan mereka atau menegur saat mereka membicarakanku di belakang. Bukan karena aku tidak terluka, melainkan karena aku merasa tidak ada gunanya. Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk mengubah cara mereka memandangku, dan aku juga tidak ingin menghabiskan tenaga untuk menjelaskan diriku kepada orang yang sejak awal tidak berniat memahami.

"haii, nama lu Lizzie kan ya?"

mengangguk

"jawab dong, punya mulut juga"

"iya."

"singkat bener jawabnya"

"..."

"emm, kalo boleh tau lu tinggal dimana?"

"GLC"

"beneran?! gw juga tinggal di deket situ"

"..."

"di jalan apa?"

"jalan jambu"

"njir! fix kita tetanggaan sih!!"

"..."

Davin mengembuskan napas pelan. Raut wajahnya menunjukkan sedikit rasa kesal. Sejak tadi ia terus berbicara, tetapi orang di hadapannya tidak memberikan respons sedikit pun.

huff, sabar vin. suatu hari nanti dia pasti mau temenan sama lu.

"em... zie, boleh ga ajarin gw yang ini?" Davin menyodorkan bukunya ke meja Lizzie.

"ga."

"jawaban lu cepet amat. otaknya loading SSD ya?"

"ga."

THE OUTLIERHistórias para pegar e não largar. Descubra agora