prolog

27 13 5
                                        

"Jun, kamu ingkari janji itu?," Wanita bercadar itu mematung di hadapan Jundu.
Jari telunjuknya terangkat, sejajar dengan hidung Jundu yang sedikit panjang. Tangan kirinya mengepal ke bawah, jari jemarinya menutup sempurna.
Jundu menarik nafas panjang, kepalanya tertunduk menatap lantai kotak berpola abstrak. Hatinya tak kuasa apabila harus beradu pandang dengan netra Asya yang penuh dengan kaca bening, nyaris tumpah.

"Maaf Asya, aku tak bermaksud untuk ingkar janji," Pundak Jundu turun perlahan. Nada serak dari suaranya terdengar parau.

Asya membuang pandangannya ke sembarang arah. Matanya menangkap rembulan yang tengah asyik menunjukan cahaya putihnya.
Meskipun langit telah kelabu, namun bulan itu tidak pernah kehilangan cara untuk tetap bersinar. Begitupun seharusnya dengan kita. Mau Sejahat apapun dunia menghantam kehidupan, mau sejahat apapun ujian menerpa, mau segelap apapun kelabu masalah. Kita harus tetap punya cara untuk tersenyum dan besinar.

"Ck, tak mengapa, tak usah banyak beralasan." Mata Asya belum berpaling. Nyatanya ia masih enggan menatap lelaki penghianat yang sedang berlutut di belakangnya.

"Maaf Sya, harusnya dari awal, saya tak pernah memberikanjanji itu, saya menyesal Asya. Perjodohan yang menjadi alasan saya menghianati janji ini." Jundu berkata pelan, dalam hatinya ia masih sangat menginginkan asya. Lututnya masih setia menyentuh tanah. Berharap Asya akan menoleh dan menerimanya kembali.

Asya tersenyum di balik cadarnya, ada sesak di dada yang sulit untuk dijelaskan.

"Sudahlah Jun, sekarang kita lupakan semuanya. Kamu juga sudah punya istri." ucap Asya lagi. Asya meyeret kakinya pelan ke arah tangga menuju lantai bawah. Langkahnya tergesa, matanya menatap lurus ke depan. Tanpa menoleh ke arah Jundu sama sekali.

"Apa taqdir memang punya jalannya sendiri?" lirih wanita di balik pintu kayu putih yang berada tak jauh dari Jundu dan Asya.
Rupanya, percakapan dua insan yang terpisahkan oleh takdir tadi, terdengar jelas oleh wanita yang statusnya sudah sebagai istri. Kaca-kaca bening menggenang di pelupuk mata saat menangkap bahwa sang suami tersimpuh tunduk untuk wanita lain.

"Apa benar yang namanya taqdir buruk itu tidak ada???, aku percaya, tapi mengapa kenyataan justru menyangkalnya?," Wanita itu meremas ujung hijabnya kasar.

Cadar merah yang menempel kuat pada wajah anggunnya perlahan basah. Lutut yang menopang seluruh tumpuan tubuhnya mulai begetar.
"Aku tak ingin berbahagia di atas penderitaan orang lain. Apa?, bahagia???, ck, tak ada rasa bahagia selama ini. Aku hanyalah bayangan di balik dia yang belum pernah mau ikhlas" Wanita itu membuang pandangannya ke arah langit yang semakin gelap.

Bintang-bintang mulai bermunculan menghiasi malam.
"Aku kalah, aku kalah oleh taqdir yang seolah menghantam ku habis habisan, aku pergi ya Allah.
Biarlah aku yang mengalah." Wanita itu membalik ke belakang. Ia memaksakan kakinya melangkah pergi. Walaupun rasanya berat.

Setelah mendengar percakapan itu, Giza lansung pergi ke kamar, membereskan baju dan barang lainnya. Lalu memasukannya ke sebuah koper biru yang cukup besar.

"Aku pergi, aku kalah." Sebelum melangkahkan kaki keluar. Giza menulis beberapa kata untuk suaminya di atas kertas.
Dengan tangan yang gemetar, Giza meletakannya di atas ranjang. Agar suatu waktu, suaminya bisa melihatnya.
Ia memutuskan untuk pergi-walau tak menentu tujuannya.

Giza pergi diam-diam, tanpa sepengetahuan jundu dan keluarganya.
Setelah percakapan menggantung dengan Asya tadi, Jundu pergi bergegas ke kamar dengan niat, ingin menemui Giza.

"Giza" Tangan Jundu membuka pintu kamar kasar. Engselnya miring nyaris lepas.

Hening, tak ada yang menyaut ucapan Jundu.

"Gizaaaa" Jundu kembali memanggil. Kali ini, dengan suara yang cukup nyaring sembari menelusuri setiap ruangan yang ada di kamarnya. Setiap pintu Jundu buka.

Hanya untuk menemukan sosok Giza.

Di tengah mencari, pandangan jundu terhenti pada secarik kertas di atas kasur.
Tergeletak begitu saja. Seolah itu buianlah sesuatu yang penting.

Jundu mendekat, lalu meraih kertas itu pelan.
Tulisan di kertas itu tak panjang, isinya singkat dan cukup jelas.-tapi surat itu mampu membuat Jundu berhenti sebentar setelah membacanya.

"Kak, aku kalah, aku memilih menyerah kak.
Silahkan berbahagia dengan kak Asya, Giza ikhlas" begitu isi surat yang Giza tinggalkan.

Jundu terdiam sejenak. Lututnya bergetar hebat. Matanya memandang kosong kertas tadi.
Pada akhirnya, Jundu menyadari satu hal-ia telah kehilangan orang yang paling bermakna, hanya karna dia belum selesai dengan masa lalu.
Jundu juga sadar bahwa, janji bukan hanya sekedar ucapan, tapi juga hutang yang harus dibayar

Puzzle Takdir[Segera TERBIT]Stories to obsess over. Discover now