Bab 1: Dunia Tanpa Suara

1 0 0
                                        

Ini hari pertama mereka resmi menjadi siswa kelas 8 SMP Harapan Bangsa. Suasana sekolah terasa beda dari biasanya: lorong yang dulu sepi kini riuh penuh tawa, teman-teman saling mencari nama di daftar kelas, dan ada rasa gugup bercampur senang karena masuk ke lingkungan baru.

Namun bagi Raka Adyasasta, semuanya tetap sunyi senyap.

Sejak lahir, ia tak bisa mendengar sedikitpun suara, dan tak bisa mengucapkan satu kata pun. Bagi orang lain, ia seperti bayangan yang selalu diam. Bagi Raka, dunia adalah lukisan bergerak yang indah tanpa iringan bunyi.

Ia duduk sendirian di bangku paling belakang, di samping jendela besar. Angin pagi bertiup lembut, membawa wangi rumput basah dan bunga kamboja. Di atas meja tergeletak buku sketsa bersampul abu-abu tua. Pensil di tangannya bergerak lincah dan rapi, menggambar pemandangan di luar sana: awan mendung yang berjalan pelan, dedaunan yang bergoyang, dan bayangan pohon yang jatuh ke lantai koridor.

Teman sekelas sesekali meliriknya, berbisik pelan, lalu kembali sibuk mengobrol. Tak ada yang berani mendekat.

Tiba-tiba pintu kelas terbuka agak keras.

Seorang gadis berdiri di sana dengan napas terengah-engah. Wajahnya memerah karena habis berlari, rambut panjangnya sedikit berantakan terkena angin, dan seragamnya sudah rapi meski sedikit berdebu.

"Maaf Bu... saya terlambat!" ucapnya pelan sambil menunduk.

Bu Jeseline, wali kelas mereka, tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, Aruna. Masuklah, duduk di tempat yang masih kosong."

Gadis bernama Aruna menoleh ke sekeliling. Matanya menyapu setiap bangku yang sudah terisi. Ternyata hanya ada satu kursi kosong tersisa: tepat di sebelah meja Raka di pojok belakang.

Dengan langkah ragu, ia berjalan mendekat. Saat melewati barisan tengah, ia mendengar bisikan pelan:
"Itu Raka... dia tidak bisa dengar dan bicara lho..."
"Jangan harap bisa ngobrol sama dia..."

Aruna hanya diam dan terus berjalan. Ia meletakkan tas di kursi kosong, lalu duduk perlahan.

Saat ia mulai menata buku pelajaran, angin bertiup lebih kencang. Sehelai rambut hitam panjangnya terbang jatuh, menempel tepat di pipi Raka.

Raka berhenti menggambar. Ia mengangkat wajah perlahan.

Mata mereka bertatapan langsung.

Waktu seolah berhenti berputar di detik itu. Mata Raka sangat jernih, tenang, dan menatapnya tulus tanpa rasa asing sedikitpun. Jantung Aruna tiba-tiba berdetak sangat kencang, seolah mau melompat keluar dari dada.

Tanpa ragu, tangan Raka terangkat pelan. Jari-jarinya yang ramping dan bersih menyentuh ujung rambut itu dengan sangat lembut, lalu menyelipkannya ke belakang telinga Aruna seolah takut menyakiti.

Aruna terpaku kaku di tempat. Wajahnya langsung memerah padam sampai ke ujung telinga. Ia sama sekali tak menyangka akan diperlakukan sehalus itu.

Raka menatapnya sesaat, lalu mengukir senyuman tipis yang sangat hangat di sudut bibirnya. Setelah itu ia kembali menunduk melanjutkan gambarnya seolah tak ada hal istimewa.

Aruna masih duduk diam, tangannya menekan dada yang berdegup tak beraturan. Ia menoleh sedikit ke arah buku sketsa Raka yang terbuka.

Di halaman baru, tergambar jelas wajahnya sendiri. Persis seperti saat ia tadi terkejut dan memerah.

Aruna menelan ludah pelan. Ia sama sekali tidak tahu bahasa isyarat. Ia tak tahu bagaimana cara berbicara dengan anak laki-laki di sebelahnya.

Tapi entah kenapa, rasa penasaran dan kehangatan aneh mulai merayap di hatinya.

Siapa sebenarnya dirimu, Raka?

Cinta Tak Butuh Kata Stories to obsess over. Discover now