.
Aroma kopi hitam yang membubung dari cangkir kertas di atas meja menjadi satu-satunya penyelamat pria bersurai pirang di pagi ini. Di depannya, layar komputer sudah menampilkan tumpukan berkas spreadsheet yang seolah tidak ada habisnya.
"Nih."
Sebuah roti isi keju tiba-tiba mendarat di samping keyboard-nya. Jimin menoleh, menemukan pria berambut coklat gelap dengan mata bulatnya, rekannya, yang tersenyum lebar sembari menarik kursi beroda milik kubikel sebelah dan duduk santai di sana.
"Thanks, Kook. Lo selalu tahu apa yang gue butuhin pagi-pagi," ujar Jimin sembari terkekeh pelan dan langsung menggigit roti tersebut.
"Ya lagian tiap pagi begini, muka lo tuh udah langsung lemes duluan, padahal jam kerja baru aja jalan sepuluh menit," goda Jungkook.
"Ck, ya mau gimana. Gue rasanya pengen hidup santai aja. Tapi nyatanya kan, dompet gabisa mandiri buat ngisi badannya sendiri." saut jimin sambil menyesap kopinya.
"Haha, lagian gue dari kemaren-kemaren udah nawarin diri buat nafkahin lo, lo nya aja kan yang ngga mau." jawabnya dengan mata yang berotasi malas.
"Ngaco lo!" sembur jimin menyikut lengan jungkook. Yang di sikut hanya tertawa meledek sambil mengunyah kembali rotinya.
Merekapun lanjut mengobrol santai, saling melempar lelucon tipis untuk mengurangi stres pekerjaan yang menumpuk. Kehadiran Jungkook selalu berhasil membuat suasana kerja Jimin terasa jauh lebih ringan.
Namun, suasana santai itu mendadak menguap dalam hitungan detik.
Suara sepatu pantofel yang beradu tegas dengan lantai marmer koridor luar terdengar mendekat. Seketika, area perkantoran yang tadinya riuh dengan obrolan ringan berubah menjadi hening. Para karyawan yang tadinya berdiri langsung kembali ke meja masing-masing dengan sikap sempurna.
Dari balik pintu kaca utama, sosok tinggi tegap melangkah masuk. Kim Taehyung. Yang merangkap sebagai Kepala Pimpinan kantornya, a.s. CEO.
Itu baru kali kedua Jimin melihat presensi sang Bos Besar secara langsung di area operasional. Pria itu hampir tidak pernah menampakkan batang hidungnya di lantai staf bawah jika tidak ada hal yang sangat krusial.
Taehyung berjalan cepat dengan setelan jas hitam yang membalut tubuhnya secara sempurna. Auranya dingin, wajahnya datar tanpa ekspresi, dan pandangannya lurus ke depan, seolah-olah semua staf di ruangan itu tidak lebih dari sekadar pajangan.
"Dia... emang sedingin itu, ya?" bisik Jimin sangat pelan, sedikit menunduk ke arah Jungkook tanpa memalingkan mata dari sosok Taehyung.
"Kayaknya sih, rasanya atmosfer ruangan langsung beda."
Jungkook ikut berbisik, jemarinya pura-pura sibuk mengetik keyboard.
"Udahlah. Mending kita fokus kerja aja daripada kena tegur. Dia kalau udah ngomong tajam banget." sambung jungkook lalu mulai fokus pada runtutan huruf di laptopnya.
Saat langkah Taehyung hampir melewati deretan kubikel mereka menuju ruang rapat utama bersama para manajer, pria itu mendadak menghentikan langkahnya selama sepersekian detik. Entah kenapa.
Jimin yang saat itu sedang memperhatikan dari kejauhan, tidak sempat mengalihkan pandangannya.
Untuk sekelebat detik yang singkat, pandangan mata mereka berdua berpapasan. Mata tajam Taehyung menatap tepat ke arah Jimin. Manik matanya datar, gelap, dan tak terbaca. Tatapan itu terasa begitu berat sampai-sampai Jimin lupa caranya bernapas.
Namun, belum sempat Jimin mencerna apa yang baru saja terjadi, Taehyung sudah mengalihkan pandangannya kembali lurus ke depan. Pria itu menyapu jasnya tipis, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruang rapat utama seolah tatapan tadi tak pernah terjadi.
Jimin mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya, memegangi dadanya yang berdegup sedikit lebih cepat.
"Apa-apaan, intimidate banget." gumamnya bergidik.
"Dia emang gitu, padahal dia masih tergolong muda sepantaran kita. Bahkan umur dia pun masih dibawah gue." sahut salah satu rekannya dari belakang. Name tag nya terulur kebawah, tertulis 'Kim Seokjin'
"Loh? Emang berapa, hyung?" tanya jungkook ikut menyaut.
"27 tahun."
"Hell?! Seumuran gue??!" kaget jimin berseru, tak pernah terpikirkan olehnya umur sosok yang jadi pemimpin kantor bisa sangat muda begitu. Terlebih sama dengannya.
"Well, dia diangkat jadi CEO juga karna pewarisnya sih. Kenapa udah di angkat di umur yang masih semuda itu? Gue ngga tau jelas, tapi sependengaran gue, karna bokapnya mau urus bagian di negara lain juga. Jadi yang nanganin disini, ya dia serahin ke anaknya." jelas seokjin sambil berbalik badan lagi, mulai melanjutkan kerjaannya yang sempat tertunda.
"Wew, gue jadi agak takjub. Tapi ya-" ucapannya terhenti, ketika melihat jimin yang terlihat syok dan tak berkedip.
Jungkook mendekat dengan alis mengerut kecil, dia mengulurkan tangannya untuk menutup mulut jimin yang terbuka. Kemudian berdecak kesal.
"Biasa aja kali, mbul. Namanya juga pewaris ya mau gamau harus ngejalanin ranah yang udah di tetapinnya kayak gitu. Gue juga kalau dari keluarga berada, gede kayak gitu, juga bisa lebih dari dia." saut jungkook kesal, merotasikan matanya. Lalu menarik bangku jimin sedikit mendekat kearahnya, membuat yang ditarik tersentak kecil.
"Ck. Ya tetep aja kook. It's so cool. Gitu-gitu dia udah beberapa kali menangin tender yang ngebuat kantor kita jadi makin maju kayak sekarang kan? Gue cuma agak spechless aja dikit. Ya ya, lo lebih jago dari dia." decak jimin dan terkekeh kecil setelahnya.
Jungkook hanya merengut kecil dan kembali melanjutkan kerjaannya sambil menyerup kopinya. Entah kenapa moodnya jadi sedikit jelek mendengar jimin yang memuji Bosnya, berpikir bos nya hanya akan besar kepala kalau-kalau mendengar pujian yang jimin lontarkan. Ugh, jengkelnya terasa makin bertambah.
Sementara sosok yang dibicarakan hanya menatap layar dengan pandangan datarnya. Matanya lalu melirik kejendela yang hanya terbuka setengahnya.
"Ck. Membosankan."
.
.
.
"Tebecew"
Thanks fo' reading ^•^
![Between Us [Vminkook]](https://img.wattpad.com/cover/414671288-64-k967453.jpg)