Lonceng gereja baru saja berhenti berdentang ketika Adora berdiri terpaku di anak tangga terluar halaman. Sore itu, langit ibu kota berubah jingga keemasan, memantul lembut di kaca-kaca jendela bangunan tua bergaya gotik tersebut. Di luar sana, jalanan tampak ramai, namun suasana di pelataran gereja terasa begitu tenang, menyisakan keheningan yang kontras dengan gemuruh di dada Adora.
Sebagai seorang perempuan muslim, keberadaannya di tempat itu bukan tanpa alasan. Ia datang untuk menjemput dan menunggu sahabat baiknya, Sasa, yang hari itu sedang mengikuti ibadah sore di dalam gereja. Keduanya sudah membuat janji untuk langsung pergi mengerjakan tugas kuliah bersama begitu ibadah selesai.
Sambil menunggu, Adora memilih duduk di bangku panjang di dekat pintu samping, menikmati semilir angin sore sambil memainkan ponselnya. Namun, waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Ketika ibadah akhirnya bubar dan jemaat mulai berhamburan keluar, Adora beranjak berdiri untuk mencari sosok Sasa di antara kerumunan orang yang saling bersalaman dan menebar senyum damai.
Di tengah kebingungan mencari sahabatnya itu, langkah seorang pemuda tiba-tiba terhenti tepat di hadapannya.
Namanya Marcel. Kemeja putih berbalut jaket denim yang dikenakannya tampak kontras dengan latar belakang dinding gereja yang megah. Mata mereka beradu pandang untuk sepersekian detik. Marcel menatapnya dengan pandangan bertanya, seolah mengenali sesuatu-atau justru terpesona oleh ketenangan yang terpancar dari wajah Adora yang terbingkai rapi oleh pashmina abu-abu.
"Hai," sapa Marcel ramah, melangkah mendekat dengan senyuman tulus. "Kamu... lagi nunggu Sasa, ya?"
Adora terperanjat kecil, matanya mengerjap. "Kok tahu?" tanyanya dalam hati, merasa heran karena Marcel seolah bisa menebak tujuannya.
Jantung Adora berdegup lebih kencang dari biasanya. Ada rasa canggung yang tiba-tiba menyergap. Ia tahu identitas mereka berbeda, dan tempat ia berdiri saat ini bukanlah tempat yang biasa ia singgahi. Namun, tatapan Marcel sama sekali tidak menghakimi; yang ada hanya kehangatan.
Alih-alih menjawab dengan rentetan kata, Adora hanya terdiam. Bibirnya terasa terkunci rapat. Bukan karena takut, melainkan karena ia merasa kikuk harus membalas apa di lingkungan yang asing baginya. Ia menarik napas pelan, lalu membalas sapaan itu dengan sebuah senyuman tipis yang menyembunyikan segala kegugupannya.
Marcel tampaknya mengerti bahwa Adora sedang tidak ingin-atau mungkin bingung-berbicara banyak. Alih-alih merasa diabaikan, pemuda itu justru tertawa kecil pelan, menyadari situasi canggung tersebut.
"Ah, maaf kalau bikin kaget," ujar Marcel lembut, berdiri tidak jauh darinya sambil ikut menatap ke arah pintu gereja. "Tadi aku lihat Sasa pamit ke temannya mau nyamperin kamu di luar, tapi kehalang antrean jemaat. Aku kebetulan kenal Sasa dari kelompok koor."
Adora mengangguk pelan. Dalam diamnya, ia merasa lega karena teka-teki mengapa Marcel mengenalnya perlahan terjawab. Ia kembali terdiam, membiarkan keheningan mengambil alih percakapan mereka.
Beberapa detik kemudian, sosok Sasa muncul dari balik pintu gereja sambil melambaikan tangan, memanggil nama Adora dengan antusias.
Adora menoleh ke arah sahabatnya, lalu beralih memandang Marcel sekali lagi, menganggukkan kepala sebagai tanda terima kasih dan pamit. Marcel membalas anggukan itu dengan senyuman hangat yang sama seperti pertama kali ia melihatnya.
Adora melangkah pergi menyusul Sasa, meninggalkan pelataran gereja dengan sejuta rasa di dada-tentang indahnya toleransi, pertemuan tak terduga, dan bagaimana sebuah keheningan bisa berbicara jauh lebih banyak daripada kata-kata.
