BAB 1

91 9 0
                                        

Suara tangis Kalandra memecah heningnya kamar kontrakan berukuran tiga kali empat meter itu. Nadira terbangun kaget, matanya terasa sepet berat karena baru tertidur kurang dari dua jam. Dengan gerakan cepat-refleks seorang ibu tunggal yang tak punya bahu untuk bersandar-ia merengkuh tubuh mungil berusia lima bulan itu ke dada.

​"Sshh... tenang, ya, Sayang. Mama di sini," bisik Nadira parau. Ditepuk-tepuknya pelan punggung kecil Kalandra sambil mengayunkan badannya maju-mundur.

​Keringat dingin membasahi dahi Nadira. Selain capek fisik, kepalanya juga cenut-cenut memikirkan uang sewa kontrakan yang menunggak dua minggu. Di usia dua puluh satu tahun, ketika gadis-gadis seusianya sibuk kuliah atau nongkrong di kafe, Nadira sudah harus bertaruh nyawa untuk menghidupi dirinya sendiri dan bayinya.

​Mata Nadira menerawang menatap langit-langit kamar yang catnya mengelupas. Setiap kali sepi mencengkeram seperti ini, ingatan pahit itu selalu memaksa masuk.

​Dua tahun lalu, Nadira hanyalah gadis remaja yang sebatang kara setelah ibunya meninggal karena kanker. Tanpa orang tua dan modal hidup yang cukup, ia kepincut manisnya janji seorang pria bernama Rendy-cinta pertamanya yang ia kira bakal jadi penyelamat. Nadira yang haus kasih sayang menyerahkan segalanya.

​Namun, saat garis dua merah itu muncul di alat tes kehamilan, manisnya janji Rendy mendadak menguap. Pria itu menuduhnya macam-macam, menolak bertanggung jawab, dan kabur begitu saja dari hidup Nadira tanpa jejak. Nadira harus melewati masa-masa kehamilan sendirian, menahan malu dari tatapan tetangga, hingga melahirkan Kalandra di puskesmas tanpa didampingi siapapun.

​Sejak hari itu, Nadira sudah bersumpah: ia tak butuh laki-laki. Dunia boleh jahat, tapi ia bakal bertahan demi Kalandra.

​Siang itu, hujan turun merata di area Jakarta Selatan. Nadira melangkah terburu-buru menyusuri trotoar licin, memeluk Kalandra rapat-rapat di balik kain gendongan agar tidak kena cipratan air. Tangannya yang satu lagi memegang payung murah yang sewaktu-waktu bisa terbalik dihantam angin.

​Saat hendak menyeberang di depan sebuah markas tentara, langkah Nadira terpeleset di ubin trotoar yang licin.

​"Aah!"

​Nadira berhasil menjaga tubuhnya agar tidak jatuh menimpa Kalandra, tapi badannya terhuyung keras dan jatuh terduduk di pinggir jalan. Payungnya terlepas, terbang terbawa angin. Dalam sekejap, air hujan mengguyur mereka berdua. Kalandra kaget dan langsung menangis jerit-jerit.

​"Kalandra! Sshh, maafin Mama, Nak... maaf," panggil Nadira panik. Ia berusaha bangun, tapi pergelangan kakinya terkilir parah. Rasa sakit membakar dari tumit hingga ke lutut.

​Di tengah kepanikan dan guyuran hujan, sebuah mobil dinas tentara berwarna hijau tua berhenti mendadak di samping mereka. Pintu samping terbuka, dan seorang pria berpostur tegap dengan seragam loreng turun.

​Rambutnya dipotong rapi gaya militer, ada sedikit uban menyelinap di pelipisnya. Garis mukanya tegas, keras, dan matanya tajam menatap situasi. Pria itu adalah Kolonel Arisya-perwira menengah berusia empat puluh lima tahun yang baru saja pindah tugas.

​"Kamu tidak apa-apa?" Suara Arisya berat dan dalam, mengalahkan bising suara hujan.

​Nadira mendongak, matanya yang basah oleh air hujan dan air mata menatap sosok jangkung di hadapannya. "K-kaki saya... tapi anak saya..."

​Tanpa ragu sedikit pun, Arisya melepas jaket dinasnya yang tebal, lalu menyelimutkannya ke tubuh Nadira dan bayinya agar tidak kehujanan. Pria itu kemudian berlutut di atas aspal wet, menyangga tubuh Nadira dengan tenang.

​"Tenang. Pegang bahu saya," perintah Arisya tegas, namun nada bicaranya menyimpan kehati-hatian yang tak disangka-sangka dari seorang tentara berpangkat tinggi.

Sisa Sisa SenjaStories to obsess over. Discover now