1. Sabar Harus Tak Berbatas

18 1 3
                                        

Pukul sebelas malam di kediaman Gulzar. Sang Nyonya masih duduk di meja makan, dialah Syarhea Hazura Jason.

Di hadapannya tersaji hidangan kesukaan sang suami, Xavier Gulzar.

Ayam panggang lada hitam, sup krim jamur, kentang tumbuk. Dia juga membuat pasta gurih, sebab ia tahu suaminya menyukainya.

Semua hidangan terlihat menggiurkan, kepulan uap membuat siapa saja yang melihatnya ingin lekas mencicipinya. Itu beberapa waktu lalu.

Kini, hidangan telah dingin. Yang tersisa hanya aroma samar yang menggantung di udara.

Mengusap mata yang mulai lelah, lalu Rhea menopang dagu... ia masih ingin menunggu.

Mata indahnya melirik jam dinding tak hanya sekali, ternyata bukan satu atau dua jam ia menunggu...

Sejak petang ia langsung sibuk di dapur.

Padahal, dia juga sibuk di kantor. Demi membuat hidangan-hidangan yang tak lagi hangat itu, dia mengabaikan ajakan beberapa rekan kantor untuk makan bersama.

Hanya satu hal yang Rhea inginkan, makan bersama suami tercinta. Namun, sekarang apa yang dia dapatkan? Lapar teramat menyiksa.

Wajahnya yang cantik, putih berseri mulai muram. Ini bukan kali pertama ia menunggu. Entah mengapa, sekadar kebersamaan sebentar saja teramat sulit ia dapatkan.

"Dia pasti masih sibuk. Nggak apa-apa menunggu sebentar lagi."

Kecil senyumnya, tak sebanding dengan besar rasa kecewa di dada. Tapi tetap saja ia berusa menenangkan diri. Menjelaskan pada diri sendiri tentang seseorang yang selalu mengabaikannya.

"Xavier arsitek utama, tanggung jawanya besar. Aku harus bisa memahaminya."

Sebentar kemudian ia mengambil gawai, membuka laman bertukar pesan dengan sang suami. Menggulir layar ponsel, berharap ada pesan masuk untuknya... ternyata kosong.

Sudah di jalan?

Belum sempat dikirim Rhea sudah menghapus pesan ini.

"Jangan usik dia. Tunggu aja sebentar lagi," ucapnya disertai getir senyuman.

Ponsel kembali tergeletak di atas meja makan. Dengan hati yang diajarkan untuk sabar dan tabah ia kembali menunggu.

Sepuluh menit...

Tiga puluh menit...

Secara perlahan kepalanya jatuh di atas kedua lengan, Rhea kalah pada rasa lelah. Ia tertidur.

Lewat tengah malam pintu utama kediaman Gulzar terbuka. Xavier akhirnya pulang.

Jas hitam masih memeluk tubuhnya, langkahnya tenang. Wajah rupawan itu terlihat lelah. Seharian ia berada di lokasi pembangunan.

Hening menyambut ketika ia datang, juga sedikit cahaya.

Saat melangkah ke ruang makan barulah ada cahaya terang. Aroma hidangan masih tercium, tipis. Dan Rhea masih ada di sana, menunggu sampai ke alam mimpi.

Terpaku Xavier mendapati sang istri di sana, beberapa detik kemudian ia berpaling. Ia tak berniat membangun Syarhea.

Sekadar menyapa... sekadar mencicipi sedikit hidangan yang dibuat untuknya... Tidak Xavier lakukan.

Baginya kamar adalah tujuan utama, ia hanya ingin mandi agar tubuhnya lebih segar.

Usai mandi ia menabrak sesuatu hingga menimbulkan suara gaduh yang membangunkan Rhea.

"Xavier?" Matanya terasa berat. Mengusapnya demi mengusir kantuk yang masih bersarang.

Langsung berdiri dan sempat terhuyung, kini ia sudah sadar sepenuhnya. Bergegas menuju kamar, terlihat pintu sedikit terbuka.

Buku Harian Istri Yang DiabaikanStories to obsess over. Discover now