Chapter 1: Detektif Kasar dan Ahli Forensik Dingin

5 0 0
                                        

Chapter 1: Detektif Kasar dan Ahli Forensik Dingin

Hujan deras mengguyur Kota N tanpa henti sejak matahari terbenam. Air jatuh memukuli atap gedung bertingkat unit kepolisian khusus kasus Alpha Omega Beta di distrik pusat kota, menciptakan irama membosankan yang bercampur dengan suara sirene kendaraan patroli yang sesekali melintas di jalan raya di bawahnya. Di kota metropolitan yang tumbuh terlalu cepat ini, status AOB bukan sekadar label biologis. Ia adalah hierarki yang mengatur segalanya. Alfa menduduki jabatan tinggi dan kuasa, Beta mengisi posisi netral sebagai penyeimbang, sementara Omega terlalu sering diposisikan sebagai pihak lemah yang butuh perlindungan atau lebih buruk lagi, menjadi komoditas dalam jaringan kejahatan gelap yang semakin marak belakangan ini. Sepanjang tahun terakhir, tingkat kejahatan yang melibatkan penyalahgunaan feromon dan eksploitasi Omega naik hampir empat puluh persen. Tidak ada satu sudut pun di Kota N yang benar-benar aman dari bayang-bayang kejahatan itu.

Di lantai tiga gedung itu, tepat di ruang kerja paling pojok dengan kaca jendela yang selalu tertutup rapat tirai tebal, duduk seorang pria berusia dua puluh delapan tahun dengan kaki disandarkan santai di atas meja kerja yang penuh tumpukan berkas kasus. Pria itu adalah Off Jumpol, detektif terkemuka unit khusus AOB yang dikenal karena cara kerjanya yang tidak pernah mengikuti buku pedoman standar. Tubuhnya bidang dan tinggi, khas seorang Alfa terlatih, dengan rambut hitam sedikit acak-acakan dan luka tipis memanjang di alis kiri yang menjadi saksi bisu salah satu konfrontasi berbahaya di lapangan beberapa bulan lalu. Di balik kacamata hitam yang selalu ia pakai bahkan saat berada di dalam ruangan, tersimpan sepasang mata tajam yang tidak pernah melewatkan satu detail kecil pun di sekitarnya. Wajahnya yang tampan seringkali tersungging senyum santai penuh godaan, namun hanya sedikit orang yang tahu bahwa di balik sifat ceroboh dan suka bercanda itu, Off menyimpan trauma mendalam yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun secara terbuka. Lima tahun lalu, adik perempuannya yang seorang Omega menjadi korban penculikan dan penyalahgunaan obat feromon ilegal. Ia berhasil diselamatkan tepat sebelum hal terburuk terjadi, namun kejadian itu menghancurkan kepercayaan Off terhadap sistem dan mengubahnya menjadi detektif yang sangat keras terhadap setiap pelaku kejahatan yang berani menyentuh kaum Omega. Ia bahkan rutin menyemprotkan parfum kayu beraroma kuat ke seluruh tubuhnya setiap pagi, bukan untuk menarik perhatian, melainkan untuk menutupi feromon aslinya yang beraroma hujan di tanah kering. Feromon Alfa miliknya sangat kuat dan dominan, cukup untuk membuat siapa pun yang berada di dekatnya merasa tertekan jika ia tidak berusaha menahannya. Bagi Off, feromonnya sendiri bukanlah kekuatan, melainkan senjata yang bisa melukai orang lain jika tidak ia kendalikan dengan baik. Ia adalah badai yang selalu berusaha bergerak dalam diam, tidak ingin ada yang tahu seberapa besar kekuatan yang ia simpan di balik sikap santainya.

Ponsel di atas tumpukan berkas bergetar pelan, menampilkan pesan singkat dari Komandan Arka. Off mendengus pelan sambil membaca tulisan itu: Ruang rapat sekarang. Jangan telat.

"Telat mana yang saya tidak pernah bikin, Pak Komandan," gumamnya pelan sambil menurunkan kakinya dari meja dengan gerakan malas. Ia merapikan kemejanya yang sedikit berkerut, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah santai yang seolah tidak memiliki beban apa pun di dunia ini.

Pukul sembilan malam lewat seperempat, langkah kaki terdengar teratur dan tenang berjalan menyusuri koridor lantai tiga menuju ruang rapat komandan unit dari arah berlawanan. Pemilik langkah itu adalah Gun Atthaphan, ahli forensik kimia baru yang baru saja diterima bekerja di unit tersebut kurang dari satu bulan. Pria berusia dua puluh enam tahun itu berjalan dengan postur tegap, membawa map kulit hitam di dada kiri, dan tidak sekilas pun melirik ke arah ruang kerja Off yang pintunya terbuka setengah. Tubuhnya mungil namun tidak terlihat lemah sama sekali, dengan wajah tampan yang selalu terlihat dingin dan datar tanpa ekspresi berlebihan. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi mulus dan sepasang mata hitam jernih yang selalu memancarkan ketegasan serta kecerdasan tinggi. Sejak langkah kakinya masuk ke area gedung itu, Gun sudah memastikan tidak ada satu hal pun yang luput dari pengamatannya. Ia menghitung jumlah orang yang lewat di depannya, mencatat aroma parfum setiap orang yang berpapasan dengannya, bahkan memperkirakan status AOB mereka hanya dari cara mereka bernapas dan bergerak. Bagi Gun, dunia ini berjalan berdasarkan data dan bukti fisik yang bisa diukur, diuji, dan dibuktikan kebenarannya di laboratorium. Tidak ada ruang baginya untuk insting atau perasaan subjektif yang tidak berdasar. Namun ada satu rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat dari semua orang di kantor itu. Di balik jas lab putih dan kemampuan analisisnya yang jenius, Gun adalah seorang Omega dengan jenis feromon sangat langka beraroma melati malam. Selama lima tahun penuh, ia rutin mengonsumsi obat penekan feromon dosis tinggi tepat setiap dua belas jam sekali, tanpa pernah terlambat sedetik pun. Ia melakukan semua itu bukan tanpa alasan. Saat masih menempuh pendidikan di universitas, status Omeganya pernah terbongkar secara tidak sengaja. Akibatnya, ia dilecehkan dan dihina habis-habisan oleh sekelompok mahasiswa Alfa yang menganggap Omega tidak pantas menduduki posisi tinggi di dunia ilmiah yang didominasi kaum Alfa. Pengalaman pahit itu mengukuhkan tekad Gun. Ia akan membuktikan kepada seluruh dunia bahwa kemampuan seseorang tidak pernah ditentukan oleh label AOB yang melekat padanya. Tidak akan ada lagi yang berani meremehkannya. Tidak akan ada lagi yang bisa menyakitinya hanya karena ia terlahir sebagai Omega.

Sesampainya di depan pintu ruang rapat, Gun mengetuk pintu sebanyak tiga kali dengan ritme teratur sebelum mendengar suara perintah masuk dari dalam yang berat dan menggelegar.

"Masuk."

Ia mendorong pintu perlahan dan masuk dengan langkah tenang, lalu tertegun sesaat saat melihat Off sudah duduk di salah satu kursi panjang di sana dengan satu kaki disandarkan santai di ujung meja, sikap yang menurutnya sangat tidak sopan untuk ruang kerja atasan. Off melepas kacamatanya pelan, meletakkannya di samping tumpukan berkas, lalu menatap Gun dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan penasaran yang tidak berusaha ia sembunyikan sama sekali. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum menggoda yang khas.

"Nah, akhirnya datang juga. Ahli forensik baru yang katanya jenius sampai lulus dengan predikat terbaik seangkatan, ya?" ucap Off santai, suaranya rendah dan sedikit bergetar di ruangan kedap suara itu. Ia mengulurkan tangan kanan ke arah Gun dengan gerakan malas. "Off Jumpol. Biasanya orang panggil aku Off. Atau kalau mau lebih sopan, Detektif Jumpol. Tapi panggil nama saja juga tidak apa-apa. Aku tidak terlalu suka hal-hal kaku macam itu."

Gun tidak menyambut uluran tangan itu sama sekali. Ia hanya melirik dingin ke arah telapak tangan yang terulur, lalu berjalan lurus menuju kursi kosong di seberang meja, meletakkan map kulit hitamnya dengan hati-hati tanpa mengeluarkan bunyi sedikit pun. Tatapannya lurus tertuju pada pria paruh baya yang duduk di kursi utama di ujung meja, sama sekali mengabaikan keberadaan Off di sampingnya yang masih membiarkan tangannya terulur di udara.

"Gun Atthaphan. Ahli forensik kimia baru unit ini, Komandan," ucap Gun singkat dengan suara datar tanpa nada ramah sedikit pun. "Sudah mempelajari semua berkas kasus terbaru sesuai permintaan Anda kemarin sore."

Off menarik kembali tangannya dengan tawa kecil yang tidak terlihat tersinggung sama sekali. Ia justru semakin tertarik melihat sikap dingin pria kecil di hadapannya itu.

"Wah, sombong juga ya. Tidak mau salaman, tidak mau menyapa. Orang bilang ahli kimia itu biasanya orangnya dingin-dingin gini, tapi kelihatannya rumor itu benar," goda Off lagi sambil bersandar lebih santai di kursinya. "Kukira orang sehebat kamu yang masuk unit ini setidaknya punya sedikit tata krama dasar buat menyapa rekan kerja baru."

Gun masih tidak menoleh ke arahnya. Ia hanya membuka map kulitnya perlahan sambil menjawab dengan nada yang tetap datar seolah tidak mendengar nada mengejek di ucapan Off.

"Tata krama saya simpan untuk orang yang menunjukkan sikap pantas dihormati. Bukan untuk seseorang yang datang ke ruang rapat atasan dengan kaki di atas meja seolah gedung ini rumah pribadinya sendiri."

Off tertegun sebentar, lalu tertawa lebih keras kali ini sampai bahunya sedikit terguncang. Ia menepuk-nepuk meja dengan kagum.

"Bagus! Bagus sekali! Pintar, tegas, dan tidak takut balik membantah. Jarang ada orang yang berani ngomong gitu sama aku di kantor ini. Paling tidak kamu tidak sebosan orang-orang lain yang cuma bisa mengangguk setuju saja kalau aku bicara."

Insting Alfa milik Off secara otomatis bekerja saat melihat reaksi tenang Gun itu. Ada sesuatu yang sangat aneh dari pria kecil di hadapannya. Tubuhnya mengeluarkan aroma netral yang hampir tidak berbau sama sekali, terlalu bersih dan terlalu paksa bagi seorang manusia biasa. Namun dalam sepersekian detik saat Gun bergerak melangkah mendekati kursi, Off menangkap aroma sangat samar yang hilang secepat kilat. Aroma bunga melati yang mekar di tengah malam, lembut namun sangat khas. Ia mengerutkan keningnya sebentar, lalu mengabaikan perasaan itu dan kembali memasang senyum santainya di wajah. Baginya, pria baru itu hanyalah ahli laboratorium kutu buku yang tidak akan tahan satu minggu bekerja di unit penuh kekerasan ini.

Komandan Arka, pria paruh baya berstatus Alfa senior yang memimpin unit khusus AOB selama sepuluh tahun terakhir, menutup berkas tebal di depannya dengan bunyi keras yang memecah obrolan ringan itu. Ia menatap kedua orang di hadapannya dengan tatapan tegas yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun, lalu mulai berbicara dengan suara berat yang menggelegar di seluruh ruangan.

"Cukup basa-basinya. Saya panggil kalian malam ini bukan untuk saling kenal gaya anak sekolah." Komandan mendorong tiga lembar foto korban ke arah tengah meja, ekspresinya semakin gelap melihat wajah-wajah muda yang tertidur lemas tanpa ingatan itu. "Tiga puluh hari terakhir, tiga orang Omega hilang secara misterius dari tiga wilayah berbeda di Kota N. Satu pegawai bank, satu guru SMA, satu akuntan perusahaan swasta. Semuanya berusia antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun, hidup sendirian, dan tidak punya catatan kriminal sama sekali."

Gun mengangkat satu jari telunjuknya dengan gerakan lambat, memotong penjelasan Komandan dengan sopan namun tegas.

"Maaf, Komandan. Boleh saya bertanya satu hal? Data yang saya terima kemarin menyebutkan ketiga korban tercatat dalam dokumen resmi sebagai seorang Beta. Apakah ada kesalahan input data, atau memang status asli mereka sengaja disembunyikan?"

Off mengalihkan pandangannya ke arah Gun dengan sedikit rasa terkejut. Ia tidak menyangka pria itu sudah menyadari detail kecil yang bahkan tim umum baru temukan tiga hari lalu. Komandan Arka mengangguk pelan, tatapannya sedikit melunak melihat ketelitian ahli forensik barunya itu.

"Pertanyaan yang tepat, Atthaphan. Memang sengaja saya sembunyikan di berkas awal untuk melihat siapa yang cukup teliti menyadarinya. Ketiga korban itu adalah Omega yang selama bertahun-tahun menyembunyikan identitas asli mereka dengan obat penekan, persis seperti pola kasus yang mulai marak setahun terakhir ini. Semuanya ditemukan tidak sadar di pinggir jalan raya tiga hari setelah dilaporkan hilang, tanpa ingatan sedikit pun apa yang terjadi pada mereka. Hasil otopsi menunjukkan satu kesamaan mutlak." Komandan berhenti sejenak, menatap tajam ke arah Off lalu beralih ke Gun. "Tubuh mereka mengandung sisa zat kimia pengendali feromon jenis baru yang belum pernah tercatat di basis data kepolisian mana pun. Zat itu mampu membuat seorang Omega kehilangan kendali atas seluruh tubuhnya sendiri dalam hitungan menit setelah terhirup. Bukti di setiap TKP hampir nol. Semua petunjuk yang tim umum kumpulkan selalu berakhir di jalan buntu."

Ia menarik napas panjang, lalu menyampaikan keputusan yang menjadi alasan utama pertemuan malam itu.

"Saya memutuskan satu-satunya cara memecahkan kasus ini adalah menggabungkan kemampuan terbesar kalian berdua. Off, kamu tetap jadi penyelidik utama di lapangan. Saya percaya insting tajammu dan pengalaman bertahun-tahun berhadapan langsung dengan penjahat AOB. Gun, kamu jadi pendamping penuh waktunya. Bertanggung jawab atas seluruh analisis bukti fisik dan pengembangan data kimia dari laboratorium. Mulai malam ini, kalian adalah satu tim yang tidak bisa dipisahkan sampai kasus ini terpecahkan sepenuhnya."

Perintah itu baru saja selesai diucapkan, dan ruangan seketika terasa lebih dingin dari sebelumnya. Gun melangkah maju selangkah, jari-jarinya mengetuk ringan permukaan map kulit hitam di depannya, lalu mulai berbicara dengan suara datar namun penuh ketegasan yang tidak bisa diremehkan.

"Maaf, Komandan. Saya keberatan dengan keputusan ini."

Alis Komandan Arka terangkat sedikit. Off justru tertawa pelan di kursinya, seolah sudah menduga jawaban itu akan keluar sejak awal.

"Dasar apa kamu berani menolak perintah langsung, Atthaphan?" tanya Komandan pelan namun mengandung ancaman yang jelas.

Gun membuka map kulitnya, mengeluarkan selembar kertas cetak berisi tabel data yang sangat rapi, lalu mendorongnya ke arah Komandan. Tatapannya tidak goyah sedikit pun meski berhadapan langsung dengan dominasi feromon Alfa senior yang sangat kuat dari atasan itu.

"Berdasarkan laporan kinerja Detektif Jumpol selama tiga tahun terakhir yang saya pelajari sebelum masuk unit ini, hampir enam puluh persen penangkapan yang dia lakukan tidak didasari oleh bukti fisik yang cukup kuat untuk bertahan di persidangan. Banyak keputusan penting yang dia ambil hanya berdasarkan firasat atau perasaan semata tanpa dukungan data terverifikasi." Gun mengalihkan tatapannya sebentar ke arah Off, sorot matanya dingin dan menantang seolah menantang detektif itu membantah data yang ia bawa. "Bagi saya, cara kerja seperti itu sangat tidak ilmiah dan penuh risiko kesalahan fatal yang bisa merugikan korban maupun jalannya penyelidikan. Satu kesalahan kecil dalam penanganan bukti di TKP bisa membuat penjahat bersalah bebas begitu saja di pengadilan nantinya. Saya tidak mau bekerja sama dengan seseorang yang lebih mengandalkan insting daripada bukti nyata. Mohon pertimbangkan kembali untuk menugaskan saya bersama detektif lain yang cara kerjanya lebih sesuai dengan standar prosedur operasional yang berlaku."

Off mendengarkan semua ucapan itu dengan tenang, lalu tertawa lebih keras dari sebelumnya seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu seumur hidupnya. Ia menurunkan kakinya dari atas meja, berdiri perlahan dari kursinya dengan gerakan santai namun memancarkan dominasi Alfa yang kuat, membuat tubuh tinggi bidangnya terlihat jauh lebih besar dan mengintimidasi dibandingkan Gun yang berdiri tegap di hadapannya. Ia berjalan mendekat meja, menyandarkan kedua telapak tangannya di permukaan kayu keras itu, lalu menatap lurus ke arah mata hitam Gun tanpa berkedip sedikit pun. Suaranya yang tadinya santai berubah menjadi rendah dan tajam, khas seorang Alfa yang sedang tidak suka didikte orang lain.

"Kamu bilang instingku tidak berguna, ya? Atau kamu memang cuma tidak mau bekerja sama denganku karena takut kerjaanmu yang semuanya serba rapi dan teratur jadi berantakan karena caraku yang tidak mau ikut aturan buku?" ucap Off pelan namun setiap katanya menusuk tepat pada poin yang paling membuat Gun kesal. "Dengar baik-baik, Doktor Laboratorium. Lapangan kerja tidak pernah sebersih dan seindah meja kerjamu yang selalu di lap alkohol itu. Di jalanan, penjahat tidak akan duduk manis menunggu kita mengumpulkan semua bukti dengan tenang sambil minum kopi sebelum melakukan kejahatan berikutnya. Kalau aku menunggu bukti cukup seperti yang kamu mau setiap kali bertindak, mungkin sudah ada belasan korban lain yang tewas lebih dulu sebelum sempat aku selamatkan."

Off mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Gun, jarak di antara mereka kini hanya tinggal beberapa puluh sentimeter. Aroma parfum kayu yang dipakainya bercampur sedikit dengan feromon aslinya yang mulai keluar karena emosi, menciptakan tekanan yang cukup kuat di ruangan itu.

"Insting yang kamu anggap tidak berdasar itu sudah berkali-kali menyelamatkan nyawaku dan nyawa orang-orang yang aku lindungi dari peluru atau pisau penjahat. Aku justru yang ragu sama kamu. Kamu cuma berani bersembunyi di balik jas lab putih, tidak tahu apa-apa tentang rasa takut yang nyata saat berhadapan langsung dengan penjahat kejam yang sudah tidak punya hati nurani di tengah kegelapan Kota N. Jangan-jangan nanti baru pertama kali melihat mayat korban dengan keadaan menyedihkan, kamu langsung lari keluar muntah-muntah dan menghambat jalannya penyelidikan?"

Pertengkaran pertama itu memanas dengan cepat. Keduanya sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah sedikit pun. Gun membantah setiap kata yang keluar dari mulut Off dengan data dan argumen logis yang tajam, sementara Off membalas setiap ucapan Gun dengan sindiran santai namun menusuk tepat pada hal yang paling membuat ahli forensik itu kesal.

"Standar prosedur dibuat untuk meminimalkan kesalahan manusia, bukan untuk diikuti secara kaku sampai membuat kita kehilangan nyawa!" seru Off dengan suara yang sedikit meninggi.

"Dan kesalahan manusia itulah yang seringkali membebaskan penjahat bersalah hanya karena satu bukti yang tidak ditangani sesuai prosedur!" balas Gun cepat, tidak mau kalah meninggikan suaranya sedikit. "Kalau kamu lebih banyak mendengarkan tim forensik daripada bertindak semaumu sendiri, mungkin tingkat keyakinan dakwaanmu di pengadilan tidak cuma sebesar lima puluh delapan persen seperti data yang saya baca! Itu angka yang sangat memalukan untuk seorang detektif yang katanya terbaik di unit ini!"

"Angka-angka di kertas tidak akan pernah bisa menebak gerakan penjahat di lapangan, Atthaphan! Kamu pikir semua orang jahat itu bertindak sesuai rumus yang kamu pelajari di kuliah? Kalau iya, kita tidak butuh detektif lagi, cukup kirim saja komputer canggih ke jalanan!"

"Lebih baik mengandalkan komputer yang logis daripada mengandalkan orang yang tindakannya tidak bisa diprediksi dan selalu menimbulkan risiko baru bagi timnya sendiri!"

Di tengah ketegangan yang semakin meningkat, emosi Off yang mulai memuncak membuat kendalinya atas feromon tubuhnya sedikit goyah. Tanpa sengaja, aroma hujan di tanah kering yang dominan itu keluar sedikit lebih kuat dari batas aman, menyebar ke seluruh penjuru ruangan dengan cepat. Dada Gun seketika terasa tiba-tiba sesak dan jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari irama normal. Ia menggenggam ujung map di tangannya erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih, berusaha sekuat tenaga menahan reaksi alami tubuh Omeganya yang mulai goyah karena pengaruh feromon dominan yang secara biologis sangat cocok dengannya itu. Napasnya sedikit tercekat, ia harus memaksakan diri menarik napas panjang lewat mulut agar tidak pingsan di tempat. Untungnya, obat penekan yang ia minum tepat dua jam lalu masih bekerja cukup kuat untuk menekan aroma melati malam miliknya agar tidak keluar dan tercium oleh siapa pun. Namun Off kembali menangkap aroma samar itu sekali lagi, lebih jelas dari sebelumnya, dan kali ini ia yakin benar bahwa aroma itu berasal dari tubuh Gun. Pria kecil di hadapannya menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang sangat besar dan penting.

"Kalian berdua, cukup!"

Komandan Arka akhirnya membenturkan tangannya ke permukaan meja dengan keras sampai gelas air di ujung meja bergeser sedikit, menghentikan pertengkaran itu seketika. Wajahnya memerah menahan amarah, tatapan matanya jauh lebih mengintimidasi dari dominasi feromon yang baru saja dikeluarkan Off.

"Keputusan kerja sama ini sudah final. Tidak ada satu pun dari kalian yang boleh menolak atau meminta pasangan lain. Saya tidak peduli kalian saling benci atau tidak bisa berdiri dalam satu ruangan yang sama tanpa bertengkar. Tugas kalian adalah memecahkan kasus ini sebelum ada korban Omega keempat yang jatuh ke tangan penjahat itu." Komandan menatap mereka satu per satu dengan ancaman yang jelas tersirat di setiap katanya. "Besok pagi tepat pukul tujuh, kalian harus sudah berkumpul di TKP kasus ketiga untuk memulai penyelidikan bersama. Datang terlambat lima menit saja, saya anggap kalian tidak mau mengerjakan tugas ini. Jika salah satu dari kalian sengaja menghambat jalannya kasus karena masalah pribadi, saya tidak akan ragu untuk mengeluarkan keduanya dari unit khusus AOB selamanya, sehebat apa pun kemampuan yang kalian miliki. Mengerti?"

Off dan Gun secara bersamaan mengalihkan pandangan mereka dari satu sama lain, lalu menjawab dengan nada serempak namun masih penuh ketegangan yang belum sepenuhnya hilang.

"Mengerti, Komandan."

Tidak ada lagi kata-kata yang diucapkan setelah itu. Gun mengambil kembali map kulitnya dan lembar data dari meja, melipatnya kembali dengan sangat rapi seolah tidak terjadi pertengkaran hebat beberapa detik yang lalu, lalu berbalik badan dan berjalan keluar ruangan dengan langkah yang masih terlihat tenang meskipun jantungnya masih berdegup kencang di dalam dada. Pintu ruang rapat tertutup kembali dengan bunyi pelan, menyisakan Off dan Komandan Arka saja di dalam ruangan yang kini terasa jauh lebih sepi.

Komandan Arka menghela napas panjang, lalu menatap Off dengan tatapan yang sedikit melunak melihat anak buahnya yang paling bisa diandalkan itu. Ia mengambil sebatang rokok dari laci mejanya, menyalakannya pelan sebelum mulai berbicara dengan suara yang lebih rendah dari sebelumnya.

"Kamu tahu kenapa saya pasangkan kamu dengan dia, bukan?" tanyanya pelan sambil mengembuskan asap rokok ke arah langit-langit ruangan. "Dia punya otak yang tidak dimiliki detektif lain di unit ini. Kemampuan analisisnya terhadap zat kimia feromon bahkan lebih baik dari ahli forensik senior yang sudah bekerja di sini belasan tahun. Dan kamu punya nyali dan insting yang tidak akan pernah dimiliki orang yang cuma kerja di balik meja laboratorium. Gabungan keduanya satu-satunya yang bisa memecahkan kasus seberat ini. Jangan hancurkan kesempatan itu cuma karena gengsimu tidak mau kalah berdebat dengan orang baru."

Off mengangkat bahu santai, mengambil kembali kacamatanya dari meja dan memakainya lagi untuk menutupi sorot matanya yang kini kembali penasaran memikirkan aroma melati yang sempat ia cium tadi. Ia berjalan mendekat ke jendela ruang rapat yang menghadap ke arah jalan raya utama kota, melihat dari ketinggian bagaimana lampu-lampu Kota N berkelap-kelip tertutup kabut tipis sisa hujan.

"Tenang saja, Komandan. Aku tidak akan membuat kasus ini berantakan cuma karena bertengkar sama dokter kutu buku itu. Lagipula dia memang pintar. Aku akui itu. Tidak banyak orang yang berani menantangku sampai segitunya di kantor ini." Off berhenti sejenak, jari-jarinya mengetuk ringan kaca jendela dengan pola yang tidak beraturan. "Tapi satu hal yang aku yakini, Pak. Pria kecil itu menyimpan rahasia besar yang belum dia ceritakan ke siapa pun di kantor ini. Dan aku punya firasat kuat, rahasia itu ada hubungannya erat dengan kasus penghilangan Omega yang sedang kita selidiki. Polanya terlalu mirip untuk disebut kebetulan."

Komandan Arka mengerutkan keningnya mendengar ucapan itu.

"Maksudmu?"

"Belum bisa pastikan. Cuma firasat saja. Nanti kita lihat sendiri seiring berjalannya waktu." Off berbalik badan dari arah jendela, tersenyum tipis dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak isinya di balik kacamata hitamnya. "Lagipula, apa pun rahasianya, cepat atau lambat aku pasti akan tahu juga. Aku kan detektif. Membongkar hal-hal yang orang sembunyikan itu pekerjaanku sehari-hari, bukan?"

Ia berjalan menuju pintu ruang rapat, lalu berhenti sejenak di ambang pintu sambil menoleh ke belakang sekali lagi.

"Besok pagi aku akan jemput dia dari depan asrama karyawan jam setengah tujuh. Tidak mau dia telat dan malah menyalahkanku kalau kasusnya jadi berantakan nanti."

Komandan Arka hanya mengangguk pelan sambil membuang puntung rokoknya ke tempat sampah.

"Jangan buat onar lagi, Jumpol. Ingat pesan saya."

Off melambaikan tangan santai tanpa menoleh lagi, lalu keluar dari ruangan. Di koridor yang kini sudah sepi, ia sempat melihat sekilas ke arah ujung lorong tempat punggung kecil Gun baru saja berbelok menuju tangga bawah tanah. Ia mengusap wajahnya sendiri dengan tangan kanan sambil menghela napas panjang. Ia tidak tahu kasus penghilangan Omega ini akan berakhir seperti apa. Namun satu hal yang ia yakini sepenuhnya. Bekerja sama dengan Gun Atthaphan, pria dingin yang penuh rahasia itu, akan menjadi tantangan terberat yang pernah ia hadapi sepanjang kariernya sebagai detektif. Dan entah mengapa, di balik rasa kesal yang mendominasi dadanya saat ini, ada rasa penasaran aneh yang mulai tumbuh perlahan, membuatnya tidak sabar untuk mengetahui apa sebenarnya yang disembunyikan oleh ahli forensik itu di balik topeng dinginnya.

Di luar ruangan, hujan masih terus mengguyur Kota N dengan deras yang sama seperti awal malam. Air jatuh membasahi aspal jalanan yang sudah mulai sepi kendaraan, menciptakan pantulan samar lampu-lampu kota yang berwarna-warni. Badai besar yang sesungguhnya baru saja akan dimulai, dan dua orang yang paling tidak menyukai satu sama lain ini ditakdirkan untuk menghadapinya bersama, berjalan berdampingan di tengah kegelapan yang belum tentu akan berakhir dengan cahaya terang di ujung jalan.

Aroma Badai yang SunyiBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin