We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

00

168 30 16
                                        

Jarum jam bergerak teratur menunjukan pukul sebelas lewat empat puluh menit di malam hari dimana langit sudah sepenuhnya gelap dan gedung-gedung tinggi di kota sudah tak lagi terang seluruhnya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Jarum jam bergerak teratur menunjukan pukul sebelas lewat empat puluh menit di malam hari dimana langit sudah sepenuhnya gelap dan gedung-gedung tinggi di kota sudah tak lagi terang seluruhnya. Namun, lantai utama rumah sakit AMC (Ardhayana Medical Center) masih terlalu terang untuk ukuran pukul sebelas malam.

Di dalam gedung tersebut, kehidupan tetap berjalan. Monitor berbunyi, lift terbuka dan tertutup, sepatu karet petugas kebersihan bergesekan dengan lantai, perawat berjalan cepat membawa berkas, seorang dokter berlari kecil melewati koridor sambil masih mengenakan jas putih.

Dan di tengah semua itu, seorang pemuda berusia 27 tahun duduk di balik meja pelayanan utama dengan wajah yang sudah kehilangan hampir seluruh ekspresi manusiawinya. Di depan dadanya tergantung name tag,

IRIS JELANG PURNAMA
Senior Patient Service Ovicer

Jelang menatap monitor komputernya lalu kembali melihat ke arah pria di depannya, "Jadi," katanya dengan suara datar, "Bapak ingin mendaftarkan pasien atas nama siapa?" lanjutnya kembali fokus menatap monitor.

"Anak saya."

"Nama lengkap?"

"Cut Angelica Radeeva."

"Cut.. Anjelika?"

"Cut AngeliCa."

"Cut Angelica Radifa."

"Rad E E V A "

"Radeeva."

Jelang menghembuskan nafas kecil sebelum kembali bertanya, "Tanggal lahir?"

"12 Maret XXXX."

"Nomor identitas?"

Pria itu mulai membuka dompet dan mencari nomor identitas untuk mendaftarkan anaknya yang membuat Jelang kembali menghela nafas, kali ini sedikit lebih keras, namun tetap tidak terlihat tapi rekan kerja di sampingnya bisa merasakan.

Namanya Aruna, Patient Service Officer yang baru bekerja sekitar delapan bulan dan masih memiliki kemampuan luar biasa untuk terlihat bersemangat setelah tengah malam. Sangat berbeda dengan seroang Iris Jelang yang sekarang pun berusaha keras tersenyum saat pria di depannya mengambil banyak waktu hanya untuk menjelaskan niatnya bahwa anaknya sudah sangat sakit dan ia berharap bisa langsung melakukan tindakan.

"Tunggu hasil pemeriksaan dokter di IGD dulu ya, pak. Kelanjutan tindakannya kita lihat sesuai hasil pemeriksaan."

"Tapi bakal dioperasi, kan?"

"Tunggu hasil pemeriksaan dokter."

"Tetangga saya bilang harus di operasi."

"...."

Aruna menahan tawa nya dengan ekspresi Jelang saat ini, sementara si senior patient service officer itu berusaha tersenyum seramah mungkin, "Tetangganya dokter juga?"

LANGIT KALA SENJA (kyusuk/hoonsuk)Stories to obsess over. Discover now