"... Harapan 2 oleh kelas X 1, Harapan 1 oleh kelas XII 2. Selanjutnya, untuk juara utama CC-CT Sains Harlah OSIS dengan skor 1985 menduduki posisi ketiga diraih oleh kelas XI 4"
" Juara 2 dengan skor 2005 diraih oleh kelas XI 1. Dan juara 1 dengan skor final 2400 diraih oleh kelas XII 1."
Gemuruh tepuk tangan audiens dan sorak-sorainya memenuhi seluruh penjuru gedung aula yang terletak di lantai dua bangunan utama sekolah itu. Para perwakilan delegasi kini maju untuk menerima hadiah. Sayangnya, di luar rasa bangga yang dirasakan seluruh audiens yang hadir, decakan lirih keluar dari bibir Izzi —salah satu delegasi lomba dari kelas XI 1. Lagi-lagi dirinya menjadi nomor 2.
Tidak begitu suka keramaian, Izzi mundur menghilang dari hiruk pikuk siswa yang masih padat memenuhi gedung aula. Seorang diri menyusuri lorong-lorong yang kini sepi tanpa lalu lalang manusia. Saat sampai di penghujung tangga menuju lorong kelasnya, Izzi berbalik badan secara tiba-tiba karena menyadari ada seseorang yang mengikutinya.
Seseorang itu tersenyum mendapati tatapan menusuk Izzi.
" Gue Fahrezi," ucapnya sambil mengulurkan tangan, mengajak berkenalan.
" I know. "
" Oke, I see. Gue pikir lo tahu maksud kedatangan gue. "
" Nggak ada yang perlu kita diskusikan." Putus izzi datar kemudian berbalik melanjutkan langkah. Namun bukannya tersinggung, siswa yang memperkenalkan dirinya dengan nama Fahrezi itu justru tersenyum penuh arti. Ia lalu berjalan mensejajari Izzi yang berlalu meninggalkannya.
" AXT bukan trouble maker sekolah ini."
" Gak ada maling yang aku maling. "
" AXT yang balikin Blok C jadi jalan umum," kali ini Izzi tidak menggubris. Tetap berjalan.
" AXT yang nemuin bukti kalau wakil kepala sekolah salah satu ujung rentetan sindikat narkoba daerah sini."
Izzi berdecih, "ngaco."
" Orang bener gak akan ngelak pas dihadapin sama kebenaran." Kalimat Re yang ini bahkan berhasil membuat Izzi berhenti. Ia menatap Re _short of Fahrezi's name_ dengan smirk yang jarang muncul di wajahnya.
" Lo leader AXT, saat hal begini begini loh yang ungkap, make sense kalau gue percaya?" Shitt- seumur hidup, Re tidak pernah membayangkan akan berhadapan dengan orang sekeras Izzi.
Re menghela nafas berat. Kalau bukan karena misi besar-besaran AXT yang membutuhkan anggota-anggota sekelas Izzi, Ia malas harus turun tangan merekrutnya secara pribadi seperti sekarang. Ia merogoh sakunya kasar, menyodorkan ponsel.
" Lo bisa tanyain kebenaran omongan gue barusan ke Kapolda kalau lo ragu." Katanya mantap.
Alis Izzi tertaut. Ini serius?
TO BE CONTINUED
✨Author note✨
Sebelumnya, dengan hormat.
Author dari cerita Verschillend berterima kasih, sekaligus meminta maaf, apabila dalam sebagian atau keseluruhan isinya membuat pembaca merasa tidak nyaman, baik dari segi alur, sikap, dan sifat tokoh, maupun bentuk penulisan yang mengganjal.
Author juga ingin menegaskan, apabila ada kesamaan nama, tempat, ataupun beberapa unsur lainnya, semua murni dari ketidaksengajaan dalam proses penulisan.
Cerita ini fiksi 100%. Riset yang dilakukan author hanya diperuntukkan sebagai penguat plot.
Salam Cinta dan hangat dari penulis. I love you 🤍
YOU ARE READING
Verschillend ✔️
Science FictionBagaimana rasanya menjadi nomor dua sejak pertama kali terlahir ke dunia?! Perjalanan Izzi mencari singgahnya supaya menjadi satu-satunya mengantarkannya bertemu dengan gadis yang tidak hanya mengancam sisi lainnya, tapi juga memberinya singgah. P...
