1

160 44 3
                                        

Jam dinding berdetak pelan, memecah kesunyian di dalam apartemen itu. Jarum pendek menunjuk ke angka sepuluh malam. Ginny masih duduk di meja makan, di hadapan sebuah piring berisi hidangan yang sudah sepenuhnya dingin.

Aroma spageti saus bolognese, makanan favorit Jayna yang tadinya menggugah selera kini menguap begitu saja. Ginny menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan masuk atau panggilan terlewat. Hanya ada pesan terakhir dari dirinya empat jam lalu.

Ginny :
Sayang, aku masak malam ini. Kamu pulang jam berapa?

Pesan itu hanya berstatus dibaca tanpa ada balasan. Ginny menghela napas pendek, mengusap wajahnya yang tampak lelah. Ini bukan kali pertama.

Suara denting kunci pintu terdengar dari arah depan. Pintu itu langsung terbuka, menampilkan sosok Jayna dengan kemeja putih yang sedikit kusut dan jas yang disampirkan di lengan kirinya. Jayna melangkah masuk, wajahnya menunjukkan kelelahan.

"Kamu belum tidur?" tanya Jayna singkat tanpa menatap mata Ginny. Ia berjalan lurus menuju sofa dan melempar tas kerjanya begitu saja.

"Aku nungguin kamu," jawab Ginny pelan. Ia berdiri dari meja makan.

"Kamu udah makan? Aku bikin spageti kesukaan kamu."

Jayna menghentikan langkahnya sejenak, memijat pangkal hidungnya sebelum menoleh. "Kan aku udah pernah bilang Gin, kalau aku lembur nggak usah ditungguin. Aku udah makan tadi pas meeting sama klien. Kamu bisa makan sendiri tanpa aku."

Kalimat itu terucap begitu mudah dari mulut Jayna, tanpa menyadari ada raut kecewa yang terukir jelas di wajah Ginny.

"Kamu nggak ada ngabarin aku sama sekali Jay," bisik Ginny. Suaranya terdengar bergetar, namun ia berusaha sekuat tenaga menahannya. "Cuma butuh lima detik buat ngetik kalau kamu nggak bisa pulang makan malam dan aku gak bakalan buang-buang waktu nungguin kamu."

Jayna merasa kebebasan dan rasa lelahnya disudutkan. "Aku sibuk banget hari ini, Ginny. Banyak dokumen yang harus diselesaiin. Tolonglah, aku capek banget malam ini, jangan mulai perdebatan cuma gara-gara hal sepele. Berhenti bersikap kayak anak kecil yang butuh perhatian lebih."

Hal sepele.

Kata itu menghantam dada Ginny. Bagi Jayna, perhatian dan kesabaran yang ia berikan selama ini hanyalah sebuah hal sepele yang tidak memiliki arti.

"Ya udah," sahut Ginny pelan. Ia tidak ingin berdebat lagi. Tangannya bergerak membereskan piring dingin di atas meja, membawanya ke wastafel dan mulai mencucinya dalam diam.

Jayna hanya memperhatikan punggung Ginny, lalu berjalan menuju kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak ada pelukan hangat atau ucapan terima kasih, apalagi permintaan maaf.

Satu jam kemudian, Jayna sudah berbaring di tempat tidur mereka, sibuk membalas beberapa pesan pekerjaan di ponselnya. Pintu kamar terbuka dan Ginny masuk setelah membersihkan dapur. Ginny merebahkan tubuhnya di sisi tempat tidur yang lain, memberikan jarak yang cukup jauh di antara mereka.

Ponsel Jayna berdering. Nama Lena tertera di layarnya. Jayna langsung mengangkatnya tanpa ragu.

"Ya, Len?"

"Jay, lu udah sampai rumah?" suara Lena terdengar di seberang telepon. "Sorry gue gangguin lu malam-malam, tapi draf presentasi buat besok udah lu cek belum?"

"Lagi gue buka," jawab Jayna santai, seolah lupa bahwa ada seseorang di sampingnya yang membutuhkan kehadirannya.

"Lu bareng Ginny kan sekarang?" tanya Lena di ujung telepon. Suara Lena terdengar ragu-ragu. "Jangan lupa istirahat, Jay. Lu udah terlalu sibuk beberapa minggu ini. Perhatiin juga Ginny, jangan sampai lu cuekin dia terus."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 04 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

OUR FATE (JAYGIN & LENAMIU)Stories to obsess over. Discover now