Di saat orang lain berbondong bondong memilih untuk menjadi pelanggan tetap salah satu store barang branded, Kaylee justru lebih memilih untuk menjadi pelanggan setia rumah sakit, ah bukan, lebih tepatnya pasien tetap Rumah sakit. Sudah seperti anjuran penggunaan obat 3 kali sehari, 4 sampai 5 kali dalam satu bulan dirinya datang untuk menjadi pasien. Seperti sekarang, Kaylee mengakhiri bulan Juli dengan kembali berbaring di ranjang kamar VIP Citra Medika, setelah sebelumnya sempat dilarikan ke IGD Rumah sakit tersebut. Padahal baru satu minggu yang lalu ia terbaring di kamar yang sama dengan gips di salah satu kakinya.
Kali ini, tampaknya perban kecil menempel membalut dahi pria kecil itu, telapak tangan kirinya pun dibalut perban dengan noda darah yang sedikit nampak menembus dari bagian yang luka. Kaylee tetaplah Kaylee, tidak mustahil untuk ia melakukan hal nekat asal Jaeren ada di sampingnya.
"Kaylee, jangan lagi, aku mohon..." pinta Jaeren khawatir. "Jangan lukain diri kamu terus," tambahnya, sembari mengelus punggung tangan Kaylee yang terbalut perban.
Masih terbayang dipikirannya saat Kaylee mengirimkan gambar melalui pesan WhatsApp yang berisi foto telapak tangannya yang sudah dipenuhi cairan darah, juga dahi yang tak berhenti mengeluarkan darah segar. Entah apa yang Kaylee lakukan, tapi Jaeren sudah hapal tabiat kekasihnya, jika keadaan tersebut adalah sebab dari keputusannya tadi malam.
Malam tadi, Kaylee ingin Jaeren menginap di rumah, namun bertepatan dengan itu, Jaeren harus pergi untuk melakukan pekerjaan paruh waktu di sebuah kedai bakmie. Kaylee sudah meminta kekasihnya untuk izin tidak datang, dan Kaylee pun berniat mengirimkan orang pengganti. Namun Jaeren juga tetaplah Jaeren, ia sama keras kepalanya dengan yang lebih muda. Jaeren mengabaikan permintaan Kaylee dan tetap pergi meninggalkan pria kecil itu sendirian.
"Sebentar, hanya sampai tengah malam, sebelum aku pulang ke rumah, aku ke sini lagi buat cek keadaan kamu," pamitnya sambil memberi sedikit elusan lembut pada kepala yang lebih muda.
Kaylee tidak suka jika permintaannya tidak dituruti, dan Jaeren tau itu. Namun sesekali, Jaeren akan mendadak tuli. Hampir setiap saat Jaeren selalu merasa bersalah dan menyesal ketika ia mengambil keputusan yang bertentangan dengan keinginan Kaylee.
Jika tidak patuh, maka kekasihnya akan terluka. Dan hal itu akan terus berulang, jika Kaylee tidak berubah dan Jaeren tidak mau mengalah.
Orang bilang, untuk apa ia mempertahankan seseorang seperti Kaylee? Menyusahkan, terlalu mengatur, dan penuh obsesi. Kejadian hari ini adalah satu dari puluhan tindakan impulsif yang Kaylee lakukan. Satu-satunya teman dekat Jaeren tau betul bagaimana hubungan temannya dengan pria kecil itu. Dan Jaeren, dia sama sekali tidak peduli, bagi Jaeren, Kaylee adalah sosok yang hangat dan menyenangkan. Tanpa perlu orang lain tau, tanpa Kaylee, mungkin ia sudah kehilangan lagi.
"Mau makan apa? Aku beli ke depan. Kebetulan tadi malam aku dapat bonus lebih dari kedai. Aku minta maaf, ya?" Tutur Jaeren sembari beranjak dari kursi duduknya.
"Selalu aja begitu. Nggak mau nurutin aku, ujungnya minta maaf. Dan bodohnya, aku nggak pernah kesel sama kamu, Kak!" Gerutu Kaylee kesal, ia gunakan sebelah tangannya lagi untuk memberi pukulan kecil pada punggung tangan Jaeren yang masih berada di ujung ranjang.
"Mau sampai kapan, Kak? Mau sampai mulutku berbusa beneran kah aku bicara ke kamu? Kamu gak perlu cape cape kerja, uangku, uangmu juga. Kamu cukup ada di samping aku, Kak. Sesusah itu? Kak? Kamu tau kan? Aku nggak sedikitpun bermaksud ngerendahin kamu, aku cuma takut, aku cuma takut kamu kenapa-kenapa kalo kerja sama orang, aku nggak mau kamu terluka kaya waktu itu. Aku juga gak suka, Kak. Aku gak suka waktu kamu dapet kerjaan yang ngelibatin lawan jenis yang ujungnya dia pasti tertarik sama kamu! Dan aku benci itu!" Jelas Kaylee mencoba memberi alasan, dan Jaeren hanya merespon dengan seutas senyum tipisnya.
"Maaf, tapi...."
"Iya, tau, aku tau jawaban kamu, Kak. Aku gak marah, karena mau se-ngeselin apapun kamu, aku gak akan pernah bisa marah sama kamu. Ujungnya kaya gini, di ulang lagi, diulang terus. Aku sakit lagi, kamu minta maaf lagi." ucapnya setelah menyela obrolan Jaeren yang belum selesai.
"Kaylee, aku mohon, aku mohon untuk kamu berhenti lukain diri kamu. Tanpa kamu kaya gitu, aku bakal tetep pulang ke kamu, aku bakal tetep ada di samping kamu. Aku gak akan pergi, kamu tau sendiri, kamu itu rumahku. Gak perlu kamu khawatirkan hal-hal yang belum tentu kejadian, sayang."
"Kamu beneran mau aku berhenti?" Tanya Kaylee memastikan.
"Iya."
"Nggak akan pernah bisa, Jaeren. Sampai kapanpun." Final Kaylee penuh penekanan.
Mendengar itu, Jaeren hanya diam tanpa suara, tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Memangnya apa yang bisa ia lakukan?
"Maaf," lirih Jaeren.
Pada akhirnya, kata maaf lah yang selalu menjadi akhir dari perdebatan mereka. Jaeren tak mampu, tapi tak apa. Kaylee tidak seberapa dibandingkan dengan jahatnya dunia pada seorang Jaeren Dikala Setya.
YOU ARE READING
Don't You Dare Leave [JAEREN]
FanfictionKaylee hanya ingin Jaeren, Jaeren hanya miliknya. Obsesi, manipulatif, dua dari sekian banyak perilaku yang sangat menggambarkan sosok dari laki-laki berparas cantik itu. Miliknya tidak boleh disentuh orang lain, miliknya tidak boleh dimanfaatkan si...
![Don't You Dare Leave [JAEREN]](https://img.wattpad.com/cover/414534579-64-k672027.jpg)