Sebelum kita memulai perjalanan bersama Ignatius, izinkan saya menyampaikan satu hal.
Novel ini bukan kisah tentang seorang manusia yang tidak pernah takut. Ignatius juga mengenal rasa lelah, kesedihan, dan penderitaan. Yang membuatnya berbeda bukan karena ia lebih kuat daripada orang lain, melainkan karena ia percaya bahwa Kristus lebih besar daripada semua ketakutannya.
Mungkin ketika Anda membaca kisah ini, Anda akan berjalan di jalan-jalan berbatu Antiokhia, mendengar riuhnya pasar, menyaksikan pasukan Romawi berbaris, atau ikut duduk bersama jemaat yang beribadah secara diam-diam. Semua itu bukan sekadar latar belakang. Semua itu adalah dunia tempat Injil bertumbuh.
Saya mengundang Anda untuk tidak hanya membaca sejarah, tetapi juga berjalan bersama seorang gembala yang tahu bahwa setiap langkah menuju Roma adalah langkah menuju kematian. Anehnya, semakin dekat ia kepada kematian, semakin besar sukacitanya. Karena di ujung perjalanan itu, ia tidak melihat seekor singa atau sebuah arena. Ia melihat Tuhannya sedang menantinya.
Selamat datang di Antiokhia, kota tempat para murid pertama kali disebut Kristen, dan kota yang melahirkan seorang saksi Kristus bernama Ignatius.
Saya juga ingin menyampaikan satu komitmen pribadi. Selama saya mengerjakan seri ini, saya tidak ingin terburu-buru. Saya lebih memilih satu bab yang ditulis dengan teliti daripada sepuluh bab yang selesai cepat tetapi kurang akurat. Harapan saya, ketika seluruh seri Saksi-Saksi Kristus selesai, karya ini bukan hanya menjadi novel yang menarik, tetapi juga menjadi jembatan yang membawa pembaca semakin memahami sejarah gereja dan semakin mengasihi Kristus. Saya menantikan perjalanan panjang ini bersama.
YOU ARE READING
Sampai Akhir Bersaksi
Historical FictionDi tengah kemegahan Kekaisaran Romawi, lahirlah sebuah keluarga yang mengubah dunia-bukan dengan pedang, melainkan dengan kasih. Antiokhia, kota terbesar ketiga di Kekaisaran Romawi, adalah tempat bertemunya berbagai bangsa, bahasa, budaya, dan agam...
