Cahaya fajar menyusup lembut melalui jendela kaca besar, membias di atas meja marmer dan perabotan elegan ruang makan. Duduklah 4 orang sedang menyambut pagi mereka dengan dinginnya udara pagi, tempat itu menyajikan keheningan yang anggun Denting porselen yang saling bersentuhan itu memecah keheningan pagi secara halus. Bunyinya jernih dan berdenting tipis-suara khas piring berkualitas tinggi yang beradu pelan dengan ujung sendok perak, bergema singkat di atas meja marmer sebelum kembali diserap oleh senyapnya ruangan
"Khmm" gumaman yang memecahkan keheningan di meja makan, ketiga orang yang berada di meja sama pun menoleh kepada sumber suara
ia membuka mulutnya "Papah mau bicara soal kamu, sera" Yang merasa terpanggilpun akhirnya menoleh
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Seraphina park Dosen fakultas ekonomi dan bisnis (FEB) 26 tahun
Latar belakang: S1 Oxford: EEM (Economics and Management) sarjana 3 tahun S2 Stanford: MBA (Master of Business Administration) sarjana 2 tahun Mengajar matkul "Strategic Management" Di kenal sebagai dosen muda di campus, dan memiliki aura tenang dan anggun, hingga seluruh mahasiswa mengenalnya dengan sebutan "dosen muda"
(bisa di bilang face card)
ia menatap orang yang memanggilnya sambil menunggu apa yg akan di ucapkanya "papa tau, kamu sudah besar sera, maka dari itu papa ingin bertanya tentang.....pasanganmu nanti" ada jeda cukup panjang dalam perkataan tersebut, sera sudah menduganya cepat atau lambat pertanyaan itu akan ada, ia menghela nafasnya panjang, suara deting sendok menggema di ruang makan, ia menaruhnya sedikit kasar "Papah, sera tau, kasih sera waktu" Tidak ada nada menolak hanya ada nada meminta pengertian "Mau sampai kapan?" pertanyaan itu, menghantam dada sera, seketika, ia kehilangan kata kata "Papah, udah cariin pasangan buat kamu" Nada itu... nada yg sangat sera benci. Nada menuntut tidak ada penolakan itu bukan permintaan itu perintah "Sera berangkat dulu" Kursi bergeser kencang ia berdiri menganggukan kepalanya kepada orangtuanya sebagai tanda menghargai, lalu ia berjalan tenang menuju parkiran mobilnya "Anak itu... memang" gumam pria tersebut
Ketika ia hendak menyalakan mesin mobil, pintu penumpang di sebelahnya terbuka tiba² sesorang duduk di kursi penumpang dengan santai "Ngapain?, tumben?" "Mobil gue di bengkel, nebeng, se arah ini" "Klasik" perempuan tersebut terkekeh pelan "u know that"
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.