Zaktualizowaliśmy nasze Wytyczne Treści.
Zapoznaj się z najnowszymi wytycznymi, aby nadal bezpiecznie udostępniać historie.

Bab 1

38 6 0
                                        

Sore itu, hawa dingin kota London terasa lebih menusuk dari biasanya. Draco Malfoy baru saja melangkah keluar dari gedung universitasnya dengan tas ransel yang terasa berat di pundak.

Langkah kakinya terhenti di trotoar saat ponsel di sakunya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Astoria, anak SMA yang menyewa jasanya sebagai guru tutor privat.

"Kak Draco, maaf mendadak. Bisa tidak jadwal lesnya dimajukan jadi sore ini?."

Draco menimbang sejenak. Pikirannya langsung melayang ke agenda kuliahnya yang kebetulan sudah selesai. Membayangkan uang tambahan yang bisa ia gunakan untuk membayar patungan sewa flat bulan depan, Draco langsung mengetik balasan singkat.

"Bisa. Aku langsung ke rumahmu sekarang."

Dua puluh menit kemudian, Draco memarkirkan sepeda motornya di halaman depan rumah keluarga Astoria yang luas. Namun, baru saja ia hendak melepas helm, ponselnya kembali berdering.

Nama yang tertera di layar membuat kening Draco berkerut.

Harry Call

Tanpa membuang waktu, Draco langsung menggeser tombol hijau. "Halo, Harry?"

Tidak ada jawaban langsung dari seberang sana. Untuk beberapa detik, yang terdengar di telinga Draco hanyalah suara helaan napas yang memburu dan berat, seolah Harry sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.

Firasat Draco mendadak tidak enak. "Harry? Kau baik-baik saja?"

"Kapan... kau pulang?" Suara Harry terdengar parau, terengah-engah, dan sedikit bergetar.

"Mungkin nanti malam," jawab Draco cepat, matanya menatap pintu rumah besar di hadapannya. "Aku ada jadwal mengajar dadakan sore ini. Ada apa? Kau sakit?"

Kembali hening. Hanya ada suara napas Harry yang semakin tidak beraturan, membuat dada Draco ikut berdegup kencang karena khawatir.

"Harry, jawab aku!" desak Draco, suaranya mulai panik.

"Ya. Baguslah.... Jangan pulang terlalu cepat. Have fun."

Tut!

Sambungan diputus sepihak. Draco terpaku menatap layar ponselnya yang menggelap. Jantungnya berpacu cepat. Nada suara Harry tadi sama sekali tidak normal. Draco tahu ada sesuatu yang terjadi pada Harry.

_________________________________________

Sementara itu, di sudut lain kota London, di dalam sebuah flat yang mereka sewa berdua, Harry Potter sedang mengumpat habis-habisan di dalam hati.

Semua kekacauan ini adalah ulah Blaise, rekan kerjanya di kantor. Blaise sialan itu berniat membawa minuman perangsang untuk berkencan dengan kekasihnya malam ini, tetapi dengan bodohnya malah salah memberikan botol minuman itu kepada Harry saat jam pulang kantor tadi.

Akibatnya, Harry pulang dengan sekujur tubuh yang terasa terbakar. Efek obat itu bekerja terlalu cepat. Seluruh badannya panas, bergetar, dan libidonya melonjak naik dua kali lipat.

Setelah memastikan bahwa Draco tidak akan pulang cepat, Harry buru-buru mengunci pintu depan flat dan langsung masuk ke kamar. Rasa panas di tubuhnya sudah tidak tertahankan lagi.

Harry menanggalkan jasnya, melepas hampir seluruh pakaian bawahnya dan kini hanya menyisakan kemeja puith yang sudah basah kuyup oleh keringat.

Harry langsung merebahkan diri di atas kasur. Napasnya memburu. Ia sebenarnya sudah biasa melakukan mastrubasi jika hasratnya muncul, tetapi efek obat sialan dari Blaise ini membuatnya menjadi jauh lebih sensitif. Setiap sentuhan dikulitnya sendiri terasa berkali-kali lipat lebih menyengat.

Life Partner | Drarry Opowiadania do pokochania. Odkryj je teraz