Nayana Anindita Berliana Khumaira dipanggil pulang oleh Ustadzah karena 30 anak yatim di pondok "Darul Khumaira" kehilangan 2 pengajar.
Di sanalah dia pertama kali bertemu dengan Ustadz Ibrahim Fawwaz, pengasuh pondok yang terkenal tegas dan dingin sejak ditinggal wafat istrinya 3 tahun lalu.
Awalnya Nayana hanya mengajar ngaji anak-anak.
Tapi karena suara tilawahnya merdu, Ustadz Ibrahim memintanya mengisi kajian Subuh untuk ibu-ibu.
Setiap Subuh, Nayana mengaji dari mihrab. Ustadz Ibrahim imam di depan.
Jarak mereka 3 saf. Tapi hati? Entahlah.
Konflik datang ketika:
1. Fitnah : Santri membicarakan kedekatan mereka. "Ustadz kok sering manggil Nayana ke kantor?"
2. Luka Masa Lalu : Ustadz Ibrahim masih trauma menikah. Takut menyakiti lagi. Nayana juga minder karena usia jauh dan status beliau duda.
3. Ujian Pondok : Dana pondok habis. Anak yatim terancam dipulangkan. Nayana dan Ustadz Ibrahim harus bahu-membahu menyelamatkan rumah itu.
Lewat musibah itulah mereka belajar.
Cinta bukan tentang memiliki. Cinta adalah tentang mendoakan dalam sujud, menjaga dalam diam, dan memperjuangkan bersama-sama di jalan Allah.
Di akhir, lamaran tidak datang lewat bunga atau chat.
Lamaran datang lewat wali, di atas sajadah, setelah sholat Istikharah 40 hari.
Pesan Inti : Jodoh terbaik adalah yang mengajakmu lebih dekat kepada Allah, bukan menjauh
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Bertemu Di Atas Sajadah
RomansaNayana Anindita Berliana Khumaira, 17 tahun. Santriwati, Guru Diniyah, hafal 7 Juz. Satu-satunya kebanggaannya: suara tilawahnya yang sering bikin jamaah menangis saat Subuh. Ibrahim Fawwaz Arsyad Al Maliki, 32 tahun. Duda. Pengasuh Pondok Pesant...
