Bab 1

8 2 1
                                        


Bab 1: Pengorbanan Terakhir

"Cahaya, kamu itu kakak! Kamu harus ngalah!"

Lagi, kalimat itu dijadikan alasan untuknya membalas budi selama belasan tahun ini. Akan tetapi, sampai kapan? Cahaya mulai muak.

"Tapi, Mah. Alden itu pacar Aya. Dia datang ke sini buat lamar Aya. Mama gak--"

"Oh, mulai melawan kamu, ya? Ingat! Kamu itu cuma anak angkat di sini, harusnya kamu tahu diri!"

Lagi dan lagi, Cahaya di bungkam oleh sugesti menyebalkan itu. Iya, Cahaya tahu dia hanya anak angkat dan harus tahu diri. Tapi ... Sampai kapan?

Apa kurang yang ia korbankan selama ini?

"Mah, tolonglah. Aya mohon. Untuk kali ini aja. Biarkan Aya--"

"Lagian Alden juga udah setuju, kok. Nih, dia baru wa papa." Suara Papa yang menginterupsi mencoba mematahkan harapan Cahaya.

"Itu gak mungkin! Alden cinta sama Aya, Pah. Buktinya dia datang ke sini buat lamar Aya, kan?" Cahaya mencoba tetap percaya pada keyakinannya

"Eh, anak ini, ya? Nih, liat, nih, kalau gak percaya."

Lalu Papa menyodorkan layar ponselnya. Dan harapan Cahaya pun benar-benar pupus sekarang. Alden, pria yang 2 tahun ini menjalin kasih dengannya ternyata ....

"Bahkan orang tuanya juga setuju. Katanya memang harusnya Alden itu sama Moza. Bukan sama kamu yang cuma anak angkat."

Cahaya menatap layar ponsel itu. Tertera jelas nama Alden di sana.

Bapak benar, Saya setuju dengan usulan Bapak. Saya akan membatalkan rencana pernikahan saya dengan Cahaya. Saya akan mengganti mempelainya dengan Moza.

Tangan Cahaya gemetar. Air matanya menggenang, tapi ia menahannya. Ia tidak akan menangis di depan mereka. Tidak akan lagi. Cukup sudah! Ia tidak akan memberikan kepuasan pada mereka.

Sakit ini harus segera di akhiri.

Cahaya menatap Nyonya Ratna, Pak Haris, dan Moza yang tersenyum tipis di sudut sofa. Senyum yang penuh dengan kepuasan. Menyebalkan!

"Jadi ... Kali ini pun aku harus mengalah?" gumamnya miris.

"Ya harus. Kamu kan kakak. Dan seorang kakak memang harus selalu mengalah pada adiknya," sambar Mama Ratna.

"Sampai kapan?" gumam Aya tanpa daya.

"Eh, apa maksudnya itu? Omongan kamu kok seolah-olah kami gak pernah memberikan apa yang kamu mau. Lupa kamu dengan semua jasa kami?"

Faktanya, Mama Ratna dan Papa Haris memang pernah memberikan segalanya untuk Cahaya. Memperlakukannya seolah ia tuan putri dan memprioritaskan kebahagiaan Cahaya di atas kepala mereka.

Sayangnya, semua itu berakhir setelah kehadiran Moza. Karena sejak kehadiran adiknya itu, status tuas putri beralih dari Cahaya pada Moza, pun cinta dan kasih sayang Papa dan Mama. Setelahnya, Cahaya hanya di tuntut mengalah, mengalah, dan terus mengalah.

Cahaya lelah lama-lama. Ingin pergi, tapi kemana? Tapi bertahan pun rasanya sudah tak sanggup. Lalu ... Cahaya harus bagaimana sekarang?

Cahaya menatap Mama. Wanita yang selama ini ia sebut Mama, dan dulu penuh kehangatan, tapi sekarang semua sirna. Jangankan kehangatan, rasa iba pun tak ada. Sekarang yang Cahaya lihat hanya sebuah tembok beton yang dingin.

"Pah..." Cahaya menoleh ke arah Pak Haris.

"Udahlah Cahaya. Sudah begini mengalah aja. Toh Alden dan keluarganya juga sudah setuju. Apalagi yang mau kamu perjuangkan?"

Benar. Sudah begini apalagi yang mau Cahaya perjuangkan? Yang harusnya berjuang bersama memilih menyerah. Lalu, untuk apa ia masih bertahan? Berjuang sendiri jelas hanya akan menjadi hal konyol saja kan?

Cahaya terdiam. Ia menatap mereka bertiga. Mama yang dingin. Papa yang acuh. Dan Moza yang sok polos. Orang-orang ini yang Cahaya anggap keluarga, tapi sayangnya tak pernah menganggap Cahaya bagian dari mereka.

Jadi untuk apalagi Cahaya masih ada di tengah mereka?

Akhirnya, Cahaya menghela nafas berat. Mencoba mempertahakan sisa harga dirinya yang hampir habis tergerus tuntutan balas budi tak berujung dari keluarga angkatnya.

"Oke," ucap Cahaya datar. "Kalian menang. Sekali lagi, kalian menang."

"Ini bukan perlombaan Cahaya. Gak ada kalah dan menang. Tentang Alden, memang sudah seharusnya kamu mundur. Karena memang Aldennya sendiri memilih Moza."

Cahaya mengangguk pelan. Sudah malas meladeni ucapan Mama yang tak akan ada habisnya. Satu yang pasti, yang sudah ia putuskan saat ini.

Ini adalah pengorbanan terakhirnya.

"Terserah Mama aja. Yang jelas, Aya sudah capek mengalah terus. Mulai sekarang, Aya akan memilih jalan hidup sendiri."

Cahaya berdiri, berbalik, lalu melangkah keluar dari ruang tengah itu. Meninggalkan orang-orang yang terus menuntutnya untuk balas budi.

Cahaya masuk ke kamarnya, mengambil sebuah tas ransel kecil, dan memasukkan beberapa lembar baju ganti serta dompetnya. Ia tidak mengambil perhiasan. Ia tidak mengambil uang dari brankas. Ia hanya mengambil apa yang memang menjadi miliknya.

Cahaya berdiri di depan cermin kamarnya. Menatap dirinya sendiri. Wajah pucat, mata merah, bibir kering. Ia seperti orang asing di tempat yang disebutnya rumah. Sayangnya, rumah ini bukan tempatnya pulang dan tak pernah menerimanya.

"Ayo, Cahaya! Kamu pasti bisa berjuang sendiri di luar sana! Kamu harus menemukan kebahagiaanmu sendiri!"

Cahaya mencoba menyemangati dirinya sendiri. Sebelum berjalan kembali ke ruang tengah. Dan melewatinya menuju pintu utama.

Tidak ada yang menghalanginya. Hanya ada celetukan Mama yang sempat terdengar.

"Mau kemana dia?"

"Udah biarin aja. Paling juga pura-pura kabur biar di perhatiin. Nanti kalau ngambeknya udah selesai pasti balik lagi," jawab Papa.

"Bener. Mbak Aya kan gak punya siapa-siapa. Kalau keluar dari keluarga ini pasti gak bisa bertahan lama. Bisa mati konyol kalau lama-lama ngambek dan sok gak butuh uang mama papa."

Cahaya hanya terkekeh miris mendengar ocehan tiga orang itu. Mereka pikir Cahaya cuma ngambek dan akan kembali mengalah, kembali menjadi anak pungut yang patuh.

Padahal, Cahaya sudah sampai batas kesabarannya. Ia memilih pergi agar tetap waras.

Cahaya berjalan keluar dari pintu depan, menembus hujan deras yang mulai mengguyur Jakarta malam itu. Ia memilih pergi. Ia memilih mencari jalan hidupnya sendiri, tanpa harus selalu dituntut "tahu diri" dan terus mengalah.



Ya-Sha (Cahaya Shaki)Stories to obsess over. Discover now