Prologue

6 1 0
                                        

"In the frantic rhythm of saving lives, the most profound turn of fate is often born in absolute silence."

***

Malam di Cardiothoracic Intensive Care Unit (CVICU) Nuala Heart and Vascular Institute (NHVI) tidak pernah benar-benar hening. Di balik pintu kaca ganda kedap suara yang memisahkan area steril dari koridor utama rumah sakit, ritme kehidupan diukur bukan oleh detik jam dinding, melainkan oleh grafik bergelombang di atas monitor multiparameter. Bunyi desis halus dari ventilator mekanis, denting periodik alarm infusion pump yang menyanyikan ritme obat-obatan inotropik, serta deru lembut mesin Extracorporeal Membrane Oxygenation (ECMO) membentuk sirkuit suara yang telah menjadi denyut nadi kehidupan Dr. dr. Alana Nuala William, M.Sc, Sp An-TI, Subsp. An. KV(K)

Pukul 01.42 WIB. Cahaya pendar lampu neon redup menyapu permukaan meja konsul di tengah ruangan. Alana berdiri tegak di depan tempat tidur Nomor 4. Rambut hitamnya terikat sempurna di balik surgical cap biru tua, sementara kacamata berbingkai tipis bertengger presisi di pangkal hidungnya. Matanya yang jernih dan tajam menatap tanpa berkedip pada deretan angka yang berfluktuasi di layar monitor central.

Di atas tempat tidur steril itu terbaring seorang pria berumur lima puluh empat tahun, pasca-operasi emergensi aortic root replacement dan Bentall procedure yang berlangsung selama sembilan jam berturut-turut. Kondisi hemodinamiknya masih sangat belum stabil.

"Mean arterial pressure drop to fifty-eight," ujar nurse senior dengan nada berbisik, matanya menatap tajam pada kantung urine drainage yang melambat. "Lactate level from the last blood gas is three point four, Doctor."

Alana tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Raut wajahnya seolah terbuat dari pualam-dingin, terkontrol, dan mutlak terukur. Bagi Alana, ketakutan adalah kemewahan yang tidak boleh dimiliki oleh seorang intensivis bedah jantung.

"Increase the noradrenaline titration to point one two micrograms per kilo per minute," perintah Alana. Suaranya halus namun memancarkan otoritas khas yang membuat seluruh staf CVICU secara refleks bergerak tanpa ragu. "Draw another arterial blood gas in fifteen minutes. Check the cardiac index via the pulmonary artery catheter right now. I want to see if the right ventricle is failing under the afterload."

"Understood, Doc," jawab senior nurse cepat sembari mengetikkan instruksi pada terminal medis elektronik.

***

Di ambang pintu CVICU, Dr. dr. Aidan Narumi Oswasa, M.Sc., Sp.BTKV, Subsp.BDA(K) berdiri menyandarkan bahunya pada bingkai pintu. Gaun bedah hijau melamin yang digunakannya masih menyisakan sisa-sisa aroma antiseptik scrub room. Pria itu baru saja mengakhiri prosedur coronary artery bypass grafting (CABG) tiga graft yang sangat rumit di Operating Theatre 2. Bahunya tampak sedikit merosot akibat kelelahan fisik yang ekstrem, namun matanya sama sekali tidak berpaling dari sosok wanita di depan bed 4.

Aidan telah mengenal Alana, ia tahu persis setiap gestur tubuh istrinya. Ia paham makna dari sedikit kernyitan di dahi Alana saat grafik arterial line menunjukkan kelainan micro-dicrotic notch. Ia tahu arti dari cara Alana mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat konsentrasi puncak. Dan malam ini, Aidan menangkap sesuatu yang lain-sesuatu yang sangat halus, yang mungkin luput dari pengamatan seluruh staf CVICU di ruangan itu.

Alana menahan napasnya selama beberapa detik, lalu tangannya yang bersarung tangan steril tampak bergerak secara refleks menuju pangkal lehernya, mengusap pelan denyut karotisnya sendiri. Wajah Alana yang biasanya merona sehat malam ini terlihat satu tingkat lebih pucat di bawah pantulan lampu floresens.

The Quietest HeartbeatStories to obsess over. Discover now