Disebuah bar terkenal di pusat kota.
Seorang pria duduk bersandar dengan gaya angkuh.
Dengan dagu terangkat, ia melakukan swirling pada gelas wine ditangannya secara perlahan dan penuh kepongahan.
Sepasang mata serigalanya menatap penuh obsesi, mengunci target di ujung sana—seorang pemuda yang terlihat manis dan begitu polos.
mengintai setiap jengkal pergerakannya dengan lapar.
"Kau sedang melihat apa?" tanya seorang pria yang merupakan sahabatnya.
"Siapa dia?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa sedetik pun ia mengalihkan pandangan dari targetnya.
"oh, Yexa. Dia salah satu pelanggan yang cukup sering datang kesini, bersama dengan temannya itu." jelasnya sambil ikut memperhatikan dua pemuda yang sedang asik dengan dunia mareka sendiri.
Mendengar nama itu, sebuah senyuman tipis-hampir tak kentara—terukir di sudut bibir sang pria. Ia tidak terkejut, tidak juga menunjukkan ketertarikan yang meledak-ledak. Reaksinya begitu tenang, namun pancaran dari sepasang mata serigalanya justru semakin menajam.
"Yexa," ia menggumamkan nama itu dengan suara rendah, seolah sedang mencicipi rasa dari tiap suku katanya, senada dengan sesapan wine mahal yang baru saja menyentuh lidahnya.
Ia kembali meletakkan gelas kristalnya ke atas meja tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Pandangannya masih terkunci rapat pada pemuda manis di ujung sana. Baginya, pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan awal dari sebuah permainan yang menarik.
Kepongahannya mendadak berganti menjadi keyakinan mutlak bahwa pemuda polos itu tidak akan pernah bisa lolos dari radar perburuannya.
***
Sementara di ujung ruangan yang riuh, Yexa tiba-tiba menghentikan tawa kecilnya. Rasa hangat dari obrolan bersama sahabatnya mendadak menguap, digantikan oleh sensasi dingin yang merayap di tengkuknya. Ia merasa tidak nyaman, seolah-olah ada sepasang mata tak kasatmata yang sedang menguliti setiap gerak-geriknya dari kegelapan.
"Ada apa, Yexa?" tanya sahabatnya—Jeizyn, menyadari perubahan ekspresi wajah Yexa yang mendadak menegang.
"Tidak ada apa-apa," jawab Yexa lirih, mencoba tersenyum untuk menenangkan sahabatnya, meski senyuman itu tampak dipaksakan.
Dengan gerakan yang diusahakan sealami mungkin, Yexa menyesap minumannya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru bar. Ia berusaha mencari sumber dari rasa tidak nyaman yang mengusiknya.
Sesaat, tatapan matanya yang polos menyapu keremangan ruangan, hingga akhirnya pandangan itu tanpa sengaja beradu dengan sepasang mata serigala di seberang sana-pria angkuh yang sejak tadi menguncinya dalam diam.
Ia melihat dengan jelas smirk yang terpatri di wajah pria itu, membuatnya membeku sejenak, kemudian memalingkan wajah seolah tidak ada apa-apa.
Jantungnya mendadak berpacu liar, menyadari bahwa dia baru saja tertangkap basah oleh pria asing yang terlihat begitu berbahaya.
Melihat Yexa buru-buru memalingkan wajah dengan salah tingkah, smirk di bibir pria itu justru semakin melebar. Reaksi gugup dari pemuda polos itu adalah jawaban yang paling ia sukai.
Sahabat di sebelahnya yang menyadari intensitas ketegangan itu hanya bisa menggelengkan kepala. "Jangan bilang kalau targetmu kali ini adalah anak manis itu. He is too innocent for someone like you."
ESTÁS LEYENDO
THE CAT THAT EAT THE WOLF
Romance"Look at him, so deceptively soft. smiling like an angel while holding the strings to my ruin. He's got a lethal grip on my mind, and i'm willing to be his by any means." -Justin Park "A lethal grip? Oh, darling, I haven't even started squeezing ye...
