Lampu neon merah darah membasuh lorong belakang panggung, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jemari hitam merayap di dinding beton. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau tajam hairspray dan keringat dingin. Di tengah hiruk-pikuk kru yang berlarian, dua pria berdiri saling membelakangi, dipisahkan oleh jarak dua meter yang terasa seperti jurang tak berdasar.
Xiao Zhan memutar cincin perak di jari manisnya-cincin yang selalu ia sembunyikan di balik jam tangan mewah jika kamera mulai menyorot. Ia tersenyum tipis, tipe senyum yang membuat jutaan penggemar meleleh, namun matanya tetap dingin, mengamati pantulan Wang Yibo di cermin besar di hadapannya.
Yibo berdiri kaku. Jaket kulit hitamnya membalut tubuh ramping namun kokoh. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, seperti porselen yang dipahat sempurna namun membeku.
"Kalian berdua, tolong," manajer produksi berteriak, wajahnya merah padam karena stres. "Hanya satu lagu. Satu kolaborasi. Aku tidak peduli jika kalian ingin saling mencekik setelah ini, tapi tolong, jangan ada drama di atas panggung. Paham?"
Zhan terkekeh, suara rendah yang menggetarkan udara, "Tentu, Pak. Aku akan berusaha tidak memakan pemuda manis ini di depan publik."
Yibo tidak menoleh. Ia hanya mendengus, suara tajam yang memotong udara, "Jangan terlalu percaya diri, Zhan-ge. Fokus saja pada nadamu yang mulai tidak stabil itu."
Manajer itu menghela napas berat, menggelengkan kepala sebelum memberi isyarat agar kru menjauh. Begitu pintu ruang tunggu tertutup dengan dentuman berat, atmosfer di ruangan itu berubah seketika. Udara yang tadinya tegang karena kebencian semu, kini memberat oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Yibo berbalik dengan cepat. Ia tidak lagi terlihat dingin. Matanya berkilat, lapar, dan penuh tuntutan. Dalam satu gerakan kasar, ia menyentak kerah kemeja sutra Zhan, menarik pria yang lebih tua itu hingga punggungnya menghantam dinding beton dengan keras.
Bruk!
Zhan tidak meringis. Ia justru melingkarkan lengannya di pinggang Yibo, menarik tubuh pemuda itu hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Aroma sandalwood dan tembakau dari tubuh Zhan memenuhi indra penciuman Yibo.
"Tujuh tahun, dan kau masih suka bermain peran sebagai musuh bebuyutan," bisik Zhan, bibirnya nyaris menyentuh cuping telinga Yibo.
Yibo mengeratkan cengkeramannya pada kemeja Zhan, jemarinya meremas kain mahal itu hingga kusut, "Aku benci saat kau tersenyum pada semua orang di luar sana seolah kau milik mereka."
Zhan tertawa rendah, getarannya terasa hingga ke dada Yibo, "Tapi kau tahu, Sayang. Semakin mereka mengira kita saling membenci, semakin manis saat kita saling menghancurkan di balik pintu tertutup."
Yibo menarik kepala Zhan, mempertemukan bibir mereka dalam ciuman yang tidak memiliki kelembutan. Itu adalah benturan gigi dan lidah, sebuah perebutan kekuasaan yang kasar dan mendesak. Yibo menggigit bibir bawah Zhan hingga terasa anyir darah, sebuah tanda kepemilikan yang tersembunyi.
Zhan mengerang, tangannya merosot ke bawah, meremas bokong Yibo dengan tekanan yang membuat pemuda itu terkesiap.
"Simpan energi ini untuk panggung," bisik Zhan di sela napas yang memburu. "Lagu ini... koreografinya... aku ingin kau menunjukkan pada dunia betapa kau menginginkanku, tanpa mereka tahu mengapa."
Yibo melepaskan cengkeramannya, napasnya tersengal. Ia merapikan kerah kemeja Zhan dengan gerakan yang hampir terlihat seperti belaian, namun matanya tetap gelap.
"Aku akan membuatmu memohon di depan sepuluh ribu orang, Xiao Zhan."
***
Gemuruh penonton terdengar seperti raungan binatang buas saat lampu panggung padam total. Keheningan sesaat menyelimuti stadion, menciptakan vakum yang mencekam.
Lalu, dentuman bas yang berat menghantam. Lampu sorot berwarna ungu gelap dan merah crimson menyala, mengungkap sosok Xiao Zhan yang berdiri di tengah panggung. Ia mengenakan kemeja hitam transparan yang memperlihatkan garis otot dadanya, kancing atasnya terbuka lebar. Di tangannya, sebuah mikrofon merah berkilau.
Musik dimulai. Iramanya lambat, menggoda, dengan melodi synth yang terasa seperti bisikan erotis di telinga. Zhan mulai bernyanyi. Suaranya bukan lagi suara ramah yang dikenal publik, itu adalah suara yang serak, berat, dan penuh dengan gairah yang tertahan.
"Datanglah padaku dalam gelap, biarkan aku mencicipi dosamu..."
Tepat saat refrain pertama dimulai, Yibo muncul dari kegelapan. Ia tidak berjalan; ia mengalir. Gerakannya sebagai penari profesional membuat setiap langkahnya tampak seperti predator yang mengintai mangsa. Ia mengenakan celana kulit ketat yang membungkus kaki panjangnya, dengan dada terbuka yang hanya diikatkan rantai perak tipis.
Yibo bergerak mengelilingi Zhan. Setiap putaran, setiap lekukan tubuhnya adalah provokasi. Ia mendekat, tangannya tidak menyentuh Zhan, namun jemarinya hanya berjarak satu milimeter dari kulit leher Zhan, menciptakan aliran listrik yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang menonton.
Zhan menutup matanya sejenak, menghirup aroma tubuh Yibo yang kini bercampur dengan keringat. "Kau terlambat, Yibo," bisik Zhan, nyaris tidak terdengar oleh mikrofon, namun cukup untuk membuat pupil mata Yibo melebar.
Yibo tiba-tiba menyentak tubuh Zhan, menarik pinggang pria itu dengan satu tangan kuat sementara tangan lainnya mendarat di tengkuk Zhan. Mereka membeku dalam posisi yang sangat intim, napas mereka beradu, menciptakan uap tipis di bawah lampu panggung yang panas.
Penonton menjerit histeris. Mereka mengira ini adalah akting tingkat tinggi dari dua artis yang saling membenci. Mereka tidak tahu bahwa di balik tatapan tajam itu, ada kerinduan yang telah dipupuk selama tujuh tahun dalam rahasia yang menyesakkan.
Zhan melanjutkan nyanyiannya, namun kali ini ia tidak melihat ke arah penonton. Matanya terkunci pada mata Yibo.
"Kunci pintunya, matikan lampunya, biarkan dunia terbakar saat aku memilikimu..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Love
FanfictionMenceritakan tentang seorang penyanyi papan atas dan dancer profesional yang dikenal "tidak pernah akur" oleh para penggemarnya. Mereka terpaksa melakukan kolaborasi di atas panggung atas desakan penggemar yang gemas melihat mereka yang layaknya kuc...
