We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog

1 0 0
                                        

Lima Tahun

Lima tahun. Bukan sekadar angka yang terukur di kalender atau jarum jam yang berputar rutin. Bagi bumi, itu lima kali perjalanan mengelilingi matahari-musim berganti, hujan turun menyiram tanah kering, bunga mekar lalu gugur kembali. Semua bergerak maju, mengikuti alur yang tak pernah berhenti. Namun bagi Maya, waktu seolah berhenti berdetak sejak hari itu. Lima tahun baginya bukan ukuran lama, melainkan jarak. Jarak yang memisahkan hari di mana dunianya runtuh seketika-diiringi suara logam yang meraung kesakitan dan kaca yang berhamburan memotong keheningan-dengan detik ini, saat ia berdiri sendirian di ujung dermaga Gili Trawangan, membiarkan angin laut menerpa wajah tanpa daya melawannya.

Di sini, aroma garam menempel di kulit seperti kenangan yang tak mau lepas. Debur ombak yang memecah karang di kejauhan menjadi satu-satunya irama yang ia kenal, satu-satunya hal yang terasa tetap di tengah dunia yang terus berubah tanpa dirinya. Selama lima tahun ini, Maya menjadikan perjalanan sebagai rumahnya. Ia menyusuri mercusuar tua yang berdiri kokoh di ujung timur nusantara, berjalan telanjang kaki di atas pasir putih yang hangat di bawah matahari Lombok, berpindah dari satu tempat ke tempat lain seolah tak pernah punya alasan untuk berhenti. Padahal ia tahu benar: ia tidak sedang mencari pemandangan indah, atau tempat untuk menetap. Ia hanya sedang berlari. Berlari sekuat tenaga dari bayang-bayang yang selalu mengikuti di belakang, tak peduli seberapa jauh ia melangkah. Di dalam ransel yang ia bawa setiap hari, tersimpan beban yang tak kasat mata-abu sisa kebakaran masa lalu yang tak pernah benar-benar padam, berat, sunyi, dan setiap saat siap meledak menyesakkan dada saat ia mencoba untuk tenang.

Malam adalah musuh sekaligus sahabatnya. Saat keramaian pelan-pelan mereda, saat suara tawa wisatawan perlahan hilang tertelan angin, ia akan duduk di sudut kamar yang sepi, membuka layar laptop yang memancarkan cahaya biru pucat. Di sana, ia memiliki sebuah ruang rahasia: sebuah blog tanpa nama asli, tanpa foto wajahnya, tanpa keriuhan pengikut yang berkomentar. Hanya lembaran demi lembaran tulisan yang lahir dari kedalaman hati yang paling perih. Di sanalah ia berbicara-bukan pada orang lain, melainkan pada sosok yang pergi terlalu cepat, tunangannya yang selamanya akan terhenti pada usia dua puluh enam tahun. Ia menuliskan tentang rindu yang tak pernah surut, tentang rasa bersalah yang tak pernah usai, tentang hal-hal kecil yang ingin ia ceritakan namun tak lagi punya pendengar. Tulisan-tulisan itu adalah doa yang tak terucap, adalah pelukan yang tak sampai, adalah tempat di mana ia diizinkan menangis sepuasnya tanpa harus berpura-pura kuat di hadapan dunia.

Namun tenangnya permukaan laut tak pernah menjamin tenangnya arus di bawahnya. Dan semesta sepertinya sudah lelah melihatnya bersembunyi, sudah lelah melihatnya menghukum diri sendiri dengan kesunyian yang ia bangun sendiri.

Maya tak pernah menyangka, bahwa di antara warna jingga yang memudar di ufuk barat sore itu, takdir akan mengirim seseorang yang tak terduga. Allan. Pria yang berdiri tak jauh darinya, dengan kemeja yang sedikit kusut diterpa angin, namun sepasang matanya menatap tajam-seolah mampu menembus tembok tebal yang selama lima tahun ia bangun di sekeliling hatinya. Ia datang membawa tawa yang keras, pembicaraan yang penuh semangat, dan sesuatu yang membuat Maya merasa terancam: ketertarikan yang tulus pada siapa dirinya, bukan pada siapa yang ia pura-pura jadikan diri. Allan bukan sekadar pelancong yang lewat, atau orang asing yang akan menghilang begitu senja usai. Ia seperti badai yang datang perlahan, membawa angin yang cukup kuat untuk mengguncang laci-laci kenangan yang selama ini ia kunci rapat-rapat, meyakini tak ada yang berani mengetuknya.

Malam itu, saat langit menolak memunculkan bintang dan ombak terus berdebur tanpa henti, Maya sadar satu hal yang tak pernah mau ia akui: ia tak akan bisa berlari selamanya. Masa lalu bukan rantai yang bisa ia putuskan dengan sekadar menjauh, melainkan bagian dari dirinya yang harus ia peluk, bukan ia tinggalkan. Dan kini, di hadapan pria yang berdiri di ambang pintu dunianya itu, ia mendengar ketukan yang tak kasar, tak mendesak-hanya lembut namun tegas, memintanya untuk berhenti menutup telinga, untuk berhenti menahan napas terlalu lama, dan akhirnya... belajar untuk kembali bernapas.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 01 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Distance Between UsStories to obsess over. Discover now