Angin sore berhembus lembut menyapu rambut Lena saat ia melangkah keluar dari stasiun kereta di Paris. Kota ini tampak begitu indah, dengan bangunan-bangunan klasik yang berjejer rapi, lampu-lampu jalan mulai menyala, dan aroma roti segar yang tercium dari kejauhan. Lena menghela napas panjang, menatap ke depan dengan campuran rasa cemas dan antusias. Paris adalah impiannya sejak lama - kota tempat ia ingin menemukan inspirasi baru untuk foto-fotonya, tempat di mana ia bisa melupakan segala beban masa lalu dan memulai lembaran baru.
Lena memeluk tas kamera yang tersampir di bahunya. Sebagai fotografer yang baru saja memulai karier, ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah. Namun melihat pemandangan di hadapannya, rasa lelah akibat perjalanan jauh seketika hilang. Ia berjalan pelan menyusuri trotoar, sesekali berhenti untuk memotret bangunan ikonik atau orang-orang yang berjalan santai. Setiap sudut kota ini tampak begitu hidup, seolah setiap jengkalnya menyimpan kisah yang menunggu untuk diabadikan.
Tak terasa hari mulai gelap. Lena menyadari ia belum menemukan tempat makan, dan perutnya mulai mengerang. Ia melihat ke sekeliling dan menemukan sebuah kafe kecil yang tampak hangat dan nyaman di sudut jalan. Pintu kafe itu berwarna cokelat tua dengan jendela kaca yang memancarkan cahaya kuning lembut dari dalam. Ada tulisan "Chez Miu" di papan nama yang tergantung di pintu. Tanpa ragu, Lena melangkah masuk.
Begitu pintu terbuka, aroma harum masakan segar langsung menyambutnya - perpaduan rempah, mentega, dan sesuatu yang manis yang tak bisa Lena deskripsikan. Ruangan itu tidak terlalu besar, namun terasa begitu hangat dan nyaman. Di balik meja bar, terlihat seorang gadis sedang sibuk menata piring dengan gerakan yang luwes dan penuh perhatian. Cahaya lampu menyinari wajahnya, menonjolkan garis rahang yang tegas namun bibir yang selalu tersenyum ramah.
"Selamat datang," sapa gadis itu dengan suara yang lembut namun penuh semangat, saat ia menyadari kehadiran Lena. Matanya berwarna cokelat terang, bersinar cerah seperti bintang di langit malam. "Silakan duduk di mana saja yang kamu suka."
Lena memilih kursi di dekat jendela, meletakkan tas kameranya di meja, lalu mendongak. "Terima kasih," jawabnya pelan, merasa aneh karena detak jantungnya tiba-tiba berpacu lebih cepat hanya karena satu sapaan sederhana.
Gadis itu berjalan mendekati meja, membawa buku menu. "Aku Miu. Aku kerja di kafe ini sekaligus chef di dapur. Kamu baru saja sampai di Paris, ya? Terlihat dari tatapanmu yang seolah ingin memotret segala hal."
Lena terkejut, lalu tersenyum tipis. "Itu sejelas itu ya? Iya, baru saja tiba. Namaku Lena."
Miu tersenyum lebar, senyum yang begitu tulus hingga membuat suasana hati Lena menjadi ringan seketika. "Selamat datang di Paris, Lena. Semoga di sini kamu menemukan semua yang kamu cari - termasuk makanan yang enak."
Saat itu, di sebuah kafe kecil di jantung kota Paris, dua hati yang tak saling kenal baru saja dipertemukan. Lena belum tahu, bahwa langkah kakinya yang membawanya ke kafe itu bukan sekadar kebetulan - melainkan awal dari sebuah perjalanan cinta yang akan mengubah seluruh hidupnya.
.
.
.
.
.
Happy Reading
VOCÊ ESTÁ LENDO
Pertemuan Cinta di Paris
Romance• Lena - Fotografer muda berbakat, pendiam, peka terhadap detail, suka menangkap momen lewat lensa. Sedikit tertutup namun hatinya lembut, selalu mencari keindahan di setiap sudut kota. • Miu - Chef koki berbakat, ceria, hangat, penuh semangat. Suka...
