Angin malam Jakarta menampar kaca kantor di lantai 38 Gedung Bruschweiller Tower. Di balik meja mahoni yang luas, Dr. Lalice Bruschweiller, 27 tahun. menatap tumpukan berkas ekspansi kampus baru dan akuisisi rumah sakit pendidikan.
Nama itu tidak asing di kalangan akademisi maupun pengusaha.
Sebagai pewaris tunggal keluarga konglomerat pendiri Bruschweiller Yayasan, Lalice telah dididik sejak kecil untuk memimpin, bukan untuk dipimpin. Di usia yang terbilang muda, beliau telah dipercaya menjabat dua peran sekaligus.
Pertama, sebagai Dosen Hukum Bisnis dan Investasi Internasional di Elite Internasional University, universitas swasta milik yayasan keluarganya yang menjadi rujukan para pebisnis lintas negara.
Kedua, sebagai Pembina Bruschweiller Yayasan yang baru dilantik tiga bulan lalu. Sebuah posisi yang menempatkan beliau di meja yang sama dengan para komisaris, menteri, dan duta besar.
Di ruang kelas, beliau dikenal tajam, sistematis, dan tidak memberi ruang untuk kompromi. Di ruang rapat, beliau dikenal tenang, kalkulatif, dan selalu membawa data.
Bagi dunia, hidup Lalice adalah tentang hukum, pasal, dan investasi triliunan rupiah.
Namun tidak ada satu pasal pun dalam Kitab Undang-Undang yang mengajarkan bagaimana cara menghadapi Jennie Ruby Jane.
Satu tahun lalu, sebuah kontrak ditandatangani. Bukan kontrak kerja sama. Bukan MOU. Melainkan akta pernikahan.
Jennie Ruby Jane, 21 tahun, mahasiswi semester 5 Program Studi Hukum di Elite Internasional University. Dengan seragam yang sama, tetapi dengan dunia yang sangat berbeda.
Pernikahan itu terjadi bukan karena pertemuan di kafe, bukan karena surat cinta, melainkan karena perjodohan bisnis antar dua keluarga besar.
Satu tahun terakhir, Bruschweiller Yayasan mencanangkan ekspansi paling agresif dalam sejarahnya. Tiga kampus baru di luar Jawa, satu rumah sakit pendidikan bertaraf internasional, serta masuk ke sektor properti komersial. Total nilai investasi mencapai triliunan rupiah.
Namun ekspansi sebesar itu membutuhkan lebih dari sekadar modal. Ia membutuhkan izin. Ia membutuhkan dukungan politik. Ia membutuhkan jalan yang mulus di birokrasi.
Dan di titik itulah Keluarga Jade menjadi kunci.
Jade Group bukanlah perusahaan pendidikan. Kekuatan mereka berada di tiga pilar utama bangsa ini :
1. Pengembangan Properti dan Infrastruktur - mereka membangun distrik bisnis, kawasan elit, dan rumah sakit swasta di lima kota besar.
2. Energi dan Sumber Daya - mereka menguasai konsesi tambang dan memimpin perusahaan energi terbarukan.
3. Media dan Komunikasi - mereka memiliki stasiun televisi nasional dan portal berita dengan jangkauan puluhan juta pembaca.
Ayah Jennie-Jade Theo duduk di Dewan Pengusaha Nasional. Satu telepon darinya dapat mempercepat izin yang biasanya memakan waktu dua tahun.
Ibu Jennie-Michelle Halim, keluarga halim pemilik media. Satu headline darinya dapat menaikkan atau menjatuhkan reputasi sebuah institusi dalam semalam.
Di sisi lain, nama Bruschweiller adalah tiket emas bagi Jade Group untuk masuk ke dunia pendidikan elite tanpa harus membangun reputasi dari nol.
"Dua dinasti. Satu masa depan."
Begitulah para orang tua mereka merumuskan.
Dan Lalice serta Jennie, tidak diberi pilihan untuk menolak.
Jika Lalice dibesarkan dalam disiplin, maka Jennie dibesarkan dalam kemewahan tanpa batas.
Sebagai anak tunggal, Jennie Ruby Jane telah dimanja dan diratukan sejak ia lahir. Kakek, nenek, paman, bibi, hingga asisten rumah tangga, semuanya menaruh Jennie di pusat. Setiap tangisnya dijawab. Setiap kemauannya dipenuhi. Setiap kesalahannya dibenarkan.
Ia tidak pernah diajarkan tentang kata tidak boleh. Ia tidak pernah merasakan konsekuensi.
Akibatnya, ia tumbuh menjadi seorang perempuan muda yang bebas, impulsif, dan melakukan segala sesuatu sesuka hatinya. Aturan adalah sesuatu yang bisa dinegosiasikan. Konsekuensi adalah sesuatu yang bisa dibayar.
Kebiasaan itu ia bawa ke kampus.
Di Elite Internasional University, mereka memanggilnya Queen Bee.
Karena Jennie memang bertindak seperti ratu. Ia menggunakan lift khusus pimpinan. Ia memarkir mobil di area rektor. Ia meminta revisi nilai melalui pesan WhatsApp pukul 01.00 dini hari. Ia membuat acara kampus tanpa izin BEM, dan ketika ditegur, ia hanya menjawab, "Telfon aja sekretaris papi."
Dan tidak ada yang berani. Karena di balik nama Jennie Ruby Jane, ada Jade Group. Keluarga yang dapat membuat izin operasional kampus dicabut, atau membuat skandal yayasan menjadi berita utama nasional.
Satu tahun sudah pernikahan itu berjalan.
Satu tahun Lalice membagi dirinya. Pagi memimpin sidang Pembina. Siang mengajar kontrak internasional. Malam bernegosiasi dengan istrinya sendiri tentang jam pulang dan batas kartu kredit.
Kepala Lalice sering pusing tekanan darahnya sering naik karena Jennie adalah paradoks.
Di satu saat ia dapat meringkuk di pangkuan Lalice, bersikap imut seperti kucing dengan suara paling gemas. Di saat lain ia dapat bersikap seperti iblis.
Ini bukan pernikahan yang Lalice pilih. Ini adalah tanggung jawab yang harus ia menangkan karena yang dipertaruhkan bukan hanya ketenangan rumah tangganya tetapi masa depan Bruschweiller Yayasan, nama besar dua keluarga, ribuan mahasiswa, dosen, dan karyawan yang bergantung pada keputusan di atas meja itu.
Dan inilah kisah tentang seorang ahli hukum yang pada akhirnya harus mempelajari hukum yang paling sulit di dunia: hukum tentang manusia yang tidak bisa diatur dengan pasal.
-MY BOO-
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.