We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

BAB 1

245 26 8
                                        

NB : Original story milik Alessandra Hazard, mengandung harsh words! Mature and explicit content! Fantasy

.

.

.

















"Aku mau cerita, Ibu!"

Shayla menahan helaan napas, menatap wajah kecil putrinya yang penuh semangat. Anak perempuannya yang berusia lima tahun itu sangat menyukai dongeng dan menginginkan cerita baru setiap malam, tetapi dia sangat membenci pengulangan.

Shayla melihat sekeliling untuk mencari inspirasi, dan tatapannya berhenti pada majalah mengilap di atas meja nakasnya. Majalah gosip tentang keluarga kerajaan di planet-planet Inner Core adalah sedikit kesenangan rahasia (guilty pleasure) baginya, sesuatu yang sebenarnya tidak mampu dibeli Shayla tetapi tidak bisa ia tahan untuk tidak membelinya. Mungkin akhirnya majalah itu akan berguna untuk sesuatu.

Shayla mengambil majalah itu dan menatap pria di sampulnya. "Pada zaman dahulu kala, ada seorang pangeran yang sangat tampan," katanya dengan tatapan menerawang. "Dia begitu menawan sehingga kisah tentang ketampanannya menyebar bahkan sampai ke planet-planet Pinggiran (Fringe) di Serikat (Union). Dikatakan bahwa satu tatapan pada pangeran itu bisa merampas napas orang-orang-saking tampannya dia." Shayla mungkin sedikit melebih-lebihkan demi ceritanya, tetapi pangeran yang dimaksud memang benar-benar tampan luar biasa.

Putrinya langsung ceria. "Seperti apa wajahnya?"

Shayla tersenyum. "Dia tinggi, kuat, dan anggun, dengan wajah yang mustahil untuk diabaikan. Dia memiliki rambut cokelat bergelombang, mata hijau yang dalam, dan kulit yang begitu putih dan sempurna hingga tampak hampir bersinar." Shayla memutuskan untuk tidak menyebutkan bahwa pangeran itu memiliki bibir merah melengkung sensual yang membuatnya memikirkan hal-hal nakal dan tidak pantas untuk dongeng. Putrinya tidak perlu tahu tentang hal itu.

"Kedengarannya dia sangat cantik," kata Nina.

Shayla tersenyum pada putrinya. "Memang."

Nina kini tampak sangat bersemangat. "Lalu apa yang terjadi?"

"Pangeran itu dijodohkan dengan anak lain dari keluarga bangsawan ketika dia bahkan lebih muda darimu. Mereka akhirnya menikah dan sangat bahagia bersama. Mereka dianggap sebagai pasangan paling indah di galaksi." Shayla tersenyum sendu, mengingat artikel-artikel tentang pasangan itu, betapa serasinya mereka bersama. Meskipun sang pangeran pendamping (prince-consort) tidak sebanding dengan ketampanan sang pangeran-tidak ada seorang pun yang benar-benar sebanding, mungkin kecuali adik laki-laki pangeran-mereka adalah pasangan yang memukau. Mereka pernah menjadi Sang Pasangan, hubungan yang dicita-citakan oleh rakyat jelata antah-berantah seperti Shayla.

Shayla dulu mengoleksi semua artikel yang bisa ia temukan tentang pasangan kerajaan Calluvia itu, mengagumi kebersamaan mereka meskipun ia bahkan belum pernah melihat mereka secara langsung. Calluvia adalah planet di Inner Core, sangat jauh dari planet pedesaan terpencil tempat Shayla tinggal.

"Apakah mereka hidup bahagia selamanya?" tanya Nina.

Senyum Shayla memudar. "Tidak. Bertahun-tahun setelah pernikahan kerajaan, pangeran pendamping itu dibunuh oleh pemberontak-orang-orang yang sangat jahat." Masih sulit untuk dipercaya, bahkan berbulan-bulan kemudian. Sejujurnya, Shayla merasa sedikit patah hati karenanya, seolah sebagian masa kecilnya ikut mati. Dia menelan ludah. "Dan konon katanya sang pangeran tidak pernah tersenyum lagi setelah itu, hatinya membeku."

Putrinya yang masih kecil mengerutkan kening. "Itu cerita yang menyedihkan, Ibu! Aku tidak suka."

Shayla mencium keningnya dengan lembut. "Ibu tahu, sayang. Tapi tidak semua cerita memiliki akhir yang bahagia. Cerita itu tetap layak untuk diceritakan."

Once Upon a TimeStories to obsess over. Discover now