Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Two Daughters, Two Wounds: 1

51 7 0
                                        

×××

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

×××

Aku baru saja menyelesaikan ulangan harian pertama di semester genap ini, melihat kertas di atas meja membuat perutku mual. Di saat teman-teman sekelas sedang heboh menanyakan nilai satu sama lain, di pojok sini, aku justru merenung.

Tertera angka 75 dengan tinta merah di sudut atas kertas itu.

Aku terdiam dengan kepala yang penuh pertanyaan serta beragam skenario jika sudah di rumah nantinya.

Huruf-huruf di kertas nampak saling berputar ketika aku semakin tenggelam dalam pikiranku, seolah mengejek pencapaian yang tak bisa disebut kebanggaan. Justru malah menjadi aib bagi Mama.

Aku memijat pangkal hidung merasa lelah, ku singkirkannya kertas itu ke dalam laci ketika aku mulai merebahkan kepala di atas meja. Menutup mata sejenak untuk meredakan bisikan-bisikan setan di dalam kepala.

Belum ada satu menit aku menutup mata, bahu kananku sudah ditepuk oleh seseorang.

Dapat ku pastikan itu adalah teman sebangku.

"Oline, nilai lo berapa?" Tanyanya.

Aku terpaksa mengangkat kepala sedikit. "Tujuh lima, Reg."

Regie, mengangguk mengerti. "Ketebak, sih." Kemudian, gadis tinggi itu tertawa di bangkunya, membuat aku menatapnya jengkel.

Desas-desus kelas yang semakin ramai ketika bel istirahat berbunyi nyaring ke seluruh spiker sekolah membuat semuanya berbondong-bondong meninggalkan kelas, seperti segerombolan semut yang sama-sama menuju lokasi dimana sumber makanan ada di sana. Yaitu kantin.

Aku? Tak ada minat untuk ke sana, sangat malas jika harus saling berdesakan sembari berteriak meminta semangkuk bakso.

"Oi, nggak mau ke kantin?" Regie menghampiri ku, padahal gadis tinggi itu bisa saja langsung berlari keluar dari kelas.

Aku, yang sedang memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas lantas menoleh. "Enggak, lo aja." Gelengan kecil ku berikan untuk Regie.

"Lo bawa bekel, ya?" Regie kembali duduk di bangkunya.

Membuat aku menatapnya keheranan. "Enggak juga."

Aku melihat Regie manggut-manggut saja, namun gadis tinggi itu masih setia duduk, tanpa ada tanda-tanda jika ia akan beranjak dan mengisi perutnya.

"Kenapa masih di sini? Lo nggak ke kantin?" Tanya ku padanya.

"Nanti deh, nunggu lo laper." Regie menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangan.

Aku tentu mengernyit kebingungan. "Hah? Ngapain bocah? Ke kantin mah ke kantin aja sono! Nggak perlu nungguin gue." Aku mendorong bahu Regie pelan, seolah mengusirnya dari bangkunya sendiri.

Regie berdecak kesal, gadis itu menautkan kedua alisnya. "Bacot! Suka-suka gue, lah. Kampung!" Kemudian, langsung berdiri sebelum botol minum ku melayang mengenai kepalanya.

Two Daughters, Two WoundsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang