Kota Seoul tidak pernah benar-benar tidur.
Bahkan sebelum matahari terbit, jalanan sudah dipenuhi mobil. Taksi motor melaju kencang menerobos kemacetan sementara pedagang makanan menyiapkan sarapan untuk para pekerja kantoran. Papan reklame digital raksasa menerangi cakrawala dengan iklan warna-warni. Beberapa menampilkan merek mewah. Yang lain menampilkan politisi yang tersenyum menjanjikan masa depan yang lebih baik.
Satu wajah muncul lebih sering daripada wajah lainnya.
Kim Juun.
Ia menatap langsung ke kamera dengan mata tenang dan senyum percaya diri. Ia mengenakan setelan putih dengan pita biru kecil di kerahnya. Di belakangnya terpampang slogan yang tak mungkin lagi diabaikan.
"Masa Depan Baru Dimulai Hari Ini."
Orang-orang memandang papan reklame itu dengan perasaan yang berbeda.
Beberapa mengaguminya.
Beberapa tertawa.
Beberapa di antaranya mengumpat pelan.
Yang lain hanya membuang muka.
Semua orang tahu nama keluarganya.
Keluarga Kim telah mengendalikan politik selama hampir empat puluh tahun. Tiga perdana menteri, puluhan menteri, gubernur, dan pengusaha semuanya memiliki nama keluarga yang sama. Mereka dihormati oleh sebagian orang dan ditakuti oleh banyak orang. Setiap pemilihan membawa pertanyaan yang sama: Akankah Kim lain naik ke tampuk kekuasaan?
Kini giliran Juun. Ia baru berusia tiga puluh satu tahun, namun setiap surat kabar menyebutnya sebagai kandidat favorit untuk menjadi gubernur Seoul berikutnya. Banyak yang percaya ia sudah menang. Yang lain percaya pemilihan itu sudah tidak adil.
Di dalam markas kampanye Kim, suasananya sangat sibuk. Telepon berdering tanpa henti. Televisi menayangkan berbagai saluran berita secara bersamaan. Para staf bergegas dari satu ruangan ke ruangan lain sambil membawa map dan tablet. Kampanye tersebut hanya tersisa empat bulan. Setiap menit sangat berarti.
Juun berdiri di dalam ruang konferensi dengan kedua tangan bertumpu pada meja kayu panjang. Dia mendengarkan saat manajer kampanyenya berbicara. "Rating persetujuan kita masih unggul."
Penasihat lain mengangguk.
"Namun, pemilih muda masih tidak mempercayai kita. Mereka berpikir keluarga anda mewakili politik lama dan mereka yakin korupsi akan terus berlanjut."
Keheningan menyelimuti ruangan. Tak seorang pun ingin menjadi orang pertama yang menatap Juun. Akhirnya dia tersenyum. "Ada ide baru?"
Salah seorang penasihat berdeham. "Hanya ada satu ide."
Juun bersandar di kursinya. "Saya mendengarkan."
"Jika kita bisa mendapatkan dukungan nona Carmen untuk kampanye anda, opini publik akan berubah dalam semalam."
Ruangan kembali hening. Semua orang menunggu reaksi Juun. Dia mengangkat sebelah alisnya. "Aktris itu?"
"Ya. Selebriti terbesar Korea Selatan. Merek-merek mewah menyukainya, anak muda mempercayainya, dan dia tidak pernah terlibat dalam skandal apa pun." Seorang penasihat lain menambahkan dengan hati-hati, "Dia telah menolak setiap kampanye politik sebelumnya. Setiap satu pun."
Orang lain tertawa gugup.
"Justru karena itulah orang-orang mempercayainya."
Juun mengetuk meja dengan satu jarinya. Dia sudah tahu siapa Carmen. Semua orang tahu.
Carmen muncul di sampul majalah hampir setiap bulan. Merek-merek mewah berlomba-lomba untuk mengontraknya. Rumah mode internasional mengundangnya ke Paris, Milan, dan New York. Ia bisa mengenakan gaun putih sederhana dan membuatnya terlihat mahal. Ia jarang berbicara tentang politik.
ESTÁS LEYENDO
LOVE & WAR (Kalgukjju)
FanfictionCarmen & Juun (Kalgukjju) "Aku menjadi diriku sendiri saat bersamamu"
