We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

bab 1

14 0 0
                                        

The Lady and Her Prince

Bab 1: Pertemuan di Pinggir Sungai

Di wilayah selatan Kerajaan Kingsley Land, tak jauh dari perbatasan dengan Britania Raya, terbentang sebuah lembah hijau yang sejuk. Udara di sini selalu terasa segar, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang menyapa siapa saja yang melintas. Kingsley Land, sebuah negara kecil namun megah yang berdiri berdekatan dengan pesisir Inggris, memegang teguh tradisi masa lalu meski zaman terus berubah. Saat Inggris mulai meninggalkan berbagai kebiasaan lama - seperti pesta perkenalan bangsawan atau busana resmi yang kaku - rakyat dan keluarga kerajaan Kingsley Land justru memeluk erat warisan leluhur itu. Jika seseorang melangkah masuk ke negeri ini, rasanya seolah-olah sedang melangkah ke dalam dunia yang terjaga keindahannya seperti di kisah-kisah masa lalu, namun tetap hidup di zaman yang sama: ponsel cerdas ada di tangan, berita tersebar dengan cepat, dan keluarga kerajaan pun dikenal ramah serta dekat dengan rakyat maupun keluarga kerajaan Inggris.
Kerajaan ini dipimpin oleh The House of  Norringthon
Kerajaan ini memakai sistem monarki konstitusional
Raja hanya sebagai simbol
Elizabeth Rose Alveric adalah putri kedua dari Earl Louis dan Countess Alexandra. Ia bukan putri kesayangan yang menjadi permata di mata semua orang, namun kehangatan kasih sayang ayah, ibu, kakak, serta ketiga adiknya tetap menyelimuti hidupnya. Kakaknya bernama Richard, sementara adik-adiknya adalah Alexander, Andrew, dan Albert. Elizabeth tumbuh menjadi gadis yang lembut namun teguh pendiriannya, cerdas dan tenang.

Suatu sore yang cerah namun sejuk, Elizabeth berjalan menyusuri tepian sungai yang jernih di dekat kediaman keluarganya. Air sungai itu mengalir tenang membelah bebatuan halus, memantulkan cahaya matahari yang menyelinap lewat celah dedaunan. Belum lama ia melangkah, terdengar suara cipratan air diikuti desahan napas yang tersengal. Elizabeth bergegas mendekat dan melihat seorang pemuda tampan dengan pakaian yang basah kuyup sedang berusaha menepi dari arus. Tanpa berpikir dua kali, ia mengulurkan tangan yang segera disambut genggaman kuat. Bersama-sama mereka menepi ke rumput yang lebih tinggi.

Pemuda itu menatapnya, napasnya masih teratur namun matanya memancarkan rasa syukur yang mendalam.

"Thank you. I lost my step and slipped - I would have been in real trouble if you hadn't come along."
(Terima kasih. Aku terpeleset dan jatuh. Aku pasti akan dalam kesulitan besar seandainya kau tidak lewat.)

Elizabeth tersenyum ramah. "Kau baik-baik saja? Arusnya bisa cukup kuat di bagian ini."

Pemuda itu mengangguk sambil mengusap wajahnya. Ia tampak berusia sekitar dua puluh tujuh tahun, dengan pembawaan yang tenang namun berwibawa.

"I am now, thanks to you. I'm Julian. Julian William Edward George."
(Aku baik-baik saja sekarang, berkatmu. Namaku Julian. Julian William Edward George.)

"And you are?"
(Dan kau siapa?)

"I am Elizabeth. Elizabeth Rose Alveric." jawab gadis itu lembut.
(Aku Elizabeth. Elizabeth Rose Alveric.)

Dari hari itu, pertemuan mereka menjadi awal persahabatan yang tulus. Julian sering kembali ke lembah itu - bukan karena tugas, melainkan karena ia rindu melihat wajah Elizabeth. Elizabeth pun tak pernah menyembunyikan siapa dirinya, dan ia pun tahu sejak awal bahwa Julian adalah Pangeran Julian, Putra Mahkota Kerajaan Kingsley Land. Yang memiliki gelar Prince of Oakhaven gelar untuk putra mahkota di kerajaan itu Namun gelar itu tak menjadi hal yang mengubah pandangannya terhadap pemuda itu. Yang ia lihat hanyalah seorang pemuda yang tulus, cerdas, dan memiliki hati yang baik.

Hubungan mereka tumbuh perlahan. Ketika Elizabeth kesulitan memahami beberapa bagian pelajaran sejarah dan bahasa, Julian dengan sabar membantunya. Jam demi jam mereka habiskan bersama, membaca, berdiskusi, atau sekadar duduk di tepi sungai sambil bercerita tentang banyak hal. Kedekatan itu berubah menjadi kasih sayang yang mendalam, dan tak lama kemudian mereka berjanji untuk saling mendampingi.

Selama tiga tahun penuh, mereka saling mengisi hari. Julian yang berusia 26 tahun - baru saja menyelesaikan masa tugasnya di lapangan Angkatan Laut Kerajaan pada bulan Juni yang lalu - kini memasuki masa tugas seremonial yang lebih ringan. Namun hal itu belum diketahui Elizabeth. Yang ia pahami hanyalah bahwa Julian adalah seorang Komandan Angkatan Laut, dan tugas-tugasnya sering kali memanggilnya pergi ke tempat yang jauh.
Sebagai informasi dia semasa kuliah mengambil yang dinamakan Gap year di mana liburan sebentar sebelum masuk kuliah tapi waktu liburan ini dimanfaatkannya untuk latihan militer Angkatan Laut
Dia benar-benar fokus untuk militer Karena kerajaan ini mengharuskan begitu walaupun ini bukan zaman perang lagi
Suatu hari, Elizabeth menyampaikan kekhawatirannya dengan suara yang pelan namun tegas.

"Julian, I know your duty is important. But I cannot bear the thought of waiting endlessly, wondering if you will return safely. I do not want to spend my days crying over you."
(Julian, aku tahu tugasmu itu penting. Namun aku tak sanggup membayangkan menunggu tanpa kepastian, bertanya-tanya apakah kau akan pulang dengan selamat. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku hanya untuk menangis karena khawatir akan keselamatanmu.)

Hati Julian terasa perih mendengar itu. Ia ingin sekali menjelaskan bahwa sebagai pewaris takhta yang telah menyelesaikan tugas lapangannya, beban tugasnya justru menjadi jauh lebih ringan dan lebih banyak di istana. Namun ia belum sempat mengatakannya. Rasa takut kehilangan Elizabeth, ditambah dengan berbagai desas-desus dan tekanan yang datang kepadanya, perlahan melemahkan hatinya. Dalam kebingungan yang mendalam, Julian mulai merasa bahwa pergi menjauh adalah cara terbaik untuk melindungi gadis yang dicintainya.

Saat hari perpisahan itu tiba, Julian berdiri di hadapan Elizabeth dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya berteriak menolak, namun ia memaksakan diri untuk berpamitan seolah-olah ia harus pergi untuk waktu yang lama tanpa kepastian kapan akan kembali.

"Elizabeth... believe me when I say this is the hardest thing I have ever had to do. Every part of me wants to stay by your side. But I must go."
(Elizabeth... percayalah bahwa ini adalah hal tersulit yang harus kulakukan. Seluruh jiwaku ingin tetap di sisimu. Namun aku harus pergi.)

"Please wait for me, even if you do not know when I shall return. You are my first love, Elizabeth. My last love. And the only love I shall ever know for all of my life."
(Tolong tunggu aku, meskipun kau tak tahu kapan aku akan kembali. Kau adalah cinta pertamaku, Elizabeth. Cinta terakhirmu. Dan satu-satunya cinta yang akan kukenal seumur hidupku.)

Julian melangkah pergi meninggalkan Elizabeth yang berdiri terpaku sendirian di tepi sungai tempat mereka pertama kali bertemu. Di dalam hatinya, Julian terus membatin dengan penuh kesedihan: "Andai saja kau tahu... betapa beratnya langkah ini bagiku. Namun demi keselamatanmu, aku harus pergi. Kau adalah cinta pertamaku, cinta terakhirmu, dan cinta selamanya. Tak akan ada yang bisa menggantikan tempatmu di hatiku, tak peduli berapa lama waktu berlalu."

Elizabeth ditinggal sendirian, menatap kepergiannya dengan hati yang terluka namun tetap berharap. Ia belum tahu bahwa sebenarnya tugas Julian kini justru berada di dekatnya. Ia belum tahu bahwa Julian terus menunggunya, setiap hari, berharap waktu segera membawa mereka kembali bersama.

Sementara itu, hari-hari berjalan menuju pesta perkenalan bangsawan yang akan datang - sebuah acara yang sangat dijaga ketat syaratnya di Kingsley Land. Siapa pun yang telah bertunangan atau telah mengenakan cincin pertunangan di jarinya, tidak diperbolehkan ikut serta. Menurut tradisi, mereka sudah dianggap telah dipilih dan dimiliki oleh orang lain. Elizabeth pun bermimpi suatu malam: dalam mimpinya, pesta itu berakhir kacau karena salah seorang sepupunya berusaha merebut perhatian semua orang - dan entah mengapa, mimpi itu membuatnya merasakan kehadiran seseorang yang hilang, seolah-olah mimpi itu adalah pertanda bahwa kisahnya dengan Julian belum benar-benar berakhir.

Apakah lanjutkan ke bagian mimpi Elizabeth dan suasana menjelang pesta perkenalan? 😊

Brigerton ModernStories to obsess over. Discover now