BAGIAN 14

444 24 0
                                        

arthur terdiam membeku di tempatnya, terjebak dalam kebingungan luar biasa tak kala menyaksikan elio merosot lemas dengan napas memburu yang terdengar putus asa. efek obat perangsang itu sukses melumpuhkan kendali tubuh pemuda di hadapannya, membuatnya tampak begitu rapuh sekaligus tersiksa oleh gelombang panas yang tak diundang

​"ka... ahkh... badan elio panas... tolong..." rintih elio dengan suara bergetar hebat, sarat akan siksaan terselubung yang berhasil meremukkan pertahanan batin siapa pun yang mendengarnya, terutama arthur yang selama ini selalu mati-matian melindunginya dari marabahaya luar

​arthur melihat setiap sudut ruangan dengan tatapan tajam dan penuh curiga. pandangannya akhirnya terkunci pada sebuah wadah kecil mencurigakan yang tergeletak tersembunyi di dekat sudut sofa, bukti nyata niat busuk seseorang yang sukses membuat urat urat di pelipis arthur berdenyut hebat

​"sial! harusnya gue sadar ada yang ga beres dari tamu tadi!" geram arthur, rahangnya mengeras sempurna menahan amarah yang membakar dada bagaikan bara api neraka

​"ka... tolong elio..." panggil elio sekali lagi dengan nada kian melemah, jemarinya mencengkeram erat permukaan lantai seolah mencari tumpuan terakhir di tengah kesadarannya yang hampir runtuh

​tanpa buang waktu, arthur langsung membopong tubuh elio ke dalam kamar tidur, membaringkannya perlahan di atas kasur yang empuk. namun, tepat saat arthur berniat menarik diri untuk mencari pertolongan, tangan elio secara refleks terulur dan mencengkeram pergelangan tangannya

​"ka jangan pergi... tolongin elio... panas..." bisik elio lirih dan memilukan, manik matanya yang berair menatap penuh permohonan agar tak ditinggalkan sendirian

​arthur menelan ludah susah payah, merasakan tenggorokannya mendadak kering. ia mencoba mempertahankan kewarasannya, bahkan menancapkan kuku jarinya ke telapak tangan sendiri demi mengalihkan sensasi menggelitik yang mulai merongrong akal sehat

​"elio... aku cari bantuan atau obat dulu, ya? tunggu sebentar di sini," bujuk arthur dengan suara tertahan, melawan getaran yang mengkhianati ucapannya sendiri

​"ngga... jangan pergi... tolong..." tangis elio tertahan, tubuhnya menggeliat gelisah di atas seprai, tak kuasa menahan siksaan yang mengalir di aliran darahnya

​"elio... ada orang jahat yang sengaja ngasih elio obat perangsang. biar aku cari penawarnya, tahan sebentar..."

​"elio ga kuat, ka... lakuin aja... tolong..." rintih elio sambil menarik ujung kemeja arthur, menunjukkan keputusasaan

​arthur menatap manik mata elio yang telah menggelap sempurna oleh kabut hasrat buatan. dengan suara serak, ia memastikan satu hal terakhir

​"elio... apa elio paham apa yang elio maksud?"

​"apapun itu... lakuin aja... elio udah ga kuat... tolong, ka..." jawab elio tanpa ragu, kepasrahan telak terpancar dari tatapannya

​pertahanan arthur runtuh seketika. binar keraguan lenyap, berganti kepekatan hasrat gelap yang tak lagi terbendung

​ia mendekatkan wajah, lalu menangkup pipi elio yang membara sebelum menempelkan bibir mereka. ciuman itu bermula lembut, upaya terakhir memberi ketenangan. namun begitu elio membalas tautan itu dengan isakan putus asa, kendali arthur hancur lebur. ciuman hangat tersebut bertransformasi menjadi liar, menuntut, dan penuh dominasi

​kamar tidur itu berubah, udara mendadak padat, dipenuhi deru napas berkejaran dan desah tertahan dari bibir elio. sentuhan arthur berubah menjadi cengkeraman erat penuh penguasaan di setiap jengkal tubuh pemuda di bawahnya

​"ka... ah..." panggil elio terputus putus di sela ciuman liar itu, jemarinya meremas kain kemeja arthur, menarik tubuh arthur agar kian rapat tanpa jarak

​arthur memejamkan mata sejenak, membiarkan akal sehatnya kalah oleh kehangatan tubuh elio. malam itu, sentuhan tangan mereka kian berani menjelajah, tertulis lewat keringat dan desahan panjang yang membakar habis segala norma

​elio melengkungkan punggung saat tangan besar arthur memberi sensasi nyata yang meredakan panas, sekaligus melambungkan kenikmatan ke tingkat tertinggi

​"lebih... ka... elio mohon..." bisik elio di antara isak tangis kenikmatan, menyerahkan diri seutuhnya tanpa secercah pun niat menolak

​arthur menggeram rendah, suaranya serak dan mengintimidasi. ruangan itu menjadi saksi pelampiasan hasrat yang begitu intens dan mendalam di antara dua pria yang terikat emosi kuat. gerakan mereka padu dalam irama biologis yang mendesak, menciptakan simfoni malam yang panjang

​ketika gelombang kenikmatan itu akhirnya menghantam mereka bersamaan dalam kepuasan menggelegar, napas keduanya terengah-engah panjang. arthur merebahkan tubuh di sebelah elio, menarik pemuda itu ke dalam dekapannya yang hangat dan protektif, memastikan perlindungan itu takkan berkurang hingga pagi menjemput

next🖤

OWNED BY PETALSHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora