We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Part 1: Pulang

98 10 0
                                        

Salju turun makin lebat, menabrak kaca jendela berbingkai hitam di lantai empat gedung firma arsitektur itu dengan suara konstan yang pelan. Di luar, Helsinki sudah sepenuhnya berubah menjadi kota mati yang tertutup selimut putih tebal. Suhu anjlok hingga minus delapan derajat celcius. Namun, di dalam ruangan dengan lampu berpendar hangat itu, suhu justru terasa gerah, setidaknya bagi perempuan yang sejak enam jam lalu belum beranjak dari meja gambarnya.

Namtan Tipnaree memijat pangkal hidungnya keras-keras. Matanya perih. Garis-garis rumit di atas kertas cetak biru raksasa yang membentang di mejanya mulai terlihat tumpang tindih. Ia meletakkan pensil mekaniknya, lalu menghela napas panjang sampai bahunya merosot.

Malam itu, penampilannya sama sekali tidak terlihat seperti ibu-ibu pada umumnya. Namtan mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung asal hingga siku, memamerkan urat-urat halus di lengan bawahnya. Sebuah vest rajut berwarna cream membalut tubuhnya, dipadukan dengan celana bahan berwarna senada yang jatuh pas di kaki jenjangnya. Dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka. Rambutnya diikat rapi tapi mulai berantakan di beberapa sisi. Sangat maskulin, sangat rapi, tapi entah bagaimana justru mempertegas gurat cantik di wajahnya yang sedang lelah.

"Nuay," panggil Namtan serak, suaranya nyaris tenggelam oleh dengung mesin pemanas ruangan.

Hening.

Namtan menoleh ke arah sofa panjang di sudut ruangan. Asisten pribadinya itu terbaring dengan posisi absurd—kepala menggantung di sandaran lengan, mulut sedikit terbuka, dan jaket tebal menutupi separuh wajahnya.

Namtan berdecak pelan. Ia meraih penghapus karet dari mejanya dan melemparnya tepat ke dahi Nuay.

"Aduh!" Nuay tersentak bangun, gelagapan mengusap dahinya sambil menatap berkeliling dengan panik. "Gempa? Bos, gempa?"

"Gempa di Helsinki dari mana ceritanya," sahut Namtan datar. Ia bersandar di kursinya, melipat tangan di dada. "Lu kalau mau tidur di kasur lipat sana. Ntar leher lu kecengklak, gue yang repot bayarin fisioterapi."

Nuay menguap lebar, mengusap matanya yang berair, lalu melirik jam dinding. Matanya melotot. "Gila lu ya. Ini udah jam delapan malam. Lu mau nginep di sini? Gue sih ngga masalah ya, tapi itu anak lu dari tadi anteng banget, gue curiga dia lagi makanin krayon lagi."

Mendengar itu, Namtan langsung menegakkan tubuh. Pandangannya menyapu area karpet tebal di dekat rak buku. Di sana, seorang anak kecil berusia empat tahun sedang tengkurap. Rambut sebahunya sedikit berantakan. Ia mengenakan overall denim kecil dipadu sweter kuning cerah. Sangat tomboy, sangat mewarisi gaya santai ibunya.

"Lunar," panggil Namtan lembut. Nada suaranya berubah drastis, tidak sedingin saat bicara dengan Nuay.

Anak kecil berpipi gembil itu mendongak. Di tangannya ada krayon warna merah, dan di wajahnya ada sedikit coretan yang entah bagaimana bisa sampai ke sana.

"Tip!" Lunar berseru girang, bangkit berdiri dan berlari kecil menghampiri meja kerja ibunya. Ia memamerkan selembar kertas yang penuh dengan coretan abstrak. "Liat, Tip! Umah!"

Namtan tersenyum. Rasa penat yang sejak tadi bersarang di pundaknya perlahan menguap. Ia menggeser kursinya mundur, lalu menepuk pahanya. Tanpa disuruh dua kali, Lunar memanjat naik ke pangkuan Namtan, menyamankan diri di pelukan kemeja putih ibunya yang beraroma kopi dan parfum musk.

"Ini rumah?" tanya Namtan pura-pura takjub, menunjuk coretan-coretan tak berbentuk itu.

"Iya! Umah Tip! Ini Tip, ini Unal, ini Uay!" Lunar menunjuk tiga manusia lidi dengan penuh semangat. Jari telunjuknya yang mungil mengetuk-ngetuk kertas. "Tip na dinesawlus."

DON'T STOP DOING WHAT YOU'RE DOING Stories to obsess over. Discover now