Bab 1

29 3 0
                                        

Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel menjadi satu-satunya suara yang menemani perjalanan panjang Salsa Maheswari menuju Yogyakarta.

Duduk di dekat jendela, Salsa memandang pemandangan yang terus bergerak di luar sana. Sawah, rumah-rumah kecil, dan langit sore yang mulai berubah warna terlihat begitu tenang.

Berbanding terbalik dengan hatinya.

Sudah hampir dua minggu sejak hidupnya berubah.

Empat tahun bersama seseorang yang ia pikir akan menjadi akhir dari semua pencarian, ternyata harus selesai begitu saja.

Tidak ada pengkhianatan.

Tidak ada pertengkaran besar.

Hanya sebuah kalimat yang sampai sekarang masih terngiang di kepalanya.

"Sal, mungkin kita memang harus berhenti sampai di sini. Aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini."

Kalimat sederhana yang mampu menghancurkan sesuatu yang sudah mereka bangun selama empat tahun.

Salsa menghela napas pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke kursi.

"Kenapa harus Jogja?" gumamnya pelan.

Pertanyaan itu bahkan tidak bisa ia jawab sendiri.

Mungkin karena Jogja bukan tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Tidak ada jalan yang pernah mereka lewati bersama.

Tidak ada tempat makan favorit yang mengingatkannya pada mantan kekasihnya.

Tidak ada sudut kota yang membuatnya berharap seseorang akan datang kembali.

Salsa hanya ingin pergi sebentar.

Bukan melupakan.

Karena ia tahu, melupakan seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama empat tahun tidak semudah membuang foto lama.

Ia hanya ingin belajar bernapas tanpa merasa sesak.

Sementara itu, beberapa kilometer dari tempat Salsa berada, seorang pria sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi kecil di sudut Kota Yogyakarta.

Namanya Lian Pratama.

Sudah tiga bulan ia tinggal di kota itu.

Jauh dari Jakarta.

Jauh dari pekerjaan yang membuatnya lupa bagaimana caranya bahagia.

Dan jauh dari seseorang yang dulu selalu ia pikir akan menemaninya sampai tua.

Lian masih ingat hari ketika ia menerima undangan pernikahan itu.

Bukan undangan biasa.

Undangan dari perempuan yang selama enam tahun menjadi tempat pulangnya.

Lucunya, ia tidak menangis saat melihat nama perempuan itu berdampingan dengan nama pria lain.

Ia hanya merasa kosong.

Seolah ada bagian dari dirinya yang pergi tanpa sempat berpamitan.

Akhirnya Lian memilih meninggalkan Jakarta.

Bukan karena membenci kota itu.

Tapi karena terlalu banyak hal yang membuatnya sulit sembuh.

Di Jogja, ia belajar menikmati hal-hal kecil.

Minum kopi tanpa terburu-buru.

Berjalan tanpa tujuan.

Duduk melihat matahari terbenam tanpa memikirkan siapa yang dulu ia tunggu.

"Masih mikirin masa lalu?" suara seseorang mengagetkannya.

Lian menoleh.

Paul, sahabatnya, berdiri membawa dua gelas kopi.

"Lo kalau datang cuma buat ngomong itu, mending pulang," jawab Lian datar.

Paul tertawa kecil lalu duduk di depannya.

"Tiga bulan di Jogja, muka lo masih kayak orang kehilangan dompet."

"Lebih baik kehilangan dompet."

"Kenapa?"

"Dompet masih bisa dicari."

Paul terdiam.

Untuk pertama kalinya ia tidak punya jawaban.

Karena ia tahu, Lian bukan sedang mencari seseorang.

Lian sedang mencari dirinya yang hilang setelah ditinggalkan.

Malam mulai turun ketika kereta yang membawa Salsa akhirnya memasuki Stasiun Yogyakarta.

Salsa menarik koper kecilnya keluar dari kereta.

Langkahnya pelan.

Tidak tahu apa yang akan terjadi selama berada di kota ini.

Tidak tahu apakah ia akan menemukan kebahagiaan.

Atau hanya menemukan alasan baru untuk merasa sedih.

Yang ia tahu, untuk pertama kalinya setelah lama, ia memilih dirinya sendiri.

Sementara di tempat lain, Lian juga tidak tahu bahwa seseorang akan datang ke kota yang selama ini ia jadikan tempat bersembunyi.

Seseorang yang sama-sama membawa luka.

Dan tanpa mereka sadari...

Kota yang sama akan mempertemukan dua orang yang sedang berusaha menemukan kembali dirinya.

Kita pernah HilangVerhalen om door geobsedeerd te raken. Ontdek het nu