Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

BAGIAN 1

327 2 0
                                        

Masa remaja memang penuh tantangan, setidaknya itulah yang Zikri rasakan. Sejak perceraian tiga tahun lalu, Rahma menjadi lebih temperamental. Di usia lima puluh lima tahun, ia pernah berkata dengan nada lelah saat Zikri bertanya mengapa tidak mencari pasangan lagi, "Mama nggak mau ngurus suami lagi."

Hidup Rahma mungkin tak semulus yang orang bayangkan. Menikah di usia tiga puluh lima dengan seorang duda, sepertinya hanya untuk menjadi pengurus rumah tangga. Pertengkaran demi konflik mewarnai hari-hari mereka hingga akhirnya Rahma memilih berpisah. Kini, pekerjaannya hanyalah petugas perpustakaan daerah, sesekali mengurus kebun, atau aktif dalam kegiatan ibu-ibu. Ketidakbahagiaan masa lalu itu membuatnya menjadi overprotektif terhadap Zikri.

Kenyataan itu membuat Zikri memilih kuliah di kota yang sama saja. Di rumah, kepalanya sering pusing. Hal kecil bisa memicu kemarahan Rahma. Kalau Zikri membantah, ibunya akan berbicara. Akhirnya, ia selalu mengalah demi ketenangan.

Zikri sendiri merasa minder. Wajahnya biasa saja, berkacamata, dan belum pernah pacaran karena kondisi keluarganya. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Rahma, sementara tubuh ibunya agak montok; pakaian apa pun yang dikenakan seolah tak mampu menahan bentuk payudaranya.

Suatu pagi, Zikri merasakan sakit di testisnya. Awalnya ringan, tapi makin lama makin menyiksa. Malamnya, ia mencoba masturbasi sampai keluar. Rasanya masih sakit, meski tidak separah sebelumnya. Bingung karena ereksinya tak kunjung reda, ia melakukannya lagi hingga tiga kali sampai rasa sakit itu hilang. Anehnya, cairannya seolah tak pernah habis.

Beberapa minggu berlalu, ketakutan mulai menghantuinya. Jangan-jangan ada yang tidak beres. Ke dokter? Dia malu. Membicarakan hal seksi dengan Rahma yang sangat konservatif? Mustahil. Tapi ini soal kesehatan. Ia tidak mungkin curhat pada teman-temannya.

Malam itu, suasana ruang tengah hening. Zikri pura-pura membaca majalah, sementara Rahma asyik berbincang. Televisi mati—Rahma memang melarangnya menonton TV di luar kamar tidurnya sendiri.

Zikri menelan ludah. Jantungnya berdebar. "Mah... Zikri mau bicara."

Rahma tidak langsung menoleh. "Apa, Sayang?"

"Tapi... Zikri malu, Mah."

"Bicara yang benar," suara Rahma berubah tegas, jarum rajutnya berhenti sejenak.

"Ini... agak pribadi, Mah."

Rahma meletakkan rajutannya di pangkuan. Tatapannya serius menyelidik. "Kamu punya masalah sama gadis?"

"Bukan, Mah. Lebih ke... kesehatan pribadi."

"Bicara aja, nggak usah malu." Rahma kembali mengangkat rajutannya, berusaha terlihat santai, meski matanya tetap waspada.

Zikri menunduk, menatap lantai. Suaranya nyaris berbisik. "Ini, Mah... Ee... kemaluan Zikri..."

"Iya, kenapa?" Nada Rahma tetap datar, tapi ada kelembutan yang tak terduga di sana.

"Testis Zikri..."

"Iya." Suara itu lembut. Zikri menghela napas lega yang tertahan. Hm, tidak disangka reaksinya begini.

"Testis Zikri sakit, Mah. Zikri takut kena penyakit."

Rahma terdiam. Jarum rajutnya benar-benar berhenti kali ini. Keheningan menggantung berat sebelum ia bertanya, suaranya rendah dan hati-hati, "Apa kamu main sembarangan sama wanita... terus tertular sesuatu?"

"Enggak, Mah! Zikri nggak pernah gituan!" bantah Zikri cepat-cepat, wajahnya memanas.

Rahma diam sebentar, mencerna jawaban anaknya. "Sudah berapa lama sakitnya?"

"Semingguan... kira-kira."

"Seminggu?" Alis Rahma bertaut, nadanya naik sedikit. "Kenapa nggak bilang dari kemarin?"

MAMAH YANG BAIK HATIHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora